Berbagai Variasi Qira’at dan Jenis-Jenis Qira’at

0 4.510

Berbagai Variasi Qira’at dan Jenis-Jenis Qira’at: Ibn al-Jazârî, sebagaimana dinukil oleh al-Suyuthî, menyatakan bahwa qirâ’at dari segi sanad dapat dibagi menjadi enam macam, yaitu:

  1. Qirâ’at Mutawâtir. Qirâ’ah yang diriwayatkan oleh orang banyak dari banyak orang yang tidak mungkin terjadi kesepakatan diantara mereka untuk berbuat kebohongan. Contoh untuk qirâ’at Mutawâtir ini ialah qirâ’at yang telah disepakati jalan perawiyannya dari imam qirâ’ah sab’ah.
  2. Qirâ’ah masyhûr. Qirâ’ah yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. diriwayatkan oleh beberapa orang yang adil dan kuat hafalannya, serta qirâ’ah-nya sesuai dengan salah satu rasm Usmani; baik qirâ’ah itu dari para imam qirâ’ah sab’ah, atau imam qirâ’ah ‘asyarah ataupun imam-imam lain yang dapat diterima qirâ’ah-nya. Dan dikenal di kalangan ahli qirâ’at bahwa qirâ’ah itu tidak salah dan tidak syad, hanya saja derajadnya tidak sampai kepada derajad mutawâtir. Misalnya, qirâ’ah yang dipersilihkan perawiannya dari imam qirâ’ah sab’ah, dimana sebagian ulama mengatakan bahwa qirâ’ah itu dirawikan dari salah satu imam qirâ’ah sab’ah dan sebagian lagi mengatakan bukan dari mereka.
  3. Qirâ’ah ahâd. Qirâ’ah yang sanadnya bersih dari cacat tetapi menyalahi rasm Usmani dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, juga tidak terkenal di kalangan imam qirâ’at. Qirâ’ah ini tidak boleh dipakai untuk membaca al-Qur’an dan tidak wajib meyakininya sebagai al-Qur’an.
  4. Qirâ’ah syâdzah. Qirâ’ah yang cacat sanadnya dan tidak bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Hukum qirâ’ah ini tidak boleh dibaca di dalam maupun di luar shalat.
  5. Qirâ’ah maudû’. Qirâ’at yang dibuat-buat dan disandarkan kepada seseorang tanpa mempunyai dasar periwayatan sama sekali.
  6. Qirâ’ah syabih bin mudraj, adalah qirâ’at yang menyerupai kelompok mudraj dalam hadits, yakni qirâ’at yang telah memperoleh sisipan atau tambahan kalimat yang merupakan tafsir dari ayat tersebut.

Tiga Kategori Qira’at Berdasarkan Kemutawatirannya

Adapun pembagian tingkatan qirâ’at para Imam qirâ’at berdasarkan kemutawatiran qirâ’at tersebut, para ulama telah membaginya ke dalam tiga kategori, yaitu:

  1. Qirâ’at yang telah disepakati kemutawatirannya tanpa ada perbedaan pendapat diantara para ahli qirâ’at, yaitu para Imam qirâ’at yang tujuh orang (qirâ’at sab’ah).
  2. Qirâ’at yang diperselisihkan oleh para ahli qirâ’at tentang kemutawatiranya, namun menurut pendapat yang shahih dan masyhur qirâ’at tersebut mutawatir, yaitu, qirâ’at para imam qirâ’at yang tiga; Imam Abu Ja’far, Imam Ya’qub dan Imam Khalaf.
  3. Qirâ’at yang disepakati ketidak mutawatirannya (qirâ’at syâz), qirâ’at selain dari qirâ’at Imam yang sepuluh (qirâ’at ‘âsyarah).

Tiga Macam Qira’at Berdasarkan Jumlahnya

Sedangkan dari segi jumlah, macam-macam qirâ’at dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam qirâ’at yang terkenal, yaitu:

  1. Qirâ’ah Sab’ah, adalah qirâ’ah yang dinisbatkan kepada para imam Qurrâ’ yang tujuh yang termasyhur. Mereka adalah Nafi’, Ibn Katsir’ Abu Amr, Ibn Amir, Ashim, Hamzah dan Kisa’i.
  2. Qirâ’ah ‘Asyarah, adalah qirâ’ah Sab’ah di atas ditambah dengan tiga qirâ’ah lagi. Yang disandarkan kepada Abu Ja’far, Ya’kub, dan Khalaf al-‘Asyir.
  3. Qirâ’ah Arba’ ‘Asyar, adalah qirâ’ah ‘Asyarah tersebut lalu ditambah dengan empat qirâ’ah lagi yang disandarkan kepada Ibn Muhaisin, al-Yazidi, Hasan al-Bashri, dan al-A’masy.

Dari ketiga qirâ’ah di atas, yang paling terkenal adalah qirâ’ah sab’ah kemudian qirâ’ah ‘asyarah.

Syarat- syarat Diterimanya Qirâ’at

Para ulama menetapkan tiga syarat bagi diterimanya suatu qirâ’at, yaitu:

  1. Sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab. Maksudnya adalah tidak menyalahi salah satu segi dari segi-segi qawâ’id  bahasa Arab, baik bahasa Arab yang paling fasih ataupun sekedar fasih, atau berbeda sedikit tapi tidak mempengaruhi maknanya. Yang lebih dijadikan pegangan adalah qirâ’at yang telah tersebar secara luas dan diterima para imam dengan sanad yang sahih.
  2. Sesuai dengan tulisan pada salah satu mushaf Usmani, walaupun hanya tersirat. Maksudnya adalah sesuainya qirâ’at itu dengan tulisan pada salah satu mushaf yang ditulis oleh panitia yang dibentuk oleh Usman bin ‘Affan dan dikirimkannya ke kota-kota besar Islam pada saat itu.
  3. Shahih sanadnya. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Sebagian menganggap cukup dengan shahih saja, namun kebanyakan mereka mensyaratkan harus mutawatir. Di sini Ibn al-Jazri, sebagaimana dikutip Ali Ahmadi, berpendapat lain, yaitu menerima riwayat yang disampaikan secara ahad dari perawi- perawi yang dapat dipercaya (al-tsiqah). Menurut Abdul Samad pendapat yang lebih râjih adalah dengan syarat al-tawâtur, karena al-Qur’an dibaca oleh umat, hukum- hukumnya diimplementasi, dihafal, dan qirâ’ahnya dijaga. Inilah bagian dari al-tawâtur yang dimaksud.

Dengan demikian, berarti qirâ’ah yang tidak memenuhi ketiga kriteria di atas alias tidak lolos sensor, maka dikategorikan qirâ’ah syâdzah.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Sya’ban Muhammad Ismail, al-Qirâ’at Ahkamuha wa Mashdaruha, terj. Agil Husin al-Munawwar dkk, Semarang: Dina Utama, 1993

Al-Zarqani, Manâhil al-Irfan fi ‘Ulûm al-Qur’ân, Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, t.th

Ali Ahmadi, “Al-Qira’at dan Orisinalitas al-Qur’an”, dalam Jurnal Kajian Islam Al-Insan, vol. 1, no. 1, Jakarta: Gema Insani, 2005

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.