Prosedur Befikir Ilmiah

0 550

Prosedur Befikir Ilmiah. Prosedur berfikir ilmiah moderen, masih selalu tetap menggunakan kaidah keilmuan Barat yang hanya mendasarkan pikirannya pada penalaran rasional dan empiris. Dua model ini, selalu menjadi sumber sekaligus metodologis dalam menghasilkan ilmu pengetahuan, Dua landasan ini tetap kokoh dipertahankan sampai hari, Setiap ruang kajian keilmuan modern selalu mengalaskan dua sumber dan dua metodis seperti tadi. Ilmu yang dihasilkan dari sumber tadi, selalu menuntut dilakukan observasi dan penjelajahan baru terhadap masalah yang dihadapi dari pra anggapan (hipotesis/deduksi). Pengujian dilakukan melalui studi lapangan (empiris/induksi). la selalu mencari arti terhadap hakikat permasalahan sambil terus melakukan antisipasi yang mungkin terjadi,

Metode ilmiah, dengan demikian adalah ekspresi ten tang cara berpikir menurut kaidah ilmiah. Melalui metode ini, diharapkan dapat menghasilkan karakteristik tertentu yang diminta pengetahuan ilmiah. Karakteristik dimaksud besifat rasional (deduktif) dan teruji secara empiris. Melalui langkah ini, akan memungkinkan lahirnya pengetahuan yang disusunnya menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Metode ilmiah dengan demikian adalah penggabungan antara cara berpikir deduktif (rasional) dan induktif (empirik) dalam membangun tubuh pengetahuan.

Dalam metode ilmiah, penelitian dituntun dalam proses berpikir yang menggunakan analisa. Karena itu, dalam metode ilmiah hipotesis juga diperlukan. Hipotesa berguna untuk memandu jalan pikiran ke arah tujuan yang hendak dicapai atau ingin dibuktikan. Hasil yang hendak diperoleh akan mencapai sasaran dengan tepat.

Hipotesis adalah keterangan sementara untuk keperluan pengujian yang diduga mungkin benar mungkin juga salah dan dapat digunakan sebagai pangkal untuk penyelidikan lebih lanjut sampai diperoleh kepastian dengan pembuktian. Ilmuan melakukan kerja yang seolah melakukan “interogasi terhadap alam” melalui apa yang disebut hipotesis.

Hipotesis disusun berdasarkan cara kerja deduktif dengan mengambil premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang telah diketahui sebelumnya. Penyusunan hipotesis berguna untuk menunjang terjadinya konsistensi pengembangan ilmu secara keseluruhan dan menimbulkan efek kumulatif dalam kemajuan ilmu. Hipotesis dapat menjadi jembatan pemanduan antara cara kerja deduksi dan induksi.

Baca Juga : Mengapa Harus Menggunakan Metode Berfikir Ilmiah?

Setelah hipotesis tersusun, langkah selajutnnya adalah mengujinya yang disusun itu dengan mengkomunikasikan atau mengkonfirmasikannya dengan dunia fisik yang nyata. Proses pengujian hipotesis lazim disebut sebagai pengumpulan yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Fakta-fakta yang dikumpulkan, dapat berupa fakta yang sederhana (dapat ditangkap pancaindera), dapat pula berupa fakta yang memerlukan instrument lain seperti teleskop dan mikroskop. Di sini, penelitian ilmiah menjadi sangat mahal, bukan karena teorinya, melainkan lebih karena pembuktiannya.

Berfikir deduktif memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah. Ia dituntut bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkannya. Secara sistematis dan kumulatif, pengetahuan disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru, berdasarkan pengetahuan yang telah ada. Penjelasan rasional dengan kriteria kebenaran koherensi tidak dapat memberikan kesimpulan final.

Rasionalisme lebih bersifat pluralistik sehingga memberi kemungkinan untuk menyusun berbagai penjelasan terhadap suatu objek pemikiran yang bersipat tertentu. Karena itu, dalam metode berfikir ilmiah, diperlukan model lain yaitu cara kerja berfikir induktif yang mendasari kriteria kebenaran pada teori korespondensi. Teori ini menyebutkan bahwa pernyataan dianggap benar sekiranya materi yang terkandung dalam pernyataan itu, bersesuaian dengan objek faktual yang disetujui pernyataan tersebut.

Menguji kebenaran melalui metode ilmiah harus secara empirik. Sebab seluruh penjelasan rasional yang diajukan, statusnya hanya bersifat sementara (hipotesis). Hipotesis disusun secara deduktif dengan mengambil premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang telah diketahui sebelumnya. Adanya jembatan melalui penyusunan hipotesis, menempatkan metode ilmiah sebagai proses logico-ln/potetiko-verifikatio (logik, hipotetik sekaligus perifikatif). Perkawinan berkesinambungan antara deduksi dan induksi disebut dengan prosedur berpikir ilmiah. Proses induksi diperlukan untuk melakukan verifikasi atau pengujian terhadap hipotesis yang bersipat deduksi.

Secara ontologis, ilmu mengkaji masalah yang terdapat dalam ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia semata. Perbedaan antara ruang lingkup permasalahan yang dihadapi, telah menyebabkan perbedaan metode dalam memecahkan setiap masalah. Perbedaan ini, hams diketahui dengan benar untuk dapat menempatkan ilmu dalam perspektif yang sesungguhnya. Masalah yang dihadapi ilmu adalah nyata. Ilmu mencari jawaban pada dunia yang juga nyata. Ilmu diawali dengan fakta dan diakhiri dengan fakta pula. Selanjutnya teori empirisme yang berlandaskan pada fakta-fakta, meski menjadi abstrak intelektual dengan pendekatan rasional. Albert Einstein dalam konteks ini berkata, “Adapun teori yang menjembatani antara empirisme dan rasionalisme, menjadi penjelas rasional yang sesuai dengan objek yang dijelaskan dari fakta-fakta yang ada”. Gabungan dari pendekatan empirisme dan rasionalisme, sekali lagi, harus disebut sebagai metode ilmiah. (Lasio dan Yuwono, 1985: 120).

Teori ilmiah harus memenuhi dua syarat. Kedua syarat itu adalah: 1). Harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan terjadinya kotradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan; dan 2). Harus cocok dengan fakta-fakta empiris. Teori apapun konsistennya, jika tidak didukung pengujian empiris, tidak dapat diterima kebenaranya secara ilmiah. Begitupun sebaliknya. Seberapa pun faktuaitasnya, fakta-fakta yang ada, tanpa didukung asumsi rasional, maka ia hanya akan menjadi fakta mati yang tidak memberikan pengetahuan kepada manusia.

Berdasarkan gambaran di atas, maka metode ilmiah meliputi suatu rangkaian langkah yang tertib dan sitemik. Meskipun demikian, metodologi dipahami para ilmuan dalam ragam yang tidak mungkin memperoleh kesamaan pendapapat. George Abell misalnya, merumuskan metode ilmiah sebagai suatu prosedur khusus dalam ilmu yang mencakup tiga langkah. Ketiga langkah itu adalah: 1). Pengamatan pada gejala- gejala atau hasil dari percobaan-percobaan; 2), Perumusan pangkal duga yang melukiskan gejala-gejala dan bersesuaian dengan pengetahuan yang ada; dan 3). Pengujian pangkal duga ini dilakukan dengan mencatat apakah memadai dapat meramalkan dan dapat melukiskan gejala-gejala baru atau hasil dari percobaan yang baru atau hasil percobaan.

Langkah Melakukan Prosedur dan Metode Bepikir Ilmiah

Eigelbener menyebut ada lima langkah dalam melakukan prosedur dan metode bepikir ilmiah. Kelima langkah itu adalah: 1). Adanya analisis terhadap masalah. Analisis ini berguna untuk menetapkan apa yang hendak dicari, memberi bentuk dan arah pada telaah penelitian; 2). Pengumpulan fakta-fakta; 3). Penggolongan dan pengaturan data agar dapat menentukaii kesamaan-kesamaan, urutan-urutan dan hubungan-hubungan yang ada dan bersifat simultan; 4). Perumusan kesimpulan dengan menggunakan proses penyimpulan logika dan penalaran; dan 5). Pengujian dan pemeriksaan kesimpulan- kesimpulan.

Ada juga yang menyebut bahwa prosedur ilmiah, mencakup tujuh langkah. Ketujuh langkah itu adalah: 1). Mengenal adanya suatu situasi yang tidak menentu. Situasi yang bertentangan atau kabur yang menghasilkan penyelidikan; 2). Menyatakan masalah dalam istilah-istilah yang spesifik; 3). Merumuskan suatu hipotesis; 4). Merancang suatu metode penyelidikan yang terkendali dengan jalan pengamatan atau dengan jalan percobaan, atau kedua-duanya; 5). Mengumpulkan dan mencatat data kasar agar mempunyai suatu pernyataan yang mempunyai makna dan kepentingan; 6). Melakukan penegasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan; 7). Mela-kukan penegasan terhadap apa yang disebut dengan metode ilmiah. Selain prosedur berfikir ilmiah sebagaimana tergambar di atas, aspek lain yang juga penting untuk menjadi daya dukung terhadap metode berfikir ilmiah, menurut Archi J. Bahm, juga harus menunjukkan adanya masalah

Permasalahan akan menentukan ada atau tidak adanya ilmu. Tanpa ada masalah, maka tidak akan ada ilmu. Langkah pertama dalam suatu penelitian ilmiah adalah mengajukan sesuatu yang dianggap sebagai masalah. Sesuatu dianggap sebagai masalah apabila terdapat pertentangan antara harapan akan sesuatu yang seharusnya (das sollen) dengan yang sebenamya ada (das sains),

Prof. Djawad Dahlan menyebut masalah sebagai motif yang menjadi pendorong. Kenapa seseorang melakukan penelitian, terhadap sesuatu yang dianggap bertentangan dan sesuatu yang dianggap berbeda. Adanya pertentangan atau perbedaan ini, dlam banyak hal disebut dengan masalah penelitian. Dalam bahasa sederhana, pengajuan masalah ini dapat pula disebut sebagai project proposal. Permasalahan dalam ilmu pengetahuan memiliki tiga ciri. Ketiga ciri dimaksud adalah: 1). Dapat dikomunikasikan (communicable) dan dapat menjadi wacana public; 2). Dapat diganti dengan sikap ilmiah; dan 3). Dapat ditangani melalui metode ilmiah. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...