Ragam Aliran Filsafat tentang Manusia

Ragam Aliran Filsafat tentang Manusia
0 282

Ragam Aliran Filsafat tentang Manusia. Dalam ruang kajian filisif Barat modern, paling tidak terdapat empat aliran yang membahas tentang manusia. Pertama. Aliran serba zat yang menyatakan bahwa yang sungguh-sungguh ada hayalah zat atau materi. Faham ini disebut dengan materialisme. Aliran ini memandang bahwa manusia tidak lain adalah mahluk yang terdiri dari darah, daging dan tulang. Ia seperti mahluk hidup lainnya, dan tidak perlu berpikir tentang apa di balik badan yang bersipat immateril.

Faham ini, pertama kali dipelopori Thales, kemudian dikembangkan Aristoteles dan dimatangkan Aristiphos. Teori filsafat ini, terus berkembang sampai saat ini. Menurut banyak kalangan, Barat dan Eropa pada umumnya, banyak yang menganggap bahwa manusia berada dalam posisi seperti ini.

Kedua. Aliran yang memandang sebenarnya kehidupan adalah segala sesuatu yang bersipat serba ruh. Dalam anggapan kelompok imi, yang benar-benar ada hayalah ruh. Selain ruh tidak ada eksistensi. Ruh sering dianggap sebagai hakikat sedangkan badan adalah penjelmaan atau banyangan saja dari apa yang disebut dengan ruh. Faham ini setidaknya diplopori Socrates dan Plato. Faham ini, kemudian menjalar ke berbagai aliran theologi agama, termasuk Islam, yang cenderung tekstual dalam memahami Nash.

Ketiga. Aliran dualisme. Faham ini menganggap bahwa manusia itu hakikatnya terdiri dari dua substansi. Kedua substansi itu terdiri dari badan dan ruh. Kedua substansi ini masing-masing merupakan unsur asal yang keberadaanya tidak bergantung satu sama lain. Pandangan dualistis ini menganggap badan dan jiwa sebagai sua hal yang berdiri sendiri. Dalam perwujudannya manusia itu serba dua, badan dan ruh yang keduanya berintegrasi membentuk yang disebut manusia. Antara keduanya tejalin hubungan yang bersipat kasual.

Keempat. Aliran eksistensialisme. Faham ini memandang bahwa manusia dari segi eksistensinya. Maksudnya, cara beradanya manusia di dunia. Menurut aliran ini, badan manusia adalah sebagai jasmani yang diruhanikan atau ruhani yang dijasmanikan. Maka antara badan dan ruh sesungguhnya menyatu dalam pribadi manusia yang disebut aku. Aku ini adalah jasmani dan ruhani. (Proyek PPTA/IAIN Jakarta, 1984: 71-75)

Analisa Filosofi Manusia

Berdasarkan teori filsafat di atas, Islam melalui ayat-ayat yang dikutif dalam tulisan sebelumnyai, nampaknya memandang manusia sebagai: “Mahluk jasmani-ruhani yang bertanggung jawab”. Dijelaskan dalam al Qur’an bahwa setelah melalui tiga tahapan perkembangan dalam rahim ibu, yakni setelah umur 120 hari atau empat bulan dalam kandugan, jasmani manusia akhirnya memiliki unsur hayat. Unsur hayat dimaksud disebut dengan ruh.

Ruhlah yang membedakan manusia dan binatang. Tanpa ruh ketuhanan, manusia sama dengan binatang. Eksistensi manusia di dunia mempunyai kemerdekaan bertingkah laku baik tingkah laku positif maupun tingkah laku yang negatif. Semua itu, sesuai dengan pilihan ruhaninya.

Namun demikian semua tingkah laku itu harus dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. Semua tingkah laku itu yang dalam al Qur’an disebut amal akan ditimbang apakah tingkah laku positif ataukah lebih banyak tingkah laku negatif. Bila ukuran tingkah laku positif mengalahkan atau melebihi kadar tingkah laku negatif maka ia akan masuk surga. Senuah tempat di mana berbagai kenikmatan terdapat didalamnya, tanpa sedikitpun ada yang membatasi kenikmatan dimaksud.

Namun demikian, bila sebaliknya, yakni ukuran tingkah laku positif dikalahkan atau dilebihi oleh kadar tingkah laku negatif, maka, manusia akan masuk neraka. Sampai di sini sesungguhnya telah terjawab tentang apa manusia itu. Yakni, dia adalah mahluk jasmani-ruhani yang bertanggung jawab kepada Tuhannya.

Pertanyaan tentang dari mana manusia itu, juga dapat ditelusuri dari proses penciptaanya. Jika manusia tercipta melalui unsur jasmani yang berasal dari nutfah yang bila dikaji secara agamis-logis akan berpangkal kepada Allah, sebagaimana ruhaninya yang pada masa empat bulan dalam kandungandiberikan kepadanya dari Allah, maka, berarti manusia adalah manifestasi ketuhanan. Manusia selalu berangkat dari Allah, harus kembali kepada Allah dengan aturan Allah juga.

Terkait dengan pertanyaan. akan kemana manusia setelah masa kehidupannya di dunia? Berdasarkan uraian yang berpijak kepada al Qur’an di tulisan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa ia akan kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan segala tingkah lakunya [positif-negatif] di dunia. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...