Ragam Komunitas Dalam Relasi Manusia

1 118

Dalam judul sebelumnya relasi manusia dengan manusia , kita mengulas tentang definisi relasi manusia itu sendiri. Definisi relasi dari sudut pandang perspektif teologis dan juga hubungan dasar antar manusia. Hubungan antar manusia ini dikenal dengan istilah masyarakat, dari sebutan lapisan terkecil sampai terbesar. Ukuran Jumlah Komunitas Masyarakat lah yang akhirnya menghasilkan berbagai ragam komunitas. Bentuk-bentuk komunitas tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

Individu (person)

Individu (person), yaitu suatu entitas yang ada dan merupakan suatu kesatuan yang tersendiri yang tidak dapat dibagi secara aktual dan konseptual tanpa kehilangan identitasnya. Ia sebagai subjek logis yang dapat menerima predikat-predikat dan tidak dapat menjadi predikat untuk yang lain.[1] Al-Qur’an menyebut kelompok ini dengan istilah nafs. Kata ini dengan berbagai derivasinya di dalam al-Qur’an terulang 195 kali. Secara garis besar, penunjukan makna kata tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga seperti berikut ini.

  1. Menunjuk totalitas manusia, baik dari aspek fisik maupun psikis (Al-Mâ‘idah/5: 32)
  2. Menunjuk suatu aspek pada diri manusia yang melahirkan tindakan (Al-Ra‘d/13: 11).
  3. Menunjuk pada diri Tuhan sendiri, (Al-An‘âm/6: 12)[2]

Pembahasan ini akan mengacu kepada makna kelompok  pertama, yaitu manusia secara totalitas yang diperingatkan oleh Tuhan agar mempersiapkan dirinya untuk menghadapi suatu kondisi, pada waktu itu segala bentuk relasi yang pernah dibangun di dunia semua terputus (baca: al-Baqarah: 48, 123, 207).

Keluarga/family

keluarga

Keluarga/family. Ada tiga bentuk dasar keluarga yaitu, (1) keluarga bati, yaitu suatu satuan kekerabatan yang terdiri atas suami, isteri, dan keturunan langsung. Mereka memelihara suatu rumah tangga dan bertindak bersama-sama sebagai suatu kesatuan sosial; (2) keluarga luas, yaitu suatu kelompok kekerabatan yang terdiri atas sejumlah keluarga bati yang membentuk satu keluarga yang merupakan satu kesatuan sosial; (3) persekutuan kelompok keturunan, yaitu ikatan kekerabatan yang diperluas menjadi persekutuan kelompok keturunan yang lebih besar, sehingga mencakup sejumlah besar individu dalam suatu lingkungan kekerabatan yang membentuk kelompok masyarakat.[3] Al-Qur’an menyebut kelompok ini dengan term ahl, qurbâ/qarâbah, dan rahth.

  1. Ahl, kata ini memiliki beberapa arti di antaranya adalah; (1) ramah, senang atau suka; (2) orang yang tinggal dalam satu tempat tertentu.[4]  Kata tersebut di dalam al-Qur’an disebut 127 kali, yang menunjuk sesuatu yang mempunyai hubungan erat dan dekat, baik karena pertalian darah, persamaan geografis, agama, profesi maupun komunitas tertentu. (Baca: al-Tahrîm/66: 6).
  2. Qurbâ/qarâbah, kata ini berasal dari kata qurb yang berarti dekat, melindungi, menutupi. Sarung pedang disebut qirâb karena sarung tersebut menahan dan melindungi pedang dari melukai maupun terlukai. Selanjutnya, kata qurbâ atau qarâbah adalah perlindungan terhadap kerabat dekat yang didasarkan pada hubungan rahim (kandungan).  Kata tersebut di dalam al-Qur’an diulang sebanyak  23 kali, tuju kali dalam bentuk jamak dan 16 kali dalam bentuk tunggal. Dalam bentuk jamak, enam kali dari kata tersebut dikaitkan dengan kata al-wâlidâni (kedua orang tua)  dan satu kali dikaitkan dengan kata asyîrah (kerabat). Dalam bentuk tunggal, kata tersebut seluruhnya diawali dengan huruf-huruf penunjuk dzawî, dzâ, dzî, fî, ulû  dan ulî.[5]  Dari konteks tersebut, penyebutan kata qurbâ  pada ayat-ayat di atas, selalu dikontekskan dengan anjuran berbuat sosial kemanusian (ihsân), kebajikan (birr), berlaku adil, dan berbelas kasih.
  3. Rahth, kata ini berasal dari huruf ra’-ha’-tha’. Jika kata tersebut berbentuk kata kerja, berarti mengambil bagian dalam partai yang besar, atau memakan dengan lahap sehingga habis banyak. Jika berbentuk kata benda, berarti perkumpulan orang dengan jumlah antara tiga hingga sepuluh.[6]

Marga (clan)

Marga (clan), adalah bio satuan taksonomi di antara suku dan jenis, serta merupakan wadah yang mempersatukan jenis-jenis yang erat hubungannya. Al-Qur’an menyebut kelompok ini dengan menggunakan kata â’ilah dan asyîrah.

