Proletar Sebagai Pemimpin Pewaris Bumi dan Harapan Pembebasan

0 34

sebagai mana yang telah kita bahas sebelunya dalam artikel  Karakter Proletar dalam Aqurân, selanjutnya akan di bahas bagaiman anjuran Alqurân tentang perubahan sosial yang diandaikan. Alasan yang paling diterima dari pertanyaan kenapa kaum proletar harus bergerak? Proletar Sebagai Pemimpin Pewaris Bumi dan Harapan Pembebasan ? Jawabnya adalah bunyi ayat Alqurân  yang menjelaskan bahwa;

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allâh tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Q.S. al-Ra’du/13:11)

Ayat ini menstimulasi kaum proletar untuk melakukan sesuatu. Ada beberapa argumen kenapa kaum proletar harus bergerak. Pertama, bahwa kemakmuran harus direbut dan disambut bukan ditunggu. Di sini berarti ada perubahan atas konsepsi takdir. Takdir yang awalya hanya dipahami bahwa rizki menjadi hak prerogatif Tuhan bukanlah dalam makna negatif, tetapi dalam makna progressif. Rizki seringkali berada pada genggaman segelintir orang. Sistem menindas kaum borjuis tidak memberi kesempatan pada kaum proletar untuk kaya. Dalam dunia persawahan misalnya, para petani dibebani biaya pupuk mahal, sementara harga gabah murah. Di sisi lain, harga dikendalikan oleh kelompok pemodal dengan trik sistem pasar dan ekonomi liberal, mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan pengeluaran sekecil-kecilnya.

Memahami takdir secara progressif artinya merebut takdir dan lari dari takdir yang satu menuju takdir yang lebih baik, seperti Umar bin Khattab lari dari takdir terjangkit penyakit kusta dengan mencari takdir lain melalui pencarian alternatif melewati jalan lain. Kedua, sebagaimana karakter kaum borjuis yang diakui Alqurân sebagai kaum tak berbudaya dan asosial, mereka tidak mau menyisihkan sebagain harta mereka untuk kaum proletar. Kekayaan itu akan berada pada posisi satanic circle, lingkaran setan yang tidak akan mewujud dalam trickle down effect, rembesan ke bawah pada kaum proletar.

Ketiga, kaum proletar seperti janji Tuhan akan mencapai kemenangan atas watak borjuasi mereka. Hal yang membuat kaum borjuis kuat adalah oligarki ekonomi yang mapan, penguasaan sistem dan pasar yang dominan serta penguasaan modal yang memadai. Kemenangan kaum proletar untuk menghapuskan borjuasi ekonomi karena itu adalah dengan membenahi sistem dan sirkulasi pasar dan permodalan.

Kaum Proletar Sebagai Pemimpin dan Pewaris Bumi

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).( Q.S. al-Qashshâh/28:5)

Ayat ini merupakan penggalan dari rangkaian panjang yang menceritakan kisah Fir’aun sebagai representasi penguasa otoriter, diktator, eksploitatif dan menindas serta Nabi Musa dan kaumnya, Bani Israil, sebagai representasi masyarakat yang lemah dan tertindas. Dalam ayat sebelumnya dijelaskan kekuasaan Fir’aun yang hegemonik melakukan kesewenang-wenangan, represif dan menindas rakyatnya. Di antara kebijakannya yang dipandang represif, menindas dan eksploitatif adalah membuat peta konflik masyarakatnya, membunuh setiap anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan. Dalam bahasa politik, kebijakan ini dapat dipandang sebagai upaya memperlemah posisi civil society dan membatasi ruang kebebasan, sehingga tidak lagi ada check and balance dalam relasi kekuasaan.

Tuhan dalam ayat ini membangun angan-angan sosial kepada kaum tertindas atau kaum proletar bahwa mereka akan menjadi pemimpin dan pewaris bumi. Kaum proletar layak untuk dijadikan pemimpin karena beberapa alasan: pertama, kaum proletar pernah mengalami penindasan dan kemiskinan. Secara psikologis, walau ini bukan sebuah kepastian, mereka akan tahu perasaan dan kondisi menjadi miskin. Ada ikatan emosional atau ketersambungan psikologis dengan pengalaman hidup sebelumnya.

