Problem Pendidikan tidak Mampu Membentuk Peserta Didik menjadi Kreatif

0 46

Di beberapa kesempatan, ketika kami melakukan perjalanan, kemanapun itu tujuannya, selalu muncul filosofi hidup yang unik. Perjalanan kehidupan yang mengissyahkan betapa, pada akhirnya, kebanyakan kita berada dalam kubangan yang sesungguhnya sederhana, namun dibikin sulit oleh diri kita sendiri. Sebut misalnya, kami sering bertemu dengan jalan berbelok tajam, tanjakan yang curam, jalan berlubang, atau pertigaan dan perempatan yang belum ada lampu merah.

Di tempat-tempat seperti itu, kami bertemu dengan banyak orang. Mereka setidaknya tiga atau lebih anak-anak muda dan kekar secara fisik. Aktivitas mereka sederhana. Yakni memarkirkan mobil, menyetopnya atau meminta untuk berhati-hati. Setelah itu, sebagian di antara mereka, menyediakan semacam “jaring” untuk mengumpulkan kepingan uang receh.

Tak urung ketika uang receh itu diberikan, mereka bilang: “Terima kasih um, pak, tante, A atau sebutan lainnya. Harus juga dicatatkan, ternyata tidak sedikit pula yang tidak membayar. Tetapi, mereka kelihatan ikhlash. Tidak marah, saat sebagian kendaraan yang dia bantu, tidak memberinya upah, sepeserpun.

Semakin hari, tempat-tempat seperti itu, berubah menjadi lahan atau tempat mencari nafkah mapan yang cukup serius. Hampir tidak ada jalan dengan gambaran di atas, yang tidak menyediakan suasana seperti saya gambarkan tadi. Selidik punya seledik, ternyata pendapatan mereka memang cukup lumayan pantastik. Tidak kurang dari minimal 200 000,00 rupiah mereka dapatkan per orang setiap harinya. Jika diekuivalensi, minimal berarti rata-rata 6 juta rupiah per bulan per orang.

Jualan Kaki Lima

Di sisi lain, ketika kami juga berhenti pada titik tertentu, kami sengaja memilih istirahat di tempat jualan kaki lima atau apapun istiilah yang tepat diberikan untuk itu. Hal yang sama seperti tukang parkir itu, kami temukan.Ai?? Ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah tua dari mereka yang jualan, tampak begitu ikhlash mengais rezeki. Mereka kelihatan asyik melayani para pembeli, meski yang mereka jajakan hanya goreng-gorengan, goreng pisang, kopi pahit, rokok atau yang lainnya.

Tempat-tempat yang mereka gunakan memang terkesan kotor dan kumuh. Jauh dari kesan bersih. Tetapi di tempat seperti itulah, pengunjung tetap ramai.Ai??Tempat jualan seperti itu, juga ternyata semakin hari semakin banyak. Selidik punya selidik, ternyata pendapatan mereka, bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan tukang parkir di jalan berbelok tadi.

Tentu mereka, tukang parkir dan pedagang kaki lima, telah memberi manfaat kepada banyak orang. Mereka juga pasti mendapat pahala di sisi Tuhan. Mengapa? Karena melalui mereka perjalanan bukan saja menjadi lancar, tetapi, juga menjadi relatif aman dan nyaman. Warung yang mereka sajikan juga sama. Tidak semua pengendara kendaraan; roda dua dan empat, memiliki bekal yang cukup untuk meneruskan perjalanannya.

Di warung merekalah, pengendara dapat istirahat dan belanja ala kadarnya, yang penting perut kenyang. Di samping tentu, mereka dapat menafkahi anak-anak mereka dan mendidiknya dari uang hasil pekerjaan mereka secara halal.

Pertanyaannya, mengapa banyak di antara kita, yang sulit menafkahi anak dan keluarganya. Kesulitan yang kita hadapi itu, dipenuhi dengan cara yang kadang tidak produktif baik dalam pendekatan kemanusiaan maupun keagamaan. Banyak di antara kita yang justru menjadi terjebak melakukan langkah-langkah blunder yang merugikan sisi kemanusiaan lain. Hanya demi gengsi dan status sosial, segenap “keburukan” ekonomi kita ditutup oleh sesuatu yang tidak produktif tadi.

Semua Memiliki Harga

Lalu di mana masalah yang sesungguhnya? Apa yang menyebabkan kita menjadi demikian rumit menghadapi sesuatu?Ai??Jawaban atas persoalan ini, ternyata terjadi karena kita merasa bahwa semua hal memiliki harga khusus, dengan kekhususan untuk manusia khusus juga. Misalnya, kita menganggap bahwa menjadi pedagang kaki lima hanya diperuntukkan untuk mereka yang tidak pernah sekolah. Apalagi menjadi tukang parkir di simpang jalan.

Tentu saya tidak merekomendasikan mereka yang menjadi sarjana [S1, S2 dan S3] untuk hanya menjadi penjual kaki lima, apalagi menjadi tukang parkir. Tetapi, secara sosiologis, fakta menunjukkan bahwa kaum kita yang terdidik itu, belum tercerahkan secara utuh atas pengembangan potensi yang kita miliki.

Mereka yang terdidik, seringkali malah menjadi beban baru bukan hanya bagi keluarganya, tetapi, juga bagi masyarakat secara luas. Menurut saya, hal ini, patut menjadi bahan renungan penting.

Kita yang terdidik ini, kadang kalah kreatif oleh mereka yang tidak terdidik. Jika situasi ini dibiarkan, maka, masa depan kita sesungguhnya tidak sedang mencerahkan bangsanya. Padahal salah satu tujuan pendidikan nasional adalah: “membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang kreatif dan mandiri”. Semakin tinggi pendidikan seseorang, kemandirian itu, malah semakin jauh dari panggang api. Padahal seharusnya tidak seperti itu,

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.