Â’ilah

Â’ilah, kata ini berasal dari kata âlu, yang berarti kembali, mengatur dan keluarga. Jika kata tersebut bermakna keluarga, penisbahan tersebut hanya terhadap kelompok yang dianggap mulia, bukan yang lebih rendah dan hina.[7]

Di dalam al-Qur’an, kata tersebut diulang 26 kali, seluruhnya berbentuk tunggal yang dinisbahkan kepada orang-orang yang mempunyai reputasi dalam ketokohan. Ketokohan orang tersebut ada yang positif sebagai representasi keberhasilannya, dan ada yang negatif sebagai pecundang dalam kehidupan. Kalau kata ahl dapat dinisbahkan kepada siapa saja secara umum, kata âlu  hanya dinisbahkan kepada kelompok yang terpandang.[8]

Asyîrah

Asyîrah, kata ini  berasal dari huruf ع-ش-ر-yang mempunyai dua indikasi makna, yaitu menunjuk pada bilangan tertentu (10), dan menunjuk pada keikut-campur dan keikut-sertaan. Dalam makna kedua ini, kata tersebut menunjuk arti qabilah, kerabat, dan kawan dekat. Dalam tatanan masyarakat Arab, kelompok ini biasanya berasal dari keturunan jalur bapak.[9]

Di dalam al-Qur’an, kata tersebut diulang sebanyak empat kali, dua kali dikaitkan dengan bapak, suami/isteri, anak dan saudara, satu kali dikaitkan dengan keluarga dekat (aqrabîn), dan satu kali dikaitkan dengan teman dekat.  Secara umum, kata asyîrah selalu dikontekskan dengan peringatan Tuhan terhadap orang yang mempunyai kedekatan hubungan agar melakukan kebajikan serta ancaman agar meninggalkan kesesatan.

Suku

suku-bugis

Suku, adalah kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari kesatuan sosial lain berdasarkan kesadaran identitas, perbedaan budaya, khususnya bahasa. Al-Qur’an menyebut kelompok ini dengan istilah syab, qabîlah,  dan sabth.

Syab

Syab, kata ini merupakan bentuk tunggal dari kata syuûb (شُعُوْب), yang berarti mengumpulkan manusia ketika bercerai berai dan memperbaiki ketika rusak, serta mengembalikan perasaan manusia kepada akar yang satu.[10] Kata tersebut akhirnya dimaknai suku, yaitu perkumpulan dan perbaikan antar individu yang dipengaruhi oleh faktor keturunan.[11] Luis Ma‘lûf mengartikan kata tersebut dengan “muwashshil qath al-ras” (penyambung kepala yang terputus).[12] Dalam susunan keluarga Arab, syab terdiri atas sekian qabîlah (suku) yang merujuk pada satu keturunan/kakek.

Posisi manusia, baik sebagai individu maupun kelompok, adalah percabangan masyarakat, setiap cabang  memiliki kemiripan  antara satu dan yang lain. Dalam hal ini, kata syab memberikan gambaran percabangan masyarakat yang berasal dari kelompok-kelompok yang menuju ke akar, atau asal-usul yang sama.[13]

Qabîlah

Qabîlah, kata ini bentuk tunggal dari kata qabâil, yang berasal dari kata qubl yang berarti muka, lawan belakang. Kata tersebut juga berarti mengikat. Di dalam pemakaiannya, kata tersebut menunjuk arti komunitas manusia yang terdiri atas empat kelompok, antara satu dan yang lain menjalin ikatan untuk memenuhi kebutuhan bersama.[14] Kata qabîlah telah lama dipakai untuk menunjuk pengertian tentang sekumpulan individu manusia yang memiliki tujuan dan kiblat yang satu dalam hidup mereka. Di antara ikatan yang paling kuat di antara manusia adalah kesamaan kiblat yang dituju, salah satunya adalah tenpat tinggal dan tempat menggantungkan nasib kehidupannya.[15]

Susunan keluarga Arab berdasarkan jumlah dan luas cakupannya, dimulai dari syab, qabîlah, fashîlah, ‘imârah, bathn, fakhdz hingga keluarga yang terkecil, yaitu suami isteri, anak, dan orang tua.[16] Dari nama-nama tersebut, al-Qur’an hanya menyebut kata syab, qabîlah,  fashîlah, ‘imârah, dan bathn.

Asbâth

Asbâth, kata ini berasal dari huruf س-ب-ط-. Kata tersebut jika berbentuk kata kerja, berarti mudah dan terurai. Jika berbentuk kata benda, kata tersebut berarti keturunan yang berasal dari anak laki-laki.[17]

 

Komunitas

komunitas

Komunitas (community/people), adalah kelompok organisme yang hidup dan saling berinteraksi yang menempati daerah tertentu.[18] Al-Qur’an menyebut kelompok ini  dengan istilah qaûm dan ahl.

Qaûm

Qaûm, kata ini berasal dari kata qiyâm yang berarti berdiri atau bangkit. Al-Râgib berpendapat bahwa kata Qaûm pada asalnya hanya diidentikkan dengan kumpulan orang laki-laki, karena dari kelompok inilah yang mempunyai kesanggupan bangkit untuk berperang. Penggunaan ini didasarkan pada surat al-Hujurât/49: 11.

Di dalam bahasa Indonesia, kata qaûm (Arab),   diterjemahkan dengan kaum, yaitu kelompok manusia yang dibangun atas dasar menegakkan individu dengan berserikat, bersatu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Komunitas ini biasanya mendiami kawasan tertentu dan bangkit bersama-sama dalam menunaikan pekerjaan yang sama.[19]

Kata tersebut dengan berbagai bentuknya, di dalam al-Qur’an disebut 387 kali, tiga kali berbentuk qawwâm, satu kali berbentuk qawâm dan selebihnya berbentuk tunggal (qaûm). Dalam bentuk tunggal, kata tersebut sering dinisbahkan kepada kelompok manusia yang dijadikan sebagai contoh, baik dalam keshâlihan maupun dalam pecundangan. Seruan-seruan al-Qur’an terhadap kelompok ini sering dinisbahkan kepada kaum terdahulu, hanya satu kali yang dinisbahkan pada Muhammad ketika beliau mengadukan kondisi pengikutnya.

Ahl

Ahl, kata ini memiliki arti ramah, senang atau suka serta orang yang tinggal dalam satu tempat tertentu. Kata tersebut juga memiliki konotasi arti masyarakat atau komunitas.[20] Di dalam al-Qur’an, kata tersebut di samping  menunjuk hubungan erat, seperti pertalian darah, juga menunjuk hubungan yang disebabkan persamaan geografis, agama, profesi, dan komunitas tertentu.

Masyarakat

Masyarakat (society), disimbolkan dengan kata ummah.[21] Para ahli telah banyak membuat konversi kata tersebut dengan kata padanannya. Meskipun demikian, ada yang berpendapat bahwa semua padanan kata tersebut tercakup dalam kata ummah, akan tetapi kata ini tidak mampu dicakup oleh padanannya.[22] Padanan kata ummah hanya menonjolkan identitas sektoral yang hanya didasarkan pada kepentingan bersama dalam kehidupan riel. Kata ummah yang mengandung arti berniat, menuju dan kedepan, tersirat di dalamnya tiga dinamika, yaitu  gerakan, tujuan dan ketetapan kesadaran. Ketiga dinamika tersebut,  mencakup empat  makna, yaitu ikhtiar, gerakan kemajuan, dan tujuan. Dalam pandangan ummah, hubungan darah, tanah, perkumpulan, kesamaan tujuan, pekerjaan, ras, dan lain-lain bukanlah satu-satunya ikatan dasar yang suci antarmanusia.

Para pakar bahasa al-Qur’an sering mendefinisikan kata ummah dengan arti kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, seperti agama, waktu atau tempat, baik secara kesadaran maupun secara paksa.[23] Di dalam al-Qur’an, kata tersebut diulang   64 kali, 52 kali dalam bentuk tunggal. Bentuk ini menunjuk sembilan arti, yaitu  kelompok, agama, waktu yang panjang, kaum, pemimpin, generasi masa lalu, ummat Islam, orang-orang kafir, dan manusia. Ia tidak selalu identik dengan komunitas manusia yang taat, tetapi juga menunjuk manusia yang ingkar. Lebih dari itu,  kata ummah juga digunakan untuk menunjuk selain manusia.

Al-Qur’an menggunakan kata ummah untuk menunjuk pengikut Muhammad. Hal ini mengisyaratkan, bahwa ummah dapat menampