Inspirasi Tanpa Batas

Menumbuhkan Jiwa Profesionalisme | Interactive Learning Part – 7

0 50

Konten Sponsor

Menumbuhkan Jiwa Profesionalisme. Nilai guna lain dari dikembangkannya internalisasi dalam proses pembelajaran adalah meningkatkan profesionalisme. Profesionalisme seperti diketahui bersama, adalah satu dari empat kompetensi yang harus dimiliki guru. Setiap guru dituntut profesional dalam bidang yang digeluti masing-masing.

Jika gurunya profesional, maka, kemungkinan besar peserta didik juga profesional. Karena itu, tujuan kompetensi profesional itu jelas, yakni bagaimana peserta didik dapat menjalankan tugas dan pekerjaan sesuai dengan kompetensi, kewenangan, dan norma-norma profesi, dan etika social yang berlaku di masyarakat. Jika hal ini mampu dilakukan, maka, pencapaian mutu pendidikan dapat dilakukan.

Makna Mutu dalam Pendidikan

Istilah mutu, awalnya digunakan untuk produk suatu perusahaan. Mutu biasanya  dilekatkan dengan sebuah produk industri dalam satu bidang yang kemudian disebut teknologi. Istilah mutu, juga dapat diterjemahkan sebagai produk jasa. Mutu dengan bahasa lain, adalah kualitas (quality) suatu barang atau suatu pekerjaan yang dihasilkan dari produsen jasa tertentu yang diminta user kepada penyedia jasa.

Joseph Martinich,[18] menyebut mutu dengan: “quality is fitness for use”. Mutu produk berkaitan dengan enaknya barang yang digunakan. Artinya, apabila suatu barang layak dan baik digunakan, atau suatu jasa dapat mengenakan pengguna jasa, berarti barang atau jasa tersebut bermutu baik.

Manajemen mutu (management of quality) dapat dikontekstualisasi dalam pendidikan. Mutu, dapat disebut sebagai istilah baru meski mungkin pada tataran impelementasi telah dilakukan cukup lama. Istilah ini muncul untuk mengantisipasi menguatnya peran birokrasi dan peran industri yang seolah berada di mainstrem tunggal. Padahal mereka tidak lagi dapat menjadi penentu segala arah.

Di sisi lain, harus pula dicatatkan bahwa istilah manajemen mutu, dimunculkan di lembaga-lembaga pendidikan. Tujuannya adalah untuk memperkuat basis pendidikan ketika berhadapan dengan perkembangan dunia luar termasuk perkembangan dunia industri yang semakin hari semakin kompetetif. [19]

Dengan pengertian tadi, maka apa yang disebut dengan quality of management akan menyangkut to design, to produce, to deliver.  Ia memberi garansi pelayanan pada konsumen (consumers service). Layanan pada konsumen ini bahkan dapat dipandang sebagai sesuatu yang sifatnya keharusan mengingat management of quality menuntut orientasi utama kepada konsumen (quality is customer oriented)

Kompetisi Produk Menuntut Mutu

Kompentisi produk pendidikan, tidak lagi dapat dipertahankan melalui mekanisme hasil produksi murni, tetapi, juga mencakup dimensi-dimensi lain, termasuk layanan dan jasa dengan mengedepankan prinsip kebersamaan dan keterbukaan dengan semangat untuk memuaskan seluruh owner pendidikan.

Joseph M. Juran yang dikutip dari Jerome S. Arcaro menyebut bahwa titik fokus philosofi manajemen mutu, adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaannya dengan tepat. Sebagai gambaran definisi, bahwa mutu atau kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang dapat memenuhi atau melebihi harapan.[20]

Ada enam dimensi yang mempengaruhi kualitas suatu produk. Keenam dimensi itu adalah: 1). Kinerja (performance), 2). Keistimewaan (Types of Features), 3). Kepercayaan dan waktu (Reliability and Durability), 4). Mudah dirawat dan diperbaiki (maintanibility and serviceability), 5). Sifat khas (sensory characteristic), dan; 6). Penampilan dan citra etis. [21]

Dimensi mutu, pada akhirnya berlaku untuk semua jenis organisasi penghasil jasa, termasuk didalamnya institusi keguruan yang di satu sisi berbasis pada pelayanan jasa (pendidikan), namun di sisi lain dituntut menghasilkan suatu produk dalam bentuk investasi sumberdaya manusia. Di letak ini, manajemen mutu antara lain meliputi keberadaan (availabiliti), ketanggapan (resposivenes), menyenangkan (convenience) dan tepat waktu (time liness)[22], dalam setiap produk jasa keguruan yang dihasilkan.

Komponen Mutu

Setiap program mutu, mencakup empat komponen penting. Keempat komponen dimaksud antara lain adalah: Pertama, mesti ada suatu komitmen untuk berubah.  Kedua mesti memahami dengan baik di mana posisi atau keberadannya sekarang. Ketiga, mesti memiliki visi masa depan yang jelas.

Keempat, mesti memiliki rencana untuk meng-implementasikan mutu. Manajemen mutu mengedepankan pentingnya lima tata langkah dalam implementasinya. Kelima langkah dimaksud adalah: 1. Fokus pada customer, 2. Keterlibatan total, 3. Pengukuran, 4. Komitmen dan, 5. Perbaikan yang berkelanjutan.

Gagasan ini, mengandaikan bahwa internalisasi nilai membutuhkan keleluasaan proses yang terus simultan. Hal ini tampaknya cocok dengan teori pendekatan proses yang tidak hanya menekankan kepada faktor apa yang membuat individu bertindak dengan cara tertentu, tetapi juga bagaimana individu termotivasi untuk berbuat.

Contoh teori kelompok ini misalnya teori motivasi untuk motif berprestasi (achievement motive) dari Mc. Clelland. Teori dengan pendekatan penguaatan penguatan, lebih menekankan pada faktor-faktor yang dapat meningkatkan suatu tindakan dilakukan atau yang dapat mengurangi suatu tindakan. Yang tergolong teori misalnya teori operant conditioning (Skiner). [23]

Berdasarkan teori ini, guru, dosen atau pendidikan lainnya, diharapkan mampu menumbuhkan kebutuhan berperestasi peserta didik. Perlu dikembangkan pendekatan pembelajaran  yang lebih kondusip sehingga mereka dapat menumbuhkan kebutuhan dan motif berperestasi peserta didik. Peserta didik perlu dilakukan didorong untuk dilakukan berbagai tindakan yang berorientasi kualitas dan nilai tambah sehingga dapat menghasilkan sesuatu secara efektif dan produktif. Dr. H. Djono

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar