Problem Sosial Kemanusiaan: Fenomena Agama dan Kekerasan di Indonesia

0 151

Fenomena kehidupan bangsa akhir-akhir ini menampakkan adanya tragedi kemanusiaan yang tidak kunjung tuntas. Entah karena ditutup-tutupi, diperdagangkan dengan konsesi-konsesi politik-ekonomi, ataupun karena intervensi pihak-pihak yang dominan. Beberapa peristiwa misalnya, pembunuhan marsinah dan wartawan udin, pembantaian tanjung priok dan lampung, dan lain sebagainya.

Semua kasus tersebut raib begitu saja tanpa penyelesaian yang tuntas dan transparan. Demikian juga beberapa tragedi kemanusiaan semenjak gerakan reformasi bergulir seperti tragedi Mei 1998. Trisakti, Semanggi, serta macetnya pengusutan praktik Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) dan pelanggaran HAM mulai rezim Soeharto hingga era Joko widodo. Belum juga menunjukkan kemajuan yang berarti.

Belum lagi kasus-kasus yang menimpa perempuan berkaitan dengan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang teraniaya akibat ulah para majikan yang tidak bertanggung jawab. Kerentanan buruh migran perempuan, kesengsaraan perempuan pengungsi hingga kekerasan dalam rumah tangga. Seperti kasus kekerasan yang menimpa Siti Nur Jazila (Lisa) oleh sang suami yang kemudian menjalani operasi wajah secara total (face off). Bahkan secara umum kekerasan terhadap perempuan mengalami peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.[1]

Merespons Problem Sosial Kemanusiaan

Cara pandang mayoritas masyarakat dalam merespons problem sosial-kemanusiaan cenderung “apologetik”. Membela diri dengan jalan mengalihkan persoalan kepada Tuhan atau “penguasa” melalui suatu proses mistifikasi. Membawa persoalan aktual yang nyata ke dalam wacana mistis, gaib yan tak bisa diverivikasi.

Bahkan tak jarang agama, pendidikan dan institusi lainnya digunakan oleh aparat pembangunan untuk mengaburkan (mystify) hubungan kekuasaan yang menyebabkan orang tertindas menerima penderitaan sehari-hari. Bingkai sosiologis seperti itulah yang menampakkan adanya persoalan teologis. Semuanya harus “dibedah” dan dikaji ulang untuk suatu proyek reformulasi teologi Islam yang lebih humanis.

Terjadinya berbagai kekerasan terhadap perempuan di Indonesia dalam berbagai bentuknya. Seperti diskriminasi terhadap perempuan minoritas, perdagangan perempuan, sampai dengan kekerasan perempuan dalam rumah tangga (KDRT) tak lepas dari faktor politik, ekonomi, budaya, maupun teologis.

Untuk mengatasinya tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum saja. Tetapi sebagai bangsa yang meyakini agama (Islam) sebagai way of life perlu melakukan penyadaran akan pentingnya paham keagamaan yang transformatif dan peka terhadap hak-hak perempuan dan HAM. Di samping itu perlu adanya langkah-langkah yang konkrit dari semua element masyarakat.

Oleh: Dr. Ahmad Munir, M.Ag Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.