Take a fresh look at your lifestyle.

Ragam Dimensi dalam Manajemen Mutu

0 82

Hasil peneliti Joseph M. Juran ada enam dimensi yang mempengaruhi kualitas suatu produk. Keenam dimensi itu adalah: 1). Kinerja (performance), 2). Keistimewaan (types of features), 3). Kepercayaan dan ketepan waktu (reliability and durability), 4). Mudah dirawat dan diperbaiki (maintanibility and serviceability), 5). Sifat khas (sensory characteristic), dan; 6). Penampilan serta citra etis.

Dimensi mutu yang berlaku untuk semua jenis organisasi penghasil jasa, termasuk lembaga pendidikan pondok pesantren, di satu sisi berbasis pada pelayanan jasa (pendidikan), namun di sisi lain dituntut menghasilkan suatu produk dalam bentuk investasi sumberdaya manusia. Manajemen mutu dalam konteks pesantren, antara lain meliputi keberadaan (availabiliti), ketanggapan (resposivenes), menyenangkan (convenience) dan tepat waktu (time liness), dalam setiap produk yang dihasilkannya agar setiap pelanggan yang menggunakan jasa pendidikan pesantren dimaksud dapat terus memberikan kepercayaan kepadanya.

Komponen Manajemen Mutu

Setiap program mutu, mencakup empat komponen penting. Keempat komponen dimaksud antara lain adalah: Pertama, mesti ada suatu komitmen untuk berubah.  Kedua mesti memahami dengan baik di mana posisi atau keberadannya sekarang. Ketiga, mesti memiliki visi masa depan yang jelas. Keempat, mesti memiliki rencana untuk meng-implementasikan mutu.

Selain itu, manajemen mutu, juga mengedepankan pentingnya lima tata langkah dalam implementasinya. Kelima langkah dimaksud adalah: 1. Fokus pada customer, 2. Keterlibatan total, 3. Pengukuran, 4. Komitmen dan, 5. Perbaikan yang berkelanjutan.

Manajemen mutu dapat difungsikan untuk mengawasi dan atau mengendalikan mutu. Para pengambil kebijakan mesti mempunyai standar mutu yang menjadi pedoman dasar penilaian. Mutu suatu produk harus dibuat perencanaannya dan desainnya (predetermined quality design). Dalam merencanakan mutu atau mendesain mutu suatu produk, hendaknya diorientasikan pada selera konsumen. Artinya mutu yang disukai konsumen (customers preferences) dan tentu saja sekaligus mutu yang diperlukan konsumen secara efektif.

Misalnya, restoran padang sekalipun memiliki tipikal khusus yang membedakan dengan restoran lain, tetapi, ketika restoran dimaksud didirikan di Tasikmalaya, ia dipaksa mendesain mutu makanannya sesuai dengan selera calon konsumen di Tasikmalaya yang mayoritas etnis Sunda yang suka (prefered) rasa pedas. Kondisi ini, jika mengacu pada produk kendaraan bermotor mutunya terlihat dari bagaimana  motor dimaksud berelasi dengan masyarakat modern yang suka irit BBM, selain memenuhi syarat peraturan yaitu rendah kadar timbalnya. Sudah tentu desain mutu mutu dimaksud selaras dengan yang disukai konsumen yaitu mudah perawatan dan reparasi.

Desain Mutu yang Sesuai dengan Selera Konsumen

Namun demikian, desain mutu yang selaras dengan selera konsumen ditentukan oleh desain produk (product design) yang berkait erat dengan desain proses produksi (production system) dan kendali mutu secara statistik (statistical quality control). Jadi, terdapat keterbatasan teknologi dalam membentuk desain mutu yang sesuai/selaras dengan selera konsumen. Hanya saja produsen dan ahli desain mutu berupaya semaksimal mungkin untuk dapat memenuhi selera konsumen.

Contoh lainnya dapat dilihat bagaimana masyarakat menginginkan telepon seluler (HP) yang bertatap muka. Namun teknologinya saat itu (sebelum tahun 2000) masih belum memungkinkan selain biaya produksinya mahal. Jadi “mutu HP tatap muka” sebagai mutu produk primadona tahun 2002 setelah dibentuk desain produk (yang besarnya segenggam tangan), berlayar di monitor memungkinkan secara teknologi dan secara ekonomis.

Kembali ke masa lalu tahun 1960-an, di mana komputer sebesar kamar tamu rumah sederhana dianggap waktu itu sebagai komputer bermutu pada zamannya. Akan tetapi, setelah ditemukan “diode” sebesar ujung lidi dan transitor sebesar batu pasir, memungkinkan komputer setebal buku teks dengan kecanggihan lebih luas. Jadi desain produk mempengaruhi desain mutu yang basisnya tergantung kepada teknologi untuk membuatnya. ***H. Edeng Z.A

Bahan Bacaan

Suyadi Prawirosentono. Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu Terpadu: Total Quality Management Abad 21, suatu Kasus dan Analisis, Kiat Membangun Bisnis Kompetetif Bernuansa “Market Leader”. Jakarta: Bumi Aksara, 2002.

J. Supranto. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikan Pangsa Pasar. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2006

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar