Purnama Bersembunyi di Bulan Robiulawal

0 13

TANGGAL 12 Robiulawal 1438 H, Senin (12/12) bulan belum lagi penuh. Tinggal dua hari lagi purnama tiba, namun sepertinya bulan purnama yang diharapkan bertengger di atas langit tak lagi muncul. Sejak sore hujan yang dibarengi petir dan kilat membelah langit Caruban yang menaungi tiga keraton, satu peguron dan makamkeramat Sunan Gunung Jati.

Tak seperti biasanya, bulan selalu muncul pada malam pelal, meski Robiul Awal jatuh pada musim penghujan.. “Bulan teduh” sebuah sajak yang pernah ditulis penyair Sirullah Kaelani Insan Kamil mensyiratkan keindahan langit yang tak berawan saat itu. “Langit bersih,  seperti wajahmu wahai bulan teduh.” Itulah “bulan tanpa awan”  (wulan tan ana mega) sebagai gambaran  keindahan ragam kebudayaan  di tanah para wali ini.

Dua hari sebelum 12 Robiulawal, ribuan orang dari berbagai daerah berbondong-bondong menuju ke pusat pemerintahan masa lalu. Sebuah kesultanan tua. Lebih tua dari Mataram Islam. Kesultanan itu tak lain adalah Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan.

Gerimis senja yang membahasi kepungan pengunjung, para pedagang kakilima, doger monyet, kemidi putar dan pedagang makanan tradisional. Sementara para prajurit keraton dengan pakaian khas yang dilengkapi dengan keris dan tombak berkemas menyambut tamu agung di regol (pintu gerbang) keraton. Sinar bulan memang menembus langsung ke area itu. Tak ada setitik awan pun yang menghalanginya. Persis buah emas yang bertengger di langit biru. Meskipun pelal maulid jatuh pada musim rendengan. Inilah peristiwa luarbiasa yang datang setiap tahun.

Alun-alun di tiga keraton itu memang tak banyak mengalami perubahan setiap tahunnya. Bangunan tua Pancaniti dan Sitihinggil tetap memancarkan keanggunannya sebagai bagian dari arsitektur keraton. Hampir selama sebelas bulan bangunan tua tersebut seakan sepi tak berpenghuni. Hanya selama sebulan, daerah sekitar keraton mendadak meriah dengan berbagai aroma keriuhan. Hari-hari sibuk yang hanya berlangsung sebulan sekali dalam setahun, yakni pada pertengahan bulan Safar dan Robiulawal.

Maklum pada bulan-bulan itu tiga keraton dan  peguron di Cirebon secara tradisional membuat perhelatan besar, upacara tradisional maulid. Suatu upacara yang telah dilakukan sejak awal abad ke-15 hingga kini. Pun tak ada perubahan mencolok dari windu ke windu pada peristiwa budaya itu. Perubahan hanya terjadi pada pergeseran nilai, dari budaya ke ekonomi. Peringatan maulid kini tak ubahnya seperti pesta tahunan yang meriah.

Meski demikian peringatan maulid ternyata masih membawa  berkah. Tak ada peristiwa yang serupa di jalur Pantura Jawa Barat yang mampu menyedot dana miliaran rupiah. Ratusan ribu pengunjung dari berbagai daerah – dari Jawa maupun luar Jawa –  dengan ikhlas membelanjakan sebagian uangnya.

Bagi masyarakat bawah belanja dilakukan pada hamparan pedagang kakilima di tiga alun-alun keraton, Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan. Lautan pedagang kakilima merupakan pemandangan yang memiliki magnet kuat bagi setiap pengunjung. Tak ada seorang pedagang pun yang mengalami kerugian pada peristiwa muludan ini.  “Pesta Kakilima” memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam budaya tradisi mulid ini.

Sementara kalangan menengah banyak menghabiskan uangnya untuk biaya hotel atau belanja di rumah makan, kios oleh-oleh Cirebonan dan rekreasi yang tersedia di sekeliling kota itu. Suatu siklus ekonomi rakyat yang berjalan normal. Bahkan hampir menyamai keadaan pada bulan Ramadhan.

“Muludan” bagi masyarakat Cirebon adalah dua peristiwa tahunan yang selalu ditunggu kedatangannya.

Muludan” – begitu masyarakat menyebut even itu – bagi masyarakat Cirebon adalah dua peristiwa tahunan yang selalu ditunggu kedatangannya. Peristiwa budaya sekaligus ekonomi. Keduanya tak bisa dipisahkan satu sama lain, persis seperti koin uang logam. Penghikmatan peristiwa budaya yang semula menjadi inti upacara sakral justru kini tergeser dengan peristiwa ekonomi sendiri. Puncak peristiwa budaya paling tidak hanya berlangsung sekitar sepekan. Puncaknya terjadi pada malam pelal, 12 Robiulawal.

