Psiko Hermeneutika sebagai Alternatif

0 23

Psiko Hermeneutika sebagai Alternatif: Seperti dijelaskan dalam postingan sebelumnya dengan judul Hermeneutika Dalam Studi Al-Quran, hermeneneutika kritis adalah hermeneutika yang tidak saja mempersoalkan bahasa tetapi juga mempermasalahkan ekstra linguistik, aspek yang tersembunyi yang ikut meramaikan penafsiran namun dominan yaitu ideologi.

Aspek yang tersembunyi itu bisa berupa motif-motif perasaan ingin menguasai, atau kebencian akan sesuatu. Motif-motif tersebut dirumuskan dalam bentuk bahasa agar dapat memengaruhi audien atau pembaca. Di antara aliran hermeneutika kritis ada yang konsen untuk mempersoalkan motif-motif ini.

Motif-motif tersebut bersifat psikologis karena berhubungan dengan kejiwaan, suasana batin dan gejolak-gejolak jiwa tertentu. Namun hermeneutika kritis model ini berbeda dengan hermeneutika klasik. Dalam hermeneutika klasik suasan kejiwaan dirujuk untuk mendapatkan makna asli.

Penafsiran ditentukan dan mengikuti suasana kejiwaan pengarangnya. Sementara dalam psiko-hermeneutika ini, suasana kejiwaan justru dibongkar untuk disikapi secara kritis. Suasana kejiwaan pengarang tidak boleh merasuk dalam suasana yang berbeda dan dalam ruang yang berbeda. Lalu kenapa motif-motif perasaan itu perlu dalam studi tafsir?

Manusia adalah teks yang berjalan. Ia berabahasa dan berperasaan untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Bahasa menunjukkan derajat spesies. Perasaan manusia menunjukkan perbedaannya dengan insting hewan. Bahasa dan perasaan adalah dua hal yang berbeda tetapi saling mempengaruhi. Bahasa mampu mempengaruhi perasaan seseorang. Sebaliknya perasaan seseorang mampu menghasilkan bahasa.

Setiap orang ketika berbicara, berinteraksi, atau membaca teks selalu dipengaruhi oleh keadaan perasaan (emosi); apakah senang-sedih, cinta-benci, takut-berani, cemburu-cuek. Pembaca pasti terpengaruh oleh perasaan dan teks mempengaruhi cara dan pemaknaan bacaan. Terjadilah komunikasi dua arah yang saling mempengaruhi; saling menguatkan maupun saling melemahkan.

Dimensi Berbahasa

Berbahasa selalu mengandaikan dua dimensi; internal dan eksternal. Dimensi internal adalah siutuasi psikologis dan kehendak berpikir. Sedang dimensi eksternal adalah tindakan menafsirkan dan mengekspresikan kehendak batin dalam wujud lahir; yaitu kata-kata yang ditunjukan pada orang lain. karena bahasa selalu melibatkan situasi psikologis, ia tidak selalu dapat merepresentasikan seluruh perasaan, pikiran dan isi hati. Kebenaran bahasa tidak terletak pada teks yang terucap, tidak juga pada bahasa tubuh, tapi pada kumpulan ekspresi yang sulit diungkapkan dan diketahui oleh si produsen kata-kata.

Kita hanya bisa mendekati maksud dan tujuan si produsen kata-kata. Misalnya, tidak semua kalimat “aku benci padamu” mewakili kebenciand ari perasaan produsen. Kalimat itu bisa saja “hanya” mewakili separuh dari perasaan bencinya, bisa juga seluruhnya, bahkan bisa juga melebihi perasaan kebenciannya.

Ketika kita berkomunikasi berbicara dengan orang lain tentang sesuatu yang ada di luar komunitas (out group), kecenderaungan yang ada adalah in group melekatkan kedekatannya dengan anggota, sekaligus menciptakan jeda rasa, bahkan mungkin kebencian dengan out group-nya (lanâ walakum- milik kami dan milik mereka).

Dalam tradisi Islam yang selalu merujuk pada teks, pembacaan terhadap teks sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi kejiwaan, di mana emosi benci dapat melahirkan teks kebencian dan tafsîr kebencian. Kebencian seseorang bisa lahir karena beberapa sebab, misalnya; depresi, cemas, takut, obsesi, tidak aman, tidak mamu, rasa bersalah, frustasi, bingung, jengkel, sakit hati, tidak percaya dan marah.

Kondisi psikologis inilah yang menjadi perhatian kritis psiko-hermeneutika. Mencari motif-motif yang menghasilkan sebuah tafsîr. Seperti diketahui tidak semua ayat Al-Qur’ân bersifat netral dan demokratis, melainkan subjektif dan berlaku bersifat pembelaan.

Ayat-ayat yang terproduksi sangat manusiawi, tidak bebas nilai, memihak, mengikutsertakan situasi saat itu, melegitimasi perasaan-perasaan sat itud an menjiwaipara peserta dialog pada saat diwahyukan. Ada perasaan-perasaan tersembunyi yang hadir dalam redaksi ayat, baik dari perasaan Tuhan, Muhammad dan komunitas saat itu yang terang maupun yang samar-samar (mutasyâbih).

Sifat Tafsîr; Terbatas dan Tidak Abadi

Karena tidak netral maka sifat tafsîr pasti terbatas dan tidak abadi. Ia bisa diproduksi kembali dan seterusnya sampai hari akhir tiba. Teks dan kalimat selalu merupakan hasil dari rasa, olah karsa dan olah karya yang berupa kecintaan, kebencian, kecemburuan, kemarahan, kekecewaan, iri, kedengkian, dan ketakutan.

Teks yang ada kemudian mensuplai dan menjadi daya dorong kehadiran perasaan yang kemudian membentuk dan menghasilkan teks baru yang persifat peneguhan. Logika ini berputar dan berulang untuk saling meneguhkan dan menguatkan.

Psikologi masuk dalam hermeneutika bukanlah sesuatu yang baru karena hermeneutika juga menjadi metode penafsiran yang sangat penting, terutama dalam disiplin ilmu-ilmu humanistik seperti teologi, filsafat dan sastra. Sebagai metode yang utama dalam filsafat, hermeneutia diposisikan sebagai bagian dari ilmu filologi. Yakni, ilmu yang membahas asal-usul bahasa dan teks dan sangat berhubungan erat dengan historiografi. Oleh karena itu, hermeneutika berangkat dari tradisi filsafat bahasa yang kemudian melangkah pada analisa psiko-historis.

Kesadaran psiko-historis ini menjadi isu sentral dalam metode hermeneutika Al-Qur’ân kontemporer, sebab mesti disadari bahwa makna yang hadir dalam sebuah teks tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan historis sebagai hasil dari perubahan waktu dan tempat.

Cara kerja hermeneutika, sebagaimana di jelaskan Komaruddin Hidayat, adalah dengan model abduktif, yaitu mendekati data atau teks dengan sekian asumsi dan probabilitas sehingga muncul sekian kemungkinan wajah kebenaran. Metode ini, mau tidak mau, akan melahirkan lingkaran hermeneutik, yaitu proses dinamis dalam menafsirkan teks berdasarkan asumsi-asumsi, pengalaman, serta terjadinya saling penafsiran antar teks atas teks yang kemudian melahirkan jaringan dan lingkaran antar teks. Berdasarkan ini, hermeneutika lebih tepat disejajarkan dengan ta’wîl  bukannya tafsîr, dalam tradisi ilmu keislaman.

Psikoanalisis Hermeneutika

Metode ini ingin mengungkap makna yang tak terbahasakan karena terepresi atau pengungkapan makna yang terdeviasi atau bahkan tereduksi akibat kendala sistem komunikasi. Di sinilah jasa psikoanalisis yang bisa disandingkan dengan hermeneutika, yaitu memecahkan persoalan distorsi makna baik karena represi maupun mis-komunikasi. Kita bisa memahami diri sendiri dengan memahami orang lain; yaitu dengan mengatasi jarak dan waktu yang memisahkan pembaca-penafsir dengan teks dan benturan-benturan di sejarah kehidupan keempatnya; produsen, teks, konteks, pembaca-penafsir. Karena itu ia bergerak dalam empat tahap pula; semantik, refleksi, eksistensi, eskatologis.

Kegiatan yang dihasilkan psiko-hermeneutika adalah pencarian makna (meaning) untuk menghasilkan pemahaman (understanding). Makna akan muncul di saat kemampuansesuatu untuk dipahami dan mempertahankan diri. Ia tidak terpututs dari realitas melainkan menyambung dengan kegiatan aktif dengan menunjukkan keberadaannya. Sedang memahami adalah aktifitas untuk melihat keberadaan sesuatu yang meliputi struktur, aksi dan relasinya dengan sejarah sekitar. Makna dan memahami menjadi kata kunci dalam cara-cara psiko hermeneutika bekerja.

Bahasa Lahir dari Rahim Pluralitas

Bahasa adalah ungkapan yang lahir dari rahim pluralitas. Demikian pula bahasa agama, ia dipengaruhi oleh kondisi sosial, kondisi politik, kondisi ekonomi, kondisi kebudayaan dan kondisi emosi. Emosi seseorang yang berama; sedih, senang, marah, takut dan lain-lain mampu memproduksi pelbagai bahasa turunan yang berbeda-beda.

Apalagi, manusia secara psikologis adalah makhluk pesakitan yang mudah tertekan, bingun dan berkeluh kesah. Karena tertekan, ia mencari cara untuk menghilangkan kesakitan dan kecemasannya itu. Berkata, berkalimat, menulis, dan berbuat merupakan akibat dari manusia dalam usaha menemukan cara untuk menghilangkan menyalurkan mengalihkan dan menekan kecemasannya.

Kata dan kalimat yang muncul dari seseorang bisa ditelusuri dari kondisi dan emosi seseorang yang sedang bekerja. Ketika seseorang marah, ia bisa menyerang, merusak, berantem, berkepribadian anti sosial, melakukan tindakan displacement dan menyegerakan pembalikan sikap. Bahasa ungakapan, bahasa tubuh, bahasa pelariannya sangat jelas terbaca. Ita bisa menyimpulkan dengan mudah apa yang terdengar dan terlihat (kata dan kalimatnya) dengan mengetahui lebih dahlu motivasi dan situasi psikologis dirasa oleh produsen kata-kalimat tersebut.

Tafsîr Al-Qur’ân yang tradisional apapun model dan metodenya masih berputar pada angka 1, 2 dan 3 pada diagram di atas. Pendekatan psiko-hermeneutika memperkayanya dengan nomor 4 yaitu situasi psikologis sebagai base on ayat dan sebagai base on tafsîr. Situasi psikologis yang dimaksud adalah setiap perasaan yang kita miliki. Perasaan yang melahirkan rasa enak maupun tidak enak, positif maupun negatif, mambangun maupun merusak.  Dr. Ahmad Munir, M.Ag –Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo–


Bahan Bacaan

Nafisul Atho dan Arif Fahruddin (ed), Hermeneutika Transendental, (Yogyakarta: Ircisod, 2003)

M.Yudhi Haryoni, Melawan dengan Teks

Ilham B Saenong, Hermeneutika Pembebasan, (Jakarta: Teraju, 2002)

Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.