Puisi-puisi Spiritual | Kumpulan Puisi Prof Dr H Cecep Sumarna Part – 15

0 246

Berikut ini adalah puisi-puisi spiritual yang berbentuk do’a, harapan dan keinginan dari Prof. Cecep Sumarna akan potensi alami yang dimilikinya dan dimiliki manusia-manusia disekitarnya. Puisi seperti ingin mencerminkan bagaimana dia verharap akan datangnya kekuasaan Tuhan saat berbagai badai kehidupan menghampirinya. Berikut ini Admin lyceum menampilkan empat puisi eksentrik dalam judul Diam-ku, Kau-lah Pelindung Kami, Menanti Kahiyangan dan Bayangan Kecemburuan.

Diam-ku

Langkahku tak mungkin terhenti
Hanya karena matahari tenggelam
Mulutku tak mungkin diam tanpa suara
hanya karena aku tak memiliki Hasyrat

Jiwaku tak mungkin menyendiri
hanya karena jiwaku tak tentram
Lagu tak mungkin tak kugubah
hanya karena aku cukup lelah

Diamku adalah pengorbanan
sama dengan berjalanku yang tak mampu kuutas
Semua harus berjalan dan tetap berjalan
agar bumi mampu kusiram dengan kedamaian

Kau-lah Pelindung Kami

Ya …. Tuhan
Engkau akan tetap menjadi pelindung kami
Penjaga dalam tidur dan terjaganya kami
Pemelihara atas segala apa yang Kau berikan sama kami

Ya …. Tuhan
Jauhkan kami dari segenap prasangka buruk terhadap-Mu
dan terhadap seluruh ciptaan terbaik-Mu
Kau tetap akan memberi yang terbaik bagi kami

Ya …. Tuhan
Jalan-Mu tetap lurus dan terbentang panjang
Kokohkanlah kaki kami agar tetap lurus dan tegak
dan agar setiap rintangan dapat kami atasi

Ya …. Tuhan
Kau telah mengabarkan kami bahwa bumi-Mu tidak sebanding dengan Arasy-Mu
Kuasa-Mu tak sebanding dengan apapun yang telah Kau ciptakan
Aku ingin duduk syahdu menyaksikan segala hal yang terbaik bagi kami

Ya …. Tuhan
Kau telah mengabarkan kami bahwa Kau adalah segalanya
Karena Kau adalah segala seluruh kesegalaan
maka Kami sedang menunggu kesegalaan-Mu

Ya … kami sedang menunggu
Menunggu yang aku yakin hanya Kau dan aku
yang tahu segalanya untuk terbang
dalam samudera yang sebagiannya akan Kau hadiahkan kepada kami

Malamku adalah siangku
sama dengan hujanku dan kemarauku
selalu akan kujalani seperti aku berjalan
dalam gunung yang menjulang atau lautan yang bergelombang

Menanti Kahiyangan

Duduk seorang pemuda bijak
Dengan senyum simpul penuh makna
Kebahagiaan tersirat dalam bathinnya
Meski kegetiran menyergap bayangan hidupnya

Siang dan malam dilalui tanpa duka
Diterjang seperti plamboyan sakti penuh misteri
Hanya kalimah sakti dan harapan penuh makna
Yang menghibur jiwa yang lama menantang

Kedamaian adalah jalan kesempurnaan dirinya
Berlari menggapai mimpi yang sulit bertepi
Mengimajinasi detak jantungnya yang berirama
Badai dianggapnya pasti berlalu

Di bathinnya dia selalu berucap
Akan kehadiran dewi kahiyangan yang dinanti
Apa daya semua harus serba menanti
Kalimah sakti sang Maha Gusti

Dipersembahkan untuk Sang Paman, Maskun Kuncoro Jakti

Bayangan Kecemburuan

Mataku kadang redup tanpa binar cahaya
Saat jiwaku terkoyak akan ketulusan cinta
yang kuutaskan kepada jiwamu

Tubuhku kadang sulit berganti
saat rebahan badan menghalau rasa cinta
tulusmu kepadaku

Ketulusan cintamu membuat aku tak berdaya
tuk menyaksikan segenap cinta Tuhan dalam kesemstaan
karena selalu kau halau dalam kesembiluanmu

Sadarlah bahwa sesungguhnya hanya dirimu
yang menyertai seluruh nafasku
Hanya sayang kau tak pernah tahu hingga ….
cemburu membunuh cumbuan dan kasih sayangmu

Puisi didedikasikan untuk ACEP M. LUTVI. Edited by Ali Alamsyah

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.