Problem Waktu Orang Tua Penyebab Kegagalan Pembentukan Kepribadian Anak

Probelm Waktu
0 523

Problem Waktu yang Menyebabkan Orang Tua Gagal Membentuk Anak. Era modern, telah membuat waktu menjadi demikian sempit. Pergantian menit, jam, hari dan minggu terasa begitu cepat. Sementara itu, waktu banyak dihabiskan untuk diisi oleh sesuatu yang menurut ukuran kita produktif. Ukuran produktivitas itu sendiri, ditentukan oleh keberhasilan kita dalam mengumpulkan gepokan kekayaan, atau menyusun Bio Data hidup. Suatu rangkaian perjalanan dalam deretan karier yang sesungguhnya menyiksa, Akibatnya, anak menjadi demikian terabai dan tidak terkontrol sama sekali.

Karena itu, jika dalam tulisan sebelumnya saya menyebut keluarga sebagai pendidikan pertama dan utama, maka, pertanyaan yang segera muncul adalah:  Dapatkah dua adigium di atas untuk saat ini tetap disandingkan kepada institusi pendidikann keluarga? jawaban terhadap soal ini tentu saja sangat kompleks. Tidak sederhana seperti gampangnya pertanyaan tadi. Jawabannya panjang dan membutuhkan energi yang tidak ringan.

Mengapa? Sebab banyak fakta menunjukkan bahwa keluarga moderen justru tumbuh menjadi manusia-manusia egois. Kumpulan manusia yang hanya mementingkan diri sendiri dan menjauhkan diri dari kemungkinan untuk memusatkan perhatiannya pada pembentukan kepribadian anak. Orang tua: Laki-laki dan perempuan, tetap sama sibuknya seperti laki-laki. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak, pada akhirnya, justru mental dan psikologi anak menjadi terabai.

Bagaimanakah Kita Melangkah

Ilustrasi di atas menyimpulkan bahwa bagaimana mungkin keluarga menjadi lembaga pendidikan pertama dan utama dalam konteks kekinian ketika ternyata orangtua yang seharusnya menjadi idol, justru berperan sebaliknya. Orang tua yang seharusnya menjadi rujukan utama anak, selalu berada dalam titik yang tidak mungkin pernah dapat optimum membentuk keluarga?

Karena itu, tampaknya, akan sulit bagi keluarga modern untuk mendesain harmoni keluarga dan mengkonstruk pola relasi yang ideal di antara sesama anggota keluarga. Tradisi sebagaimana terjadi sebelum era ini dan menjadi harapan ideal dalam konteks analisis pendidikan, menjadi sangat sulit direalisasikan.

Seorang bapak karier misalnya, ia terbiasa berangkat kerja dipagi buta dan pulang sore hari bahkan malam hari. Ada diantara bapak-bapak itu bahkan yang pulangnya seminggu sekali, sebualan sekali atau mungkin satu tahun sekali. Seorang ibu juga sama! Dengan berbagai alasan dan pertimbangan, seorang ibu juga memilih berkarier. Akibatnya, nafas seorang ibu dalam rumah menjadi sangat jarang dirasakan anak.

Dalam posisi keluarga yang demikian, kapan dan di mana mereka dapat menjadi rujukan perilaku anak, padahal sekedar bertemu saja sangat sulit dilakukan. Jarang diantara bapak-bapak dan ibu-ibu saat ini, yang masih memperhatikan dan mengkondisikan perilaku anak anak mereka, apalagi melakukan permbiasaan terhadap nilai-nilai spiritualitas keagamaannya. Akibatnya, wajar jika anak tumbuh menjadi manusia-manusia yang jauh dari keluarga yang baik. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...