Proses Nalar dalam Takdir Buta Manusia

0 101

Penalaran adalah cara kerja berpikir manusia dalam menghasilkan ilmu pengetahuan. Manusia disebut sebagai manusia, karena ia memiliki kemampuan melakukan proses penalaran. Penalaran dengan demikian dapat disebut sebagai inti manusia.

Secara teoritis, satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan untuk melakukan proses penalaran adalah manusia. Jenis makhluk Tuhan lain, selain manusia, pun Syeitan -yang sombong— dan Malaikat -yang taat ibadah— tidak ditakdiri Allah untuk memiliki kemampuan melakukan proses berpikir yang tadi disebut penalaran. Apalagi binatang seperti monyet, anjing atau babi. Binatang tidak mungkin melakukan apa yang disebut dengan penalaran.

Proses Nalar

Kenapa manusia mampu melakukan proses nalar? Sebab manusia adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang mampu berpikir. Karena itu, selain Tuhan, manusia adalah satu-satunya kreator ilmu. Mungkin karena itu pula, Allah memberi kepercayaan kepada manusia untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Kegiatan penalaran yang hanya mampu dimiliki dan dilakukan manusia, pasti melahirkan ilmu.

Kegiatan penalaran yang hanya dapat dikaitkan dengan kegiatan berpikir, secara langsung mengasumsikan bahwa kemampuan nalar adalah takdir buta manusia. Karena penalaran menggunakan logika, maka, kegiatan penalaran tidak mungkin dilakukan dengan menggunakan perasaan. (Jujun S. Suriasumanfrri, 1982)

Persoalannya, bagaimana manusia melakukan penalaran? Hasil apa yang diperoleh manusia atas kemampuannya melakukan penalaran? Inilah kajian penting yang akan disajikan di bagian ini.

Penalaran Versus Insting

Tadi disebut bahwa penalaran hanya milik manusia, tidak dimiliki Malaikat atau Syeitan, apalagi binatang. Takdir buta manusia adalah akal pikiran. Takdir buta Malaikat adalah kebaikan dan ketaatan. Takdir buta Syeitan adalah kejahatan. Takdir buta binatang adalah ketajaman insting. Makhluk Tuhan masing- masing memiliki takdir buta, hanya saja semuanya tidak memiliki potensi untuk melakukan penalaran seperti manusia. Kuat lemahnya manusia disebut sebagai manusia, terletak pada kekuatannya dalam melakukan penalaran. Makhluk Tuhan yang lain, selalu rendah daya adaptasinya terhadap rumusan penalaran.

Melalui penalaran itulah, manusia memperoleh kesempatan mendapatkan dan mengakses ilmu pengetahuan. Kekalahan binatang oleh manusia, bukan karena binatang kekurangan tenaga, dan besar kecilnya tubuh, tetapi karena manusia memiliki penalaran dan binatang tidak memilikinya. Binatang hanya memiliki insting. Insting binatang harus diakui memang sangat kuat mendukung makhluk ini untuk tetap survival. Kekuatan insting itu didukung oleh besarnya tenaga yang dimilikinya.

Dengan dua kelebihan yang luar biasa itu, binatang tetap dikalahkan manusia yang kecil. Kenapa demikian? Sekali lagi karena binatang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan proses penalaran. Karena binatang tidak memiliki kemampuan melakukan penalaran, maka ia tidak mungkin mengalahkan bukan saja manusia, tetapi ia juga tetap tidak mungkin mengalahkan alam yang menjadi tempat dan sandaran bagi segala kehidupannya.

Contoh. Saat gunung yang menjadi pijakan binatang belum memperlihatkan tanda-tanda akan meletus, binatang sudah pergi jauh meninggalkan gunung berapi yang akan meletus itu. la memiliki insting yang sangat kuat bahwa gunung di mana ia tinggal akan segera meledak. Mereka berjalan dengan koloninya masing- masing meninggalkan gunung yang akan meletus itu. Mereka mencari tempat baru untuk menyelamatkan diri. Getaran kecil yang mungkin belum terasa oleh manusia, meningkatnya suhu gunung, sudah dirasakan binatang.

Dalam kasus seperti ini, manusia kalah jauh oleh binatang. Manusia bahkan mungkin belajar dan berusaha mengambil pelajaran dari kuatnya insting binatang. Mbah Marijan di Jogjakarta, baru menyuruh warganya untuk melakukan evakuasi dari gunung yang dianggap akan meletus, setelah binatang dari gunung dimaksud turun. Sebelum binatang pada turun, mbah ini menyaranan tetap tinggal di rumah masing-masing, meskipun TIM SAR AHLI Republik Indonesia telah memerintahkan untuk melakukan evakuasi.

Potensi Diri Manusia

Rendahnya insting yang dimiliki manusia, telah menyebabkan manusia terlambat menghindari dinamika alam. Manusia baru mengetahui bahwa gunung akan meledak misalnya, ketika tanda- tanda praktis akut menunjukkan bahwa gunung itu akan meledak. Gunung itu sudah terlihat, terdengar dan terasa.

Dalam dongeng “Seribu Satu Malam” atau bahkan ada yang menyebutnya dengan hadits dalam konteks ini menjadi seolah benar. Dalam kisah itu disebutkan bahwa binatang tahu seseorang yang rnati kemudian dikuburkan, disiksa atau tidak dalam kubur. Secara teoritis melalui logika ini, pernyataan atau hadits tadi mungkin memperoleh pembenaran. Sebab binatang benar-benar memiliki insting yang sangat kuat dan ini tidak dimiliki manusia.

Namun demikian, potensi manusia yang tidak memiliki insting kuat itu, dapat segera mengalahkan binatang yang berlari dengan cepat mencari penyelamatan diri (survival) karena manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan melalui suatu upaya sistemis dalam mengatasi problem gunung meletus. Manusia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru yang bukan sekedar mempertahankan hidupnya, ia memberi makna terhadap hidup. Ia terus menerus memikirkan gejala apa yang menyebabkan terjadinya ledakan gunung, bagaimana mengantisipasinya agar tidak terjadi ledakan berikutnya, alat dan sarana apa yang digunakan untuk mengantisipasi ledakan gunung tersebut dan seterusnya. Manusia memikirkan gejala alam tadi melalui hukum sebab akibat. Hukum dimaksud dapat juga disebut penalaran. Penalaran, dengan demikian menjadi faktor penting yang membedakan manusia dengan binatang.

Gambaran di atas dapat dilanjutkan dengan menelisik faktor yang menjadi penyebab utama manusia memiliki kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga dapat mengalahkan binatang. Secara sederhana, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan kenapa manusia memiliki kemampuan untuk memperoleh pengetahuan dan tidak mungkin dilakukan dan diperoleh binatang. Dua faktor ini adalah: manusia memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa apapun, dan kedua manusia memiliki kerangka berpikir menurut kerangka alur tertentu yang kemudian disebut penalaran.

Kera misalnya, tahu mana buah Apel yang matang dan mana buah Apel yang belum matang. Ia juga tahu mana Apel yang berisi dan mana buah Apel yang tidak berisi. Tetapi, Kera tidak pernah tahu bagaimana agar pohon Apel itu dapat berbuah lebat dan bagaimana buah Apel itu dapat memiliki buah yang berisi. Ia tidak dapat mengembangkan model pertanian seperti ia juga tidak dapat mencari alternative pemupukkan terhadap pohon Apel agar memperoleh buah yang lebih baik. Ketidakmampuan Kera dan binatang lainnya dalam mengembangkan pengetahuan, disebabakan oleh tidak adanya bahasa dan kerangka berpikir dengan alur berpikir tertentu seperti yang dimiliki manusia.

Melalui Bahasa

Melalui bahasa, manusia bukan saja dapat berkomunikasi dengan manusa lainnya, tetapi ia juga dapat memperdebatkan temuan dan pengetahuannya terhadap manusia lainnya melalui sebuah alat yang disebut bahasa. Melalui bahasa manusia dengan sesama manusia lainnya dapat saling menambah dan berbagi pengetahuan yang dimilikinya. Manusia dapat mengkomunikasikan latar belakang dan reasoning sebuah informasi yang dimilikinya sehingga ia merasa perlu untuk ditranspormasikan dan dikembangkan kepada orang lain.

Melalui bahasa, manusia dapat menstransformasikan kemampuan orang Australia dalam bercocok tanam kepada masyarakat Indonesia. Sehingga sifat buah lebat yang dimiliki petani Australia dapat ditranspormasikan ke petani berkebangsaan Indonesia. Bayangkan jika itu juga dimiliki oleh Kera. Mungkin kera yang satu akan bercerita tentang pengalamannya di satu daerah yang memiliki kebun buah lebat untuk ditranspormasikan kepada komunitas kera di daerah lainnya. Faktanya tidak demikian. Kera tetap hidup dalam habitatnya dan sulit melakukan transpormasi dengan komunitas kera di area dan daerah lain yang bukan menjadi koloninya.

Pengetahuan Binatang Tidak Mengalami Perubahan

Begitupun dengan penalaran. Melalui penalaran, manusia dapat mengembangkan pengetahuan dengan cepat dan mantap. Binatang dapat berpikir, hanya cara berpikirnya sangat sederhana. Misalnya, anak tikus ketakutan kalau ia melihat ada kucing. Ketakutannya itu karena ia juga memperoleh informasi dari induknya yang menyebutkan bahwa kucing suka memangsa tikus. Narnun tikus tidak dapat mengantisipasi bagaimana agar kucing tidak menangkap dan memakannya. Ketidakmampuan itu disebabkan karena binatang tidak mampu melakukan penalaran. Oleh karena itu, pengetahuan binatang tidak mengalami perubahan, meskipun zaman telah berubah demikian dahsyat.

Bukti kuat bahwa binatang tidak memiliki kemampuan melakukan proses penalaran terlihat dari sangakar burung. Rumah yang menjadi tempat utama huniannya, sejak kehadirannya di era yang mungkin sudah tidak lagi terhitung waktunya, sampai sekarang tetap sama. Ia tidak dapat melakukan inovasi dan perubahan. Sangkar burung itu pasti tetap dianggapnya indah dan mereka tetap nyaman didalamnya. Karena burung tidak memiliki kemampuan untuk mengkonstruk sangkarnya dalam tuntutan zaman yang mengitarinya.

Bayangkan bagaimana perubahan rumah manusia. Bermula ketika manusia hidup di atas pohon seperti binatang, kemudian membuat gua-gua di dalam tanah dan di dalam gunung-gunung, kemudian membuat bangunan-bangunan indah seperti terlihat hari ini. Rumah yang dibangun manusia ratusan tahun yang lalu terasa sangat tidak ideal untuk dilihat pada model rumah era sekarang. Sikap dinamis, progresiv dan inovatif yang dimiliki manusia dalam kasus rumah tadi, menjadi indikasi bahwa manusia secara umum memang berbeda dengan binatang. Perbedaan itu terjadi, sekali lagi karena manusia memiliki logika penalaran dan binatang tidak memilikinya. (Prof. Dr. H. Cecep Sumarna)

Komentar
Memuat...