Puisi Filosofi dalam Memaknai Hidup| Kumpulan Puisi Prof. Cecep Sumarna Part – 3

0 1.900

Berfilsafat berarti penggunaan alat berpikir dalam mencari kebenaran. Meski tidak semua aktivitas berpikir disebut berfilsafat, tetapi, berfilsafat tidak mungkin dilakukan tanpa menggunakan alat berpikir. berfilsafat karena, butuh ciri dan butuh karakter tertentu yang ditentukan filosof itu sendiri.

Suatu kerangka berpikir tertentu, baru disebut berfilsafat apabila memenuhi tiga ciri. Ketiga ciri dimaksud adalah: Radikal, sistematik, spekulatif  dan Universal” (Baca : Ciri Berpikir Filsafat). Karater Puisi Filosofis, tentu memiliki terminologi berbeda dengan jenis puisi-puisi lainya. Inilah, kami [team admin lyceum] kira, yang membedakan puisi-puisi Prof. Cecep Sumarna dengan puisi lainnya. Puisi-puisinya agak susah dimaknai dan memerlukan kemampuan untuk merenung.

Menuju-Mu

Betulkah langkah kakiku selalu diiringi-Mu
Betulkah gerak bathinku selalu dalam perlindungan-Mu
Betulkah ucapanku yang melankolis selalu didengar-Mu
dan … betulkah desah bathinku Kau dengarkan dengan syahdu

Hai … Tak pantas kau tak yakin
Tak patut jika kau ragu
Tak elok jika kau kapok
begitulah nuraniku membisiku

Ku ingin setiap kataku menyentuh-Mu
Ku ingin setiap tetesan keinginanku membalut-Mu
Ku ingin setiap nalar cintaku dapat membangkitkan-Mu
Meski Kau tak pernah memintaku untuk Excessive atas keindahan-Mu

Malam pasti datang bersama kegelapan
Kuyakin bersamanya bulan dan bintang bercahaya akan menerangiku
Sinar surya-Mu di siang hari kadang tertutup awan tebal
Tapi aku yakin tak berapa lama dunia akan kembali terang

Jalanku menuju-Mu memang terjal dan berliku
Tapi akan terus kugapai untuk menjaga semua rasa cintaku pada-Mu
Dakianku digunung-Mu kadang melelahkan dan membosankan fisik tubuhku
Tapi sering Kau kirimkan kebahagian bathin yang tak mampu kutampakkan selain kepada-Mu

Tabir tak Menghalangi Rinduku Pada-Mu

Laut-Mu penuh gelombang
Gunung-Mu begitu menjulang
Awan-Mu begitu tebal dan gelap
Tetapi, Kau tak tutup rinduku pada-Mu

Dinding-Mu begitu tebal dan kokoh
Selalu berlindung di Arasy-Mu yang terkunci
Diselimuti jutaan tirai yang menghalangiku
tetapi, kuyakin Kau tetap mencintaiku dengan tulus

Meski kutak pernah mendapatkan wahyu-Mu
Ditabir-Mu yang misterius
Tetapi Kau selalu setia melalui bilik nafasku
berbisik untuk mengatakan Aku merindukanmu

Ku tak lagi bertanya mengapa semua ini harus berjalan
Padahal tubuhku sudah dilumuri keringat yang menyesatkan
Hanya karena aku ingin Kau tahu
Bahwa betapa aku sudah berada di batas ambang cinta-Mu

Saat itu, Kau hanya berkata
Hai … Rindukanlah Aku selamanya
Agar Ku dapat mengampunimu selamanya. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.