Inspirasi Tanpa Batas

Radikalime dan Anti Kekuasaan Ciri Leninisme | Sejarah Komunisme Part – 4

0 8

Konten Sponsor

Radikalime dan Anti Kekuasaan Ciri Leninisme. Tsar adalah fokus perlawanan yang dilancarkan kelompok sosialis kiri. Mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan Tsar terhadap rakyatnya, tidak bakal mampu mendorong masyarakat menjadi lebih makmur. Dalam banyak kasus, apa yang dilakukan Tsar, malah akan semakin memperlebar jurang antara kelompok Borjuis dengan kelompok proletar.

Tsar dari apa yang mampu penulis fahami, adalah gabungan antara kekuatan agamawan dengan kepentingan politik. Tsar dengan demikian, sering kali menempatkan diri, sebagai wakil Tuhan di satu sisi [berbasis pada teologi Katholik] dan kepentingan kekuasaan di sisi lainnya. Tsar menjadi simulasi penting bagaimana kaum agamawan berkompromi dengan kekuatan penguasa untuk kepentingan mereka sendiri. Karena itu, dalam nalar Lenin, Tsar adalah fokus serangan kaum radikalisme sosial yang dipimpinnya.

Memahami Tsar

Tsar dapat dieja Czar atau Tzar [laki-laki] dan Tsarina [perempuan/permaisuri]. Secara bahasa, masuk dalam rumpun bahasa Slavia. Kata ini mengandung makna uap. Jauh panggang dari api, kata Tsar dalam kajian kita adalah suatu istilah bagi masyarakat Rusia bagi pemimpinnya. Kata ini ternyata dimaksudkan untuk seorang Kaisar [Caesar bahasa Latin] atau Basileus [di kaisar Romawi].

Dilihat dari sisi tingkat sosial, kaisar jauh lebih tinggi kedudukannya jika dibandingkan dengan raja.  Adalah Mikhail Yaroslavich yang menyatakan diri sebagai Basileus Rus dan Czar, sejak tahun 1480 Masehi. Ia memiliki ambisi yang besar untuk menjadi Orthodok Katholik [Roma ketiga], khususnya setelah Konstantinopel dikuasai Kesultanan Utsmani II di masa khilafah Islamiyah, yang bermarkas di Turki.

Cita-cita Mikhail Yaroslavich, terwujud ketika Rusia berhasil memiliki Tsar pertama bernama Ivan IV pada tahun 1547. Ia mengganti gelarnya sebagai Pangeran Agung Veliki Knia, tentu yang diberikan Paus menjadi Tsar. Ia merujuk istilah Tsar ini ke dalam sosok Daud [Dawud] dan Sulaiman [Solomon] yang menguasai banyak wilayah. Kkedudukan Tsar jauh lebiuh tinggi dibandingkan dengan raja karena lingkup kekuasaannya yang cukup luas.

Gelar Tsar yang disematkan kepada pemimpin Rusia itu, bukan berarti tanpa hambatan. Barat pada umumnya menolak semangat pemimpin Rusia dengan gelar Tsar. Mengapa? Karena jika hal demikian dibiarkan, maka, berarti Rusia sebanding atau sejajar dengan Paus di Vatikan, Roma.Namun gerakan Barat untuk menghentikan Tsar ini selalu kandas.

Gelar Tsar baru berakhir pada 1917 M. Berakhir di saat gerakan anti Tuhan [ateis] merajalela di Rusia. Kelompok sosialis kiri menganggap bahwa Rusia yang dipimpin Tsar tidak mungkin mampu membawa perubahan berarti bagi masyarakat. Mengapa? Karena dalam anggapan kaum kiti, agama malah menjadi tameng bagi menguatnya gerakan borjuasi yang dimpimpin negara.

Salah seorang petinggi penting atas gerakan negara yang anti Tuhan itu adalah Vladmir Ilych Ulyanov atau Lenin. Ia lahir dari kelas menengah dan masih merupakan keluarga besar Tsar [kerajaan] di Simbirsk, kekaisaran Rusia.

Lenin dan Gerakan Radiklisme Sosialis

Lenin dan para pengikut Marxis, umumnya menyebut diri sebagai Sosial Demokrat. Inilah partai yang pernah berkibar di Jerman pada tahun 1890-an dengan nama Partai Demokrat Sosial Jerman yang Marxis. Lenin mendirikan sel-sel penting untuk melakukan revolusi di pusat Kota Rusia, khususnya di dunia Industri.

Ia dibantu kekasihnya Nadezhda “Nadya” Krupskaya dalam menjalankan programnya. Seorang kekasih dengan profesi, seorang guru beraliran Marxis. Disinilah Lenin, sebagaimana dapat dibaca dalam Wikipedia edisi Indonesia [27 September 2017] menulis traktat politik yang mengkritik agrarian-sosialis Narodnik.

Lenin misalnya menulis tentang “Teman-Teman Rakyat” dan Bagaimana Mereka Melawan Sosial-Demokrat”. Tulisannya sebagaimana dapat dibaca dari Wikipedia tadi, sebagian besar berdasar pada pengalamannya ketika tinggal di Samara. Tidak kurang dari 200 salinan secara ilegal dicetak pada 1894.

Gagasan Lenin yang menyentuh persoalan dasar manusia, menyebabkan dirinya akhirnya dipenjara tanpa diadili selama satu tahun dan diasingkan selama kurang lebih tiga tahun. Ia didakwa telah melakukan makar kepada negara yang syah.

Penjara FisikLenin Mengasah Otaknya

Namun saat dia dipenjara [1897-1900 M] dan diasingkan itu, ternyata tidak malah membuat aktivitas berpikirnya terhenti. Ketika dia dipenjara fisik, malah akhirnya menajamkan kemampuan menulisnya dengan cermat dan memikat. Salah satu teori Lenin yang dihasilkan dalam pengasingannya itu adalah pernyataannya yang menyebutkan bahwa faktor penting perpindahan kaum Tani ke Kota adalah karena terjadi Kapitalisme Industrial.

Situasi ini, menurut Lenin adalah berbahaya. Mengapa? Karena pola ini bukan saja akan menelantarkan pertanian yang berbasis di desa, tetapi, juga akan membuat kemiskinan perkotaan. Inilah pada akhirnya yang akan mengembangkan kesenjangan kelas di berbagai lapisan masyarakat.

Setelah masa pengasingannya habis [1900 M], dia mendirikan Iskra [Percikan Api]. Sebuah Koran Nasional bawah tanah yang paling sukses di jamannya. Koran ini dimodali atas uyuran banyak warga yang pro sosialis kiri gaya Marxis.

Sepulang dari pengasingan, Lenin kembali mendirikan Partai politik bernama Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia [PBSDR]. Sejak saat itu, dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Ia bertemu dengan tokoh-tokoh dan pengikut Marxis di berbagai belahan negara. Saya tidak tahu, apakah Lenin pernah singgah di Indonesia atau tidak.

Bersama koran Iskra ini pula, ia pertama kali menggunakan kata Lenin [1901] dengan nama N. Lenin. Melalu nama inilah, ia muncul dengan berbagai tulisan. Salah satu tulisan dimaksud adalah: “Apa Yang Harus Dilakukan?”. Tulisan ini terbit pada tahun 1902. Karya ini berisi tentang pemikiran Lenin tentang kebutuhan untuk untuk memimpin proletariat menuju revolusi. Berbagai bahan bacaan. Prof. Cecep Sumarna –bersambung.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar