Qira’at Sebagai Madzhab, Distingsi antara Al-Qur’an, Riwayah & Tharîqah

0 102

Ada ulama yang mengaitkan definisi qirâ’at dengan madzhab atau imam qirâ’at tertentu selaku pakar qirâ’at yang bersangkutan, dan atau yang mengembangkan serta mempopulerkannya. Al-Zarqânî misalnya, memberikan pengertian qirâ’at sebagai “suatu madzhab yang dianut oleh seorang imam dari para imam qurrâ’ yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan al-Qur’an dengan kesesuaian riwayat dan thuruq darinya. Baik itu perbedaan dalam pengucapan huruf-huruf ataupun pengucapan bentuknya”. Qiraat Sebagai Madzhab, Distingsi antara Al-Quran, Riwayah & Thariqah

Dalam pengertian yang sama seperti di atas, al-Shâbunî mengemukakan definisinya bahwa “qirâ’at adalah, suatu madzhab tertentu dalam cara pengucapan   al-Qur’an, dianut oleh salah seorang imam qirâ’at yang berbeda dengan madzhab lainnya, berdasarkan sanad-sanadnya yang bersambung sampai kepada Nabi SAW”.

Distingsi antara Qirâ’at, al-Qur’an, Riwayah dan Tharîqah

Ada beberapa kata kunci dalam membicarakan qirâ’at yang harus diketahui. Kata kunci tersebut adalah qirâ’at, al-Qur’an, riwayah dan tharîqah. Berikut ini akan dipaparkan pengertian dan perbedaan antara keempat istilah tersebut.

Terkait dengan term qirâ’at dan al-Qur’an, para ulama berbeda pendapat tentang apa sebenarnya perbedaan antara kedua tema tersebut. Al-Zarkasyi dan al- Qushthalâni berpendapat, bahwa “al-Qur’an dan qirâ’at adalah dua substansi yang berbeda. Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai mu’jizat dan penjelasan. Sementara qirâ’at adalah perbedaan lafadz- lafadz wahyu tersebut. Baik menyangkut huruf- hurufnya maupun cara pengucapan huruf- huruf tersebut. Seperti takhfîf, tasydîd, dan lain- lain”. Sementara itu jumhur Ulama dan patra ahli qirâ’at berpendapat, bahwa jika qirâ’at itu diriwayatkan dengan sanad yang shahîh, sesuai dengan kaidah bahasa Arab, dan tidak menyalahi rasm al-mushaf, maka qirâ’at tersebut tergolong al-Qur’an. Akan tetapi bilamana tidak memenuhi persyaratan tersebut, maka hanya tergolong qirâ’at semata-mata.

Sedangkan riwayah adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang perawi dari para qurrâ’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya Nafi’ mempunyai dua orang perawi, yaitu Qalun dan Warsy, maka disebut dengan riwayat Qalun ‘an Nafi’atau riwayat Warsy ‘an Nafi’. Adapun yang dimaksud dengan tharîqah adalah bacaan yang disandarkan kepada orang yang mengambil qirâ’at dari periwayat qurrâ’ yang tujuh, sepuluh, atau empat belas. Misalnya Warsy mempunyai dua murid yaitu al-Azraq dan al-Asbahani, maka disebut tarîq al-Azraq ‘an Warsy atau riwayat Warsy min Tharîq al-Azraq.

Oleh: Ahmad Munir [Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo]


Bahan Bacaan

Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005)

Abd Wahhâb Khallâf, ‘Ilmu Ushûl al-Fiqh (Mesir: Maktabah al-Da’wah al-Islamiyyah, 1968), cet. Ke 8

Imam Badr al-Din Muhammad al-Zarkasyi, Al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qur,an, jilid I (Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, t.th.)

Abd al-Hadi al-Fadhli, al-Qirâât al-Qur’âniyyat (Beirut: Dâr al-Majma’ al-‘Ilmi, 1979)

Syihâbuddîn al-Qushthalânî, Lathâif al-Isyârâh lî Funûn al-Qira’at (Kairo: t.tp., 1972)

Al-Zarqani, Manâhil al-Irfan fi ‘Ulûm al-Qur’ân, jilid I (Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, t.th.)

Lhat Muhammad ‘Ali al-Shâbunî, Al-Tibyân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, cet. Ke 2 (t. tp: t.pn., 1980)

Imâm Syihâbuddin al-Qusthalânî, Lathâif al-Isyârât lî Funûn al-Qirâât (Kairo: t.tp., 1972)

Abduh Zulfidar Akaha, al-Qur’an dan Qira’at (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1996)

Komentar
Memuat...