Berbeda dengan peristiwa ekonomi, maulid dimaknai sebagai ajang bisnis masyarakat kecil. Sebulan sebelum pelal ratusan pedagang kakilima telah menyiapkan segala sesuatunya untuk “siap tempur”.  Bahkan tak sedikit pedagang yang telah mengontrak lahan dagang di seputar alun-alun keraton dua tahun sebelumnya. Karena itu  muludan  adalah bisnis rakyat kecil dengan latarbelakang budaya.

Rekreasi pada musim maulud di Cirebon sesungguhnya menggerahkan. Panas dan keringat bercampur aduk menjadi satu. Terkadang juga terjadi cuaca ekstrem,  antara panas dan hujan. Maklum kota itu merupakan kota pantai dengan rata-rata panas 35 derajat celcius. Plus kegelisahan lantaran harus mewaspadai ulah para pencopet yang selalu rajin menguntit pengunjung dari luar kota. Namun  “magnet maulud” rupanya lebih kuat ketimbang risiko berpanas-panasan. Fanatisme yang mentradisi sempat melahirkan rasa pamali jika tak berkunjung ke area itu. Syukur-syukur bisa sebah (mencium tangan/bersilaturahmi) dengan sultan dan keluarganya yang masih dipanuti mereka.

Fenomena muludan adalah fenomena rilek. Di setiap alun-alun keraton sudah tersedia berbagai macam makanan tradisional setempat, seperti empal gentong, nasi jamblang, nasi lengko, tahu gejrot, docang dan sebagainya. Hiburan pun tersedia, dari mulai ronggeng monyet, kemidi putar bahkan musik dangdut. Di sini kegerahan akibat krisis ekonomi dan politik bagi masyarakat setempat bisa sedikit terobati.

Lahan ekonomi rakyat yang tersedia. Dari mulai lahan perdagangan kakilima, tempat parkir, jasa pramuwisata, kedai the poci, bahkan para pengamen dan pencopet pun mendapatkan tempat tersendiri. Cirebon sebagai caruban (campuran) memberikan makna budaya yang majemuk dan demokratis. Lihat saja pada makanan khasnya, nasi lengko. Suatu menu yang berisi campur aduk berbagai jenis makanan yang diaduk menjadi satu. Dari mulai nasi, sambal kacang, taoge, tahu, tempe, rumput kucai dan kecap menjadi santapan nikmat para pengunjung.

Belum lagi nasi jamblang yang telah menjadi fastfood tradisional yang banyak diminati. Baik nasi lengko, jamblang, tahu gejrot, minuman sekoteng maupun empal gentong bisa disantap di mana saja. Bisa sambil kerodong sarung, berpakaian resmi atau bercelana kolor sekalipun. Tak ada kedai mewah untuk warung-warung tersebut. Seluruhnya dibangun dengan kesederhanaan. Cukup klemprakan, jongko yang terbuat dari plastik disulam dengan gelaran tikar pandan. Benar-benar murni kakilima.

Kakilima Berjaya

Dibanding dengan kedai-kedai impor yang berbau Barat, dan bentuk  franchise lainnya  yang bertebar di setiap sudut kota, jongko kakilima gaya “muludan” mengalami kemenangan bisnis yang luarbiasa.  Kerinduan untuk kembali ke alam budaya yang asli sangat kentara pada peristiwa ini. Meskipun di luar bulan maulid, kedai-kedai franchise lebih berjaya. Wajar, jika even maulid merupakan ajang belanja dan rekreasi bagi masyarakat berpenghasilan menengah bawah.

Pada musim muludan tahun lalu misalnya, seorang pedagang makanan khas docang mampu meraup keuntungan sekitar Rp. 1,5  juta bersih perhari. Kemujuran itu mereka rasakan selama sepekan berturut-turut hingga malam pelal. Lewat modal yang sederhana – sekitar Rp. 3  juta, sudah termasuk sewa tanah selama sebulan dan modal bergerak berupa pembelian bahan baku – penghasilan sebesar itu cukup menggiurkan.

Berdagang di arena muludan bagi mereka lebih pada pandangan budaya ketimbang ekonomi. Tak terpikirkan oleh mereka mengenai analisis bisnis yang rumit ketika hendak berdagang. Cukup dengan bismillah dan niat lillahita’ala ribuan pedagang pun tumplek di arena tersebut. “Yang penting berkah,” kata mereka. Benar-benar tradisional dengan perjalanan dagang yang alamiah.***

Nurdin M. Noer –  wartawan senior,  pemerhati sejarah lokal.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.