Kedua, kaum proletar akan mengerti memanfaatkan sumber daya seefesien dan seefektif mungkin. Mereka sadar bahwa pemanfaatan berlebihan akan membuka kran bagi tindakan kolutif, korupsi dan tindakan melanggar norma hukum dan agama. Ketiga, kaum proletar memiliki angan-angan sosial yang memadai karena ia telah hidup bersama pengalaman proletariat yang panjang. Ini akan menjadi basis kebijakan yang baik dalam menentukan sebuah keputusan. Keempat, dalam teori modern, kepemimpinan dari kaum proletariat menggambarkan legitimasi kuat dan aspirasi dari masyarakat bawah.

Perbedaaan kepemimpinan proletariat Islam dengan komunisme adalah terletak pada akhir dari sebuah perjuangan. Keduanya sama dalam keinginan mensejahterakan masyarakat, namun keduanya berbeda dalam beberapa aspek. Komunisme mengandaikan masyarakat tanpa kelas. Dalam Islam kelas-kelas sosial memang sengaja dibentuk oleh Tuhan dan diterima apa adanya untuk diketahui kualitas keimanan dan kebaikan mereka. Di sisi lain dalam kepemimpinan proletariat komunis, tidak ada kepemilikan individu, sementara dalam Islam, kepemilikan individu dihargai, hanya saja ada aturan-aturan pasti bagaimana menggunakan kepemilikan pribadi itu.

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allâh Maha mengetahuinya. (Q.S. al-Baqârah/2:215) .

Bagi komunisme akhir segalanya adalah masyarakat tanpa negara (stateless) sementara Islam menganggap bahwa antara negara dan agama adalah kembar dua. Negara adalah perangkat organisasional terbesar yang mewadahi suatu agama bisa berjalan, namun agama perlu ada dalam negara agar negara itu tidak despotik dan otoriter. Di sisi lain, proletariat Islam juga berbeda dengan penyerahan total kepada mekanisme pasar, sehingga yang lemah tetap menjadi lemah sebagaimana tradisi sistem kapitalisme. Penumpukan harta berlebihan secara individual dilarang dalam Alqurân.

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allâh, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,(Q.S. at-Taubah/9:34)

Islam hadir mengatasi dua sistem di atas. Islam di satu sisi menghargai kekayaan individual, di sisi lain, Islam juga tidak membiarkan masyarakat tertindas akibat kekayaan indivual kita tersebut.

Kaum Proletar Sebagai Harapan Pembebasan

Harapan terbesar dimiliki oleh seseorang yang tersisih dan termarginalkan secara sosial dan ekonomi. Ia adalah kelompok yang tertindas. Suatu pengharapan akan adanya kehidupan yang adil, makmur serta kebebasan. Sebuah situasi yang digambarkan oleh Tuhan pada jaman Fir’aun adalah jaman ketertindasan. Harapan diberikan kepada kaum tertindas untuk bangkit dan melakukan perlawanan.

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

Artinya: Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. dan telah sempurnalah Perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.( Q.S. al-A’râf/7: 137)

Ayat di atas bercerita tentang pembelaan dan pembebasan Nabi Musa a.s. terhadap kaum Bani Israil yang tertindas dari hegemoni kekuasaan Fir’aun. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa Nabi Musa dan kaum Bani Israil yang tertindas berhasil menjatuhkan kekuasaan Fir’aun, kemudian mereka sebagaimana dijanjikan oleh Tuhan, menjadi pemimpin dan pewaris bumi pasca kejatuhan Fir’aun.

Secara psikologis, kaum tertindas memiliki ikatan nasib yang koheren dengan sesamanya. Common anemy (musuh bersama) membuat rancangan mereka untuk menuju kebebasan semakin menguat. Ini dibuktikan pada jaman Fir’aun dan pada jaman Rasulullah. Kasus terdekat dialami oleh jaman Orde Baru di bawah kendali Soeharto. Kaum tertindas bergerak dan kekuasaan otoriter tumbang. Mengharapkan kaum proletar untuk bergerak sangat beralasan dan dimengerti. Pertama, kaum proletar mengalami apa yang terjadi pada mereka. Mereka hidup dalam alienasi tak terbantahkan. Kedua, mereka menginginkan kebebasan dan keluar dari kondisi keterkungkungan, mereka memiliki motivasi dan semangat untuk berubah.

Oleh : Ahmad Munir 

Komentar
Memuat...