Take a fresh look at your lifestyle.

Puisi Penawar Harapan

1 122

Penawar Harapan

Puisi Penawar Harapan

Puisi Penawar Harapan

Kiki Ahmad Bulkini

Suatu hari Aku mengadu pada Tuhan.
Tuhan, bukankah api itu panas bila terkena tangan ?,
dan dingin adalah obat penawar kesembuhan?
Walau tidak seperti mukjizat keajaiban.
“Kau Sembuhkan Segala penyakit dengan berbagai penawar.” Walau itu lama, dan berjangka.
Kau hadirkan ketenangan dikala keresahan,
kau hadirkan senyuman dikala kegelisahan,
kau hadirkan tawa dikala kesedihan.

Engkau maha penawar dari segala penawar.
Tuhan, kalau boleh aku bercerita akan arti sebuah perjuangan,
setiap langkah hamba mu ini penuh dengan kenang harapan,
Kerap ku injak di tempat yang sama, Ku lihat tanpa melihat.
Ku ingat pura tak mengingat.
Tetapi tetap tuhan, semuanya sama dan tak berubah.

Pernah ku ungkap dalam suasana hati biar ia sejenak pergi.
Ku bingkai dalam puisi “Ku titipkan pada malam rembulan dan siang ketenangan.”
Tetapi tetap, rasa takut kehilangan itu Hantu yang sangat menakutkan.
Entah racun apa yang telah dia berikan,
serasa alutsista perang mengepung dimana-mana.
Aku takut tertembak, aku takut meledak, aku takut sekarat, dan aku belum siap
Tuhan, jika harus meninggalkan apa yang semestinya aku harapkan.
Aku masih nyaman dengan pepatah itu, canda itu, gurawan itu, lagu itu, suara itu,
dan segala hal tentang nya, tuhan.

Handai tolan ku kau ciptakan dan kau titipkan permata itu hanya satu untuk ku simpan.
Mungkin, tenanglah jiwa ini tanpa ku harus menggrutu pada mu dengan doa-doa usangku.
Doa yang setiap bait-bait nya hanya nama yang tidak berubah,
doa yang setiap bait-baitnya hanya keinginan yang tetap sama dan dia tetap menjadi aktor dalam segala doa ku ini.

Maafkan saya tuhan, jika memang dia penawar dan takdir hidup ku, simpan setitik harap dalam jiwanya Dan sampaikan pada harap yang tak terlihat itu
Bahwa hamba tetap seperti biasanya.

Salam rindu kepada harap yang sempat hilang.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

  1. *Sungguh elok puisi ini dari segi bahasa. Seolah olah saya masuk dalam puisi tersebut. Yah memang. Segala apapun itu mengadu kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang mengerti segalanya. Hanya Tuhan yang mampu mengobati segala hal lara. Hanya Tuhan yang menjadi pelipur lara.
    Sungguh nikmat jika kita dekat dengan Tuhan, bahagia jika dekat dengan Tuhan.