Pujian itu Menjatuhkan

ilustrasi: applause
0 119

Pujian itu Menjatuhkan. Tidak ada manusia yang jatuh karena ketawadluan. Manusia akan hancur, justru karena ia ingin mendapatkan pujian atau merasa layak dipuji orang lain. Keinginan untuk dipuji, pasti terjadi karena ia merasa memiliki kelebihan dibandingkan dengan manusia yang lain.

Fira’un, Namrudz dan Qarun sendiri runtuh salah satunya karena selalu ingin mendapatkan pujian. Fakta, mereka juga banyak dipuji komunitas di jaman dan di generasinya. Banyak sekali tentara, prajurik, pamong praja dan berbagai instrumen birokrasi negara yang dia pimpin.

Mereka umumnya menganggap bahwa dunia telah berada dalam genggamannya. Ia mungkin sombong dan merasa layak dipuji, jika tidak memiliki kelebihan dibandingkan dengan manusia lain di generasinya. Karena itu, sesungguhnya, mereka bukan manusia biasa. Mereka adalah manusia yang memperoleh karunia Allah yang Maha Besar. Hanya disayangkan, mereka, sombong atas apa yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Alasan Keruntuhan

Pertanyaannya, mengapa bisa runtuh dalam segenap kedigjayaan yang mereka miliki? Mengapa mereka tersungkur saat berbagai piranti telah dikuasainya secara sempurna? Mengapa mereka tidak runtuh saat memulai membangun kekuasaannya atau saat banyak orang masih jauh darinya?

Jawaban terhadap pertanyaan di atas, ternyata karena secara filosofi dan theology, mereka hendak mengambil sipat Tuhan. Umat manusia yang beriman, dalam agama apapun yang dia anut, selalu dan pasti sadar bahwa segala puji hanya milik Tuhan.Islam memperkenalkan teori ini dengan pernyataan dalam surat al Fatihah [1]: 2 yang menyatakan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara semesta Alam”.

Karena itu, dalam makna ini, siapapun yang ingin dipuji, ia berarti telah mengambil atau minimal bercita-cita mengambil Kursi Tuhan. Tuhan menjadi demikian marah kepada manusia sejenis ini. Karena itu pula, maka, yang menghukum mereka yang ingin selalu dipuji itu adalah  bukan manusia atau makhluk lain, tetapi Tuhan itu sendiri.

Apa makna di balik fenomena ini. Jawabannya tunggal juga, yakni: Kita tidak mesti takut terhadap mereka yang dengan berbagai keunggulan Tuhan yang diberikan kepadanya, tidak digunakan secara proporsional. Mengapa? Karena Tuhanlah yang akan membalas atas segalanya.*** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...