Proses Nalar dalam Takdir Buta Manusia

6 75

Penalaran adalah cara kerja berpikir manusia dalam menghasilkan ilmu pengetahuan. Manusia disebut sebagai manusia, karena ia memiliki kemampuan melakukan proses penalaran. Penalaran dengan demikian dapat disebut sebagai inti manusia.

Secara teoritis, satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan untuk melakukan proses penalaran adalah manusia. Jenis makhluk Tuhan lain, selain manusia, pun Syeitan -yang sombong— dan Malaikat -yang taat ibadah— tidak ditakdiri Allah untuk memiliki kemampuan melakukan proses berpikir yang tadi disebut penalaran. Apalagi binatang seperti monyet, anjing atau babi. Binatang tidak mungkin melakukan apa yang disebut dengan penalaran.

Proses Nalar

Kenapa manusia mampu melakukan proses nalar? Sebab manusia adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang mampu berpikir. Karena itu, selain Tuhan, manusia adalah satu-satunya kreator ilmu. Mungkin karena itu pula, Allah memberi kepercayaan kepada manusia untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Kegiatan penalaran yang hanya mampu dimiliki dan dilakukan manusia, pasti melahirkan ilmu.

Kegiatan penalaran yang hanya dapat dikaitkan dengan kegiatan berpikir, secara langsung mengasumsikan bahwa kemampuan nalar adalah takdir buta manusia. Karena penalaran menggunakan logika, maka, kegiatan penalaran tidak mungkin dilakukan dengan menggunakan perasaan. (Jujun S. Suriasumanfrri, 1982)

Persoalannya, bagaimana manusia melakukan penalaran? Hasil apa yang diperoleh manusia atas kemampuannya melakukan penalaran? Inilah kajian penting yang akan disajikan di bagian ini.

Penalaran Versus Insting

Tadi disebut bahwa penalaran hanya milik manusia, tidak dimiliki Malaikat atau Syeitan, apalagi binatang. Takdir buta manusia adalah akal pikiran. Takdir buta Malaikat adalah kebaikan dan ketaatan. Takdir buta Syeitan adalah kejahatan. Takdir buta binatang adalah ketajaman insting. Makhluk Tuhan masing- masing memiliki takdir buta, hanya saja semuanya tidak memiliki potensi untuk melakukan penalaran seperti manusia. Kuat lemahnya manusia disebut sebagai manusia, terletak pada kekuatannya dalam melakukan penalaran. Makhluk Tuhan yang lain, selalu rendah daya adaptasinya terhadap rumusan penalaran.

Melalui penalaran itulah, manusia memperoleh kesempatan mendapatkan dan mengakses ilmu pengetahuan. Kekalahan binatang oleh manusia, bukan karena binatang kekurangan tenaga, dan besar kecilnya tubuh, tetapi karena manusia memiliki penalaran dan binatang tidak memilikinya. Binatang hanya memiliki insting. Insting binatang harus diakui memang sangat kuat mendukung makhluk ini untuk tetap survival. Kekuatan insting itu didukung oleh besarnya tenaga yang dimilikinya.

Dengan dua kelebihan yang luar biasa itu, binatang tetap dikalahkan manusia yang kecil. Kenapa demikian? Sekali lagi karena binatang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan proses penalaran. Karena binatang tidak memiliki kemampuan melakukan penalaran, maka ia tidak mungkin mengalahkan bukan saja manusia, tetapi ia juga tetap tidak mungkin mengalahkan alam yang menjadi tempat dan sandaran bagi segala kehidupannya.

Contoh. Saat gunung yang menjadi pijakan binatang belum memperlihatkan tanda-tanda akan meletus, binatang sudah pergi jauh meninggalkan gunung berapi yang akan meletus itu. la memiliki insting yang sangat kuat bahwa gunung di mana ia tinggal akan segera meledak. Mereka berjalan dengan koloninya masing- masing meninggalkan gunung yang akan meletus itu. Mereka mencari tempat baru untuk menyelamatkan diri. Getaran kecil yang mungkin belum terasa oleh manusia, meningkatnya suhu gunung, sudah dirasakan binatang.

Dalam kasus seperti ini, manusia kalah jauh oleh binatang. Manusia bahkan mungkin belajar dan berusaha mengambil pelajaran dari kuatnya insting binatang. Mbah Marijan di Jogjakarta, baru menyuruh warganya untuk melakukan evakuasi dari gunung yang dianggap akan meletus, setelah binatang dari gunung dimaksud turun. Sebelum binatang pada turun, mbah ini menyaranan tetap tinggal di rumah masing-masing, meskipun TIM SAR AHLI Republik Indonesia telah memerintahkan untuk melakukan evakuasi.

Potensi Diri Manusia

Rendahnya insting yang dimiliki manusia, telah menyebabkan manusia terlambat menghindari dinamika alam. Manusia baru mengetahui bahwa gunung akan meledak misalnya, ketika tanda- tanda praktis akut menunjukkan bahwa gunung itu akan meledak. Gunung itu sudah terlihat, terdengar dan terasa.

Dalam dongeng “Seribu Satu Malam” atau bahkan ada yang menyebutnya dengan hadits dalam konteks ini menjadi seolah benar. Dalam kisah itu disebutkan bahwa binatang tahu seseorang yang rnati kemudian dikuburkan, disiksa atau tidak dalam kubur. Secara teoritis melalui logika ini, pernyataan atau hadits tadi mungkin memperoleh pembenaran. Sebab binatang benar-benar memiliki insting yang sangat kuat dan ini tidak dimiliki manusia.

Namun demikian, potensi manusia yang tidak memiliki insting kuat itu, dapat segera mengalahkan binatang yang berlari dengan cepat mencari penyelamatan diri (survival) karena manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan melalui suatu upaya sistemis dalam mengatasi problem gunung meletus. Manusia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru yang bukan sekedar mempertahankan hidupnya, ia memberi makna terhadap hidup. Ia terus menerus memikirkan gejala apa yang menyebabkan terjadinya ledakan gunung, bagaimana mengantisipasinya agar tidak terjadi ledakan berikutnya, alat dan sarana apa yang digunakan untuk mengantisipasi ledakan gunung tersebut dan seterusnya. Manusia memikirkan gejala alam tadi melalui hukum sebab akibat. Hukum dimaksud dapat juga disebut penalaran. Penalaran, dengan demikian menjadi faktor penting yang membedakan manusia dengan binatang.

Gambaran di atas dapat dilanjutkan dengan menelisik faktor yang menjadi penyebab utama manusia memiliki kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga dapat mengalahkan binatang. Secara sederhana, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan kenapa manusia memiliki kemampuan untuk memperoleh pengetahuan dan tidak mungkin dilakukan dan diperoleh binatang. Dua faktor ini adalah: manusia memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa apapun, dan kedua manusia memiliki kerangka berpikir menurut kerangka alur tertentu yang kemudian disebut penalaran.

Kera misalnya, tahu mana buah Apel yang matang dan mana buah Apel yang belum matang. Ia juga tahu mana Apel yang berisi dan mana buah Apel yang tidak berisi. Tetapi, Kera tidak pernah tahu bagaimana agar pohon Apel itu dapat berbuah lebat dan bagaimana buah Apel itu dapat memiliki buah yang berisi. Ia tidak dapat mengembangkan model pertanian seperti ia juga tidak dapat mencari alternative pemupukkan terhadap pohon Apel agar memperoleh buah yang lebih baik. Ketidakmampuan Kera dan binatang lainnya dalam mengembangkan pengetahuan, disebabakan oleh tidak adanya bahasa dan kerangka berpikir dengan alur berpikir tertentu seperti yang dimiliki manusia.

Melalui Bahasa

Melalui bahasa, manusia bukan saja dapat berkomunikasi dengan manusa lainnya, tetapi ia juga dapat memperdebatkan temuan dan pengetahuannya terhadap manusia lainnya melalui sebuah alat yang disebut bahasa. Melalui bahasa manusia dengan sesama manusia lainnya dapat saling menambah dan berbagi pengetahuan yang dimilikinya. Manusia dapat mengkomunikasikan latar belakang dan reasoning sebuah informasi yang dimilikinya sehingga ia merasa perlu untuk ditranspormasikan dan dikembangkan kepada orang lain.

Melalui bahasa, manusia dapat menstransformasikan kemampuan orang Australia dalam bercocok tanam kepada masyarakat Indonesia. Sehingga sifat buah lebat yang dimiliki petani Australia dapat ditranspormasikan ke petani berkebangsaan Indonesia. Bayangkan jika itu juga dimiliki oleh Kera. Mungkin kera yang satu akan bercerita tentang pengalamannya di satu daerah yang memiliki kebun buah lebat untuk ditranspormasikan kepada komunitas kera di daerah lainnya. Faktanya tidak demikian. Kera tetap hidup dalam habitatnya dan sulit melakukan transpormasi dengan komunitas kera di area dan daerah lain yang bukan menjadi koloninya.

Pengetahuan Binatang Tidak Mengalami Perubahan

Begitupun dengan penalaran. Melalui penalaran, manusia dapat mengembangkan pengetahuan dengan cepat dan mantap. Binatang dapat berpikir, hanya cara berpikirnya sangat sederhana. Misalnya, anak tikus ketakutan kalau ia melihat ada kucing. Ketakutannya itu karena ia juga memperoleh informasi dari induknya yang menyebutkan bahwa kucing suka memangsa tikus. Narnun tikus tidak dapat mengantisipasi bagaimana agar kucing tidak menangkap dan memakannya. Ketidakmampuan itu disebabkan karena binatang tidak mampu melakukan penalaran. Oleh karena itu, pengetahuan binatang tidak mengalami perubahan, meskipun zaman telah berubah demikian dahsyat.

Bukti kuat bahwa binatang tidak memiliki kemampuan melakukan proses penalaran terlihat dari sangakar burung. Rumah yang menjadi tempat utama huniannya, sejak kehadirannya di era yang mungkin sudah tidak lagi terhitung waktunya, sampai sekarang tetap sama. Ia tidak dapat melakukan inovasi dan perubahan. Sangkar burung itu pasti tetap dianggapnya indah dan mereka tetap nyaman didalamnya. Karena burung tidak memiliki kemampuan untuk mengkonstruk sangkarnya dalam tuntutan zaman yang mengitarinya.

Bayangkan bagaimana perubahan rumah manusia. Bermula ketika manusia hidup di atas pohon seperti binatang, kemudian membuat gua-gua di dalam tanah dan di dalam gunung-gunung, kemudian membuat bangunan-bangunan indah seperti terlihat hari ini. Rumah yang dibangun manusia ratusan tahun yang lalu terasa sangat tidak ideal untuk dilihat pada model rumah era sekarang. Sikap dinamis, progresiv dan inovatif yang dimiliki manusia dalam kasus rumah tadi, menjadi indikasi bahwa manusia secara umum memang berbeda dengan binatang. Perbedaan itu terjadi, sekali lagi karena manusia memiliki logika penalaran dan binatang tidak memilikinya. (Prof. Dr. H. Cecep Sumarna)

  1. Liris Wian berkata

    Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan berupa argumen.

  2. Sunoto berkata

    Penalaran adalah cara kerja berpikir manusia dalam menghasilkan ilmu pengetahuan. Yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya termasuk hewan yaitu manusia memiliki akal fikiran sedangkan hewan tidak. Dengan akal fikirannya manusia diberi tugas untuk berfikir kemudian diwujudkan dalam bentuk ilmu pengetahuan. dengan nalar, manusia juga dapat membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. sehingga manusia dikatakan sebagai makhluk yang sempurna karena memiliki akal untuk berfikir bahkan dari proses berfikir itu akan menentukan bagaimana sikap, watak, dan kepribadian seorang manusia. manusia yang memiliki fikiran seperti binatang yang tidak berfikir apa-apa ataupun bertingkah laku seperti binatang itulah yang dinamakan manusia yang tidak berada pada fitrahnya yaitu sebagai manusia. pendidikan hadir pada hakikatnya untuk memanusiakan manusia agar tetap berada pada fitrahnya sebagai manusia yaitu dengan transformasi nilai berupa akhlak dan juga ilmpu pengetahuan.

  3. Ahmad Fadli Mubarok berkata

    kunjungilah gudang ilmu agar kamu bisa bernalar

    dimana gudang ilmu yaitu ada di korteks otak kamu sendiri,,manfaatkan anugerah terbesar yang tuhan berikan kepada mu yaitu akal dan bahasa agar kamu bisa mengasosiasikan pengelaman kamu dan menjadi cara berpikir nalar

  4. Ahmad Fadli Mubarok berkata

    nalar merupakan proses dimana berpikir secara logis, dan kita dituntut untuk berpikir secara nalar,bagaiaman kah itu,,yaitu dengan mengunjungi gudang ilmu,,dimanakah gudang ilmu,,gudang ikmu itu sendr ada di dalam korteks otak kita,kita dapat mengunujungi gudang ilmu yaitu dengan mengasosiasi apa yang ada dalam pkiran kita,,,asosiasikan pengalaman yang ada dalam otak kita,,dan itu akan mendorong kita bernaalar

    anugerah terbesar yang allah berikan kepada ,manusia yang pertama adalah akal pikiran, dan yangkedua adalah bahasa,,,,dan akal pikiran serta bahasa itu sendiri merupakan alat atau komponen pentibg untuk berpikir secata nalar

    thank’s for your information bpk. Prof. H. cecep sumarna, M.Ag

  5. Nindia Nuraeni berkata

    Nalar merupakan aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis dengan pengetahuan tentang kaidah-kaidah berpikir / jalan pikiran yang masuk akal.
    Melalui hal seperti itu,manusia dapat menciptakan inovasi-inovasi yang lebih canggih dari sebelumnya.contohya dalam perkembangan iptek yang semakin maju. tetapi dalam hal ini,dengan logika yang sangat excellent dalam menciptakan inovasi banyak sekali dampak-dampak yang terjadi akibat perkembangan iptek yang semakin maju.
    Lantas,bagaimana kita bertindak dalam penalaran agar tidak menyebabkan halhal yg berdampak negatif seperti ilustrasi diatas.
    Ditunggu jawabannya prof.hehe
    Terimakasih

  6. Imam Bukhori (PPI) berkata

    Manusia merupakan subjek terpenting dalam kehidupan di muka bumi, lantaran manusia bukan hanya sebagai individu organic yang dapat berkembang dan bergerak, seperti hewan lainnya. Nah inilah yang menjadikan manusia menjadi subjek tersendiri dalam organisasi kehidupan. Secara alamiah, manusia yang mempunyai kelebihan diantara hewan lainnya, menjadi factor utama kenapa manusia itu berbeda. Adanya proses nalar, sebagai proses neurotic yang membentuk manusia dapat berinteraksi melalui peristilahan yang berbeda. Seperti halnya proses perkembangan manusia, dalam The Origin of Family, menusia mempunyai seuatu kelebihan dalam mengatur individu secara alamiah. Sehinggga manusia dapat memberikan peranan terhadap diri sendiri, maupun sesamanya dengan bahasa komunikasi verbal maupun aksi. Sehingga manusia satus sisi sebagai hewani, dapat memerankan hokum alam yang kompleks dan berbeda dari hewan lainnya. Peranan inilah yang membentuk manusia mempunyai peradaban yang tidak dimiliki oleh hewan. Sehingga peradaban ini membentuk manusia dapat member kamjuan berpikirnya secara dinamis, bahkan kita sebagai manusia seperti apa puncak peradaban manusia akan berakhir. Ilmu pengetahuan, dan teknologi ialah bentuk atau wujud nyata bahwa manusia mampu melakukan modifikasi nalar, dari primordialisme, modern, dan sampai pada saat ini.

    Lantas bagaimana untuk di masa mendatang, dengan penalaran manusia yang diprakarsai otak, member warna tersendiri dalam menciptakan bagaimana keturunan kita mendatang. Inilah peradaban, yang sama sekali kita tidak bias menghukumi akibat kemajuan yang berdampakkan pada manusia kembali. Karena bagaimanapun, nalar otak dan perkembangan peradaban menjadi factor terpenting dalam menginstruksikan untuk menciptakan mahakarya sebuah hasil pemikiran.

    Mohon koreksinya prof. trims

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.