Prof Imron Abdullah dalam Kenangan| Profile-Tokoh

0 22

Haji Muhamad Imron Abdullah adalah tokoh fenomenal dengan karakter spesifik. Dalam konteks IAIN Syekh Nurjati Cirebon, ia bahkan nyaris belum memperoleh tandingnya, pun sampai saat ini. Dia adalah sosok unik sekaligus eksentrik. Unik karena ia memiliki “sejumlah wajah” yang cukup variatif. Karena itu, menjadi wajar jika ia dianggap oleh setiap orang –dalam berbagai lapisannya—sebagai bagian dari komunitasnya.

Sikap keberagamaannya juga sama. Ia tampak seperti seorang sekuler siang hari, namun begitu spiritualis ketika malam merayapi dirinya. Ia sangat rajin beribadah malam, sambil tidak lupa, menurut beberapa catatan, ia sering meneteskan air mata. Ia suka bangun dari lelap tidur untuk menyenandungkan lagu-lagu ritmis suci, bermuhasabah dan terus beristighfar dengan deraian dan cucuran air mata. Jumlah air mata yang menggenangi pipi kiri kanannya, mengalahkan jumlah keringat yang ia keluarkan di siang hari.

Disebut eksentrik karena penampilannya gagah dengan jidat hitam yang menandakan kekhusu’an kalau ia sedang beribadah. Tawa segarnya yang membahana ketika ia memperoleh kesenangan atau bercengkrama dengan teman-teman dan yunior-yuniornya. Saya kira, siapapun yang pernah bareng bersamanya, hampir menyulitkan ingatan mereka yang pernah dekat dengannya. Ia menjadi motivator kebahagiaan duniawi, karena hampir tidak ada satu sosok yang ke luar dari hadapannya, dengan sikap hopeless yang berlebihan. Selalu muncul harapan dan suasana baru sesaat setelah orang meninggalkan ruangannya.

Di sisi lain, ia hanya mampu mengusap rambut dan muka serta menggesekan tangannya ke hidung, saat situasi sulit menghampiri dirinya. Diam sejenak lalu mengeluarkan sesuatu; moril maupun materil kepada mereka yang datang. Nafas panjang mengiringi irama emosinya di saat arena ketidaksukaan menghampiri dirinya. Satu kata yang tidak pernah ia lupakan, saat situasi dimaksud muncul, ya… alamiah saja. Pasrah tergantung kehendak alam mau berbicara dan memutuskan apa untuk kita.

Di sisi lain, ia juga intelektual yang memiliki kronikal sejarah unik. Bangkit dari keterpurukan akademik akibat kecanduan aktivitasnya di organisasi kemahasiswaan [HMI] dan kemasyarakatan, yang hampir lebih memperlihatkan dirinya sebagai sosok politikus yang sedikit banyak berjarak dengan dunia akademik. Ia seolah memiliki talenta lebih dalam soal-soal dimaksud mengalahkan talentanya di bidang lain, termasuk dalam soal akademik tadi.

Pendidikan Akademik

HM. Imron Abdullah diketahui pernah mengikuti studi di Program S1 dalam durasi waktu terpanjang sejarah perjalanan aktivis. Berbekal Sarjana Muda dalam rumpun Syari’ah di IAIN Semarang, dikutatkan waktunya menjadi pengurus PB HMI di Jakarta. Setelah hampir 18 semester dalam ukuran waktu studi, baru ia menyelesaikan studi S1 di IAIN Cirebon.

Kebangkitan intelektualnya, baru terlihat ketika ia mengikuti program S2 dan S3 di UIN Jakarta yang diselesaikan dalam waktu yang cukup singkat. Ia menyelesaikan dua program dimaksud hanya sekitar empat tahun setengah. Namun demikian, pengalaman organisasinya itu, ternyata telah mencerdaskannya secara sosial dan bahkan secara spiritual. Karena itu, ia menjadi demikian populer, terbukti ia bukan hanya dikenal di kampung halamannya dengan kultur masyarakat pesisir, tetapi, juga dikenal di lingkungan masyarakat yang rural dan bahkan pegunungan.

Kesantunan politik yang dicitrakannya, bukan hanya dikenal di lingkup masyarakat elite, tetapi, dipuja para wong cilik. Dirindukan bukan hanya oleh istri dan anak-anak kesayangannya, tetapi, oleh mereka yang mengaku diri sebagai pengikut setia dan bahkan “lawan-lawan politiknya”. Ketegasan dalam sikap, diimbuhi dengan semangat humanisme yang tinggi, telah mengakibatkan sebagian orang harus merasa canggung ketika berhadapan dengan dirinya.

Namun, ketika berbagai komunikasi dilakukan dalam waktu yang panjang, kecanggungan itu berubah menjadi sebuah kedekatan kemanusiaan yang hampir tanpa batas. Sosok Tanpa Pamrih Bagi saya, Haji Muhammad Imron Abdullah adalah figur sekaligus kata kunci. Disebut figur, karena ia adalah sosok pertama yang saya kenal sewaktu saya melakukan aktivitas organisasi ekstra mahasiswa, yakni di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan di LPLSM Nurjati Kota Cirebon.

Selalu Titip HMI

Ia sering menitipkan organisasi ini kepada kami dengan menekankan bahwa tidak akan ada HMI kalau tidak ada perkaderan. Ia marah kepada siapapun yang menjadi ketua cabang di HMI, jika tidak mampu menyelenggarakan LK II (Intermediate training). Asumsi yang selalu ia sebutkan bahwa HMI jauh lebih kuat dibandingkan dengan KAHMI sendiri. Tidak mungkin bahkan ada KAHMI tanpa HMI. Disebut kata kunci, sebab dia adalah orang yang selalu membukakan jalan ke luar atas setiap masalah yang dihadapi.

Ketika saya menulis soal ini, saya jadi teringat kisah saya dan al marhum Muhaimin, yang kebetulan waktu itu sama-sama menjadi “jenderal aktivis di HMI”, kehabisan biaya hidup dan bahkan ketidakmampuan membayar uang SPP untuk semester V. Ia berani mengulurkan tangannya dengan membuka dompet miliknya, mengambil secara perlahan uang dua puluh ribuan sebanyak 12 lembar untuk kami berdua. Saat itu, air mata kami berdua menetes dengan perlahan, bersyukur pada Tuhan atas kebaikannya.

Di era itu, dalam konteks KAHMI Cirebon, hampir sulit menemukan sosok seperti dirinya. Begitu pula saat saya berhadapan dengan satu masalah penyelesaian studi S1 di IAIN Sunan Gunung Djati Fakultas Tarbiyah di Cirebon. Saat di mana saya hampir putus asa menghadapi problem akademik dimaksud akibat salah persepsi antara saya sebagai mahasiswa dengan salah seorang dosen. Ia dengan begitu tangkas membantu saya, yang akhirnya studi dimaksud selesai melalui bimbingan mitranya, yakni Prof. Maksum Mukhtar.

Dibalik Kisah Prof Imron

Kisah ini pula, yang menyebabkan saya, sampai hari ini, kepada dua insan ini, selalu dekat di hati meski upaya memisahkan cukup kuat. Tetapi, tak mengapa, kita selalu memiliki ruang tahkim Tuhan dalam sejarah kemanusiaan baik di dunia maupun di akhirat. Banyak hal yang kami jalani bersama. Tentu banyak hal yang kami hadapi. Termasuk pada saat kami harus mengikuti program S2 dan penentuan penugasan PNS kami. Beliau berdiri dengan tegar, membantu secara perlahan –namun penuh kepastian—untuk mengembalikan kami ke kampus asal kami di Cirebon. Ia menyebut bahwa Cirebon lebih baik ke depan diurus oleh mereka yang berasal dari alumni kampus itu sendiri.

Pengkhidmatan dan penghormatan serta visi pengembangan kampus akan lebih mudah diurus oleh mereka yang berbasis alumni Cirebon ini. Belum kalau berbicara bagaimana penyelesaian program S3 dan pengusulan guru besar saya. Jujur harus saya katakan bahwa pada tahun 2008, saya kurang percaya diri –bahkan sampai hari ini—kalau harus diusulkan menjadi Guru Besar, pun ketika saya ternyata memang memperoleh peng-SK-an tentang itu. Saya mengatakan kalau saya belum memiliki kemampuan dan i’tikad untuk itu. Ia mengatakan, anda adalah The Real of Professor. Abang akan bantu. Akhirnya, dengan dorongan dari kawan-kawan dan senior-senior lain, saya usulkan guru besar dimaksud, saya pergi ibadah haji bersama keluarga, pulang dari ibadah haji tahun dimaksud, SK guru besar kami turun.

Ada yang paling menarik ketika kami sekeluarga berangkat haji. Al marhum bapak kami mengatakan, HM. Imron Abdullah adalah sebenar-benarnya pemimpin. Contohlah dia. Keramahan dan kemauan mendengarkan apa yang dikatakan orang lain, menjadi ciri nyata seorang pemimpin. Ia –kata bapak saya—begitu setia mendengarkan apa yang dikatakan orang. Pemimpin yang terbaik menurut bapak kami adalah mereka yang mampu mendengarkan dan mampu merasakan. Dan beliau, masih kata bapak kami, telah memiliki watak dimaksud secara natural.

Menuju takhta dan singgasana Tuhan yang paling hakiki

Itulah mengapa, pada hari Minggu 11 September pukul 12.30, beliau meninggal dunia, saat di mana saya berada jauh dari tempat wafatnya, persis ketika saya menyampaikan materi seminar tentang visi kematian. Saat itu SMS sampai kepada saya tentang kewafatannya. Tentu bukan hanya air mata yang menetes, tetapi degup jantung, lemasnya tubuh dan berkunangnya mata saya, menyelimuti sunyi senyapnya suasana seminar. Peserta seminar kurang lebih enam ratus orang di Kabupaten Tasikmalaya Selatan, langsung saya mintakan untuk mendo’akan dan membacakan surat al Fatihah dan meminta kerelaannya untuk menyalatkan ghaib atas kewafatan mentor kami semua.

Secara spiritual, setiap hurup yang membingkai kata-kata suci, akan melahirkan jutaan Malaikat. Andaikan ada seribu orang yang beristighfar dan mendo’akannya, maka trilyunan Malaikat akan lahir mengiringi perjalanannya, menuju takhta dan singgasana Tuhan yang paling hakiki. Saya percaya, beliau pulang ke Syurga. Tempat asal mula manusia dilahirkan dan tempat hunian pertama manusia. Terbang bersama ribuan Malaikat dengan kepakan sayapnya yang lebar mengalahkan lebarnya apapun yang ada di muka bumi ini.

Hari-hari ini, saya percaya beliau melingkar dalam lingkaran para shalihun dan para syuhada di Syurga. Menyaksikan mitra-mitranya di bumi yang menceritakan tentang sosoknya. Menyaksikan dengan senyum seluruh nokhtah perjuangan para juniornya yang mendo’akan dan mendokumentasikan kebaikannya.

Tentu saya percaya, ia juga begitu bangga menyaksikan keluarganya yang masih mengenangnya sebagai god father’s yang akan menjadi uswat hasanat dalam nafak tilas perjuangannya di bumi. Akhirnya, memang semua milik Tuhan dan pasti kembali kepada Tuhan. Inilah keputusan final Tuhan. Tuhan memang jarang memberikan sesuatu yang diinginkan manusia, tetapi, yakinlah bahwa Tuhan selalu memberi sesuatu yang dibutuhkan manusia.

Ia adalah sosok manusia –sama dengan kita—berasal dari sesuatu yang ideal, dan harus kembali kepada Tuhan dengan cara yang ideal. Kita tentu berharap, Abang kita semua kembali kepada Tuhan dengan cara yang ideal. Amiin …. Do’a kami sekeluarga untuknya ….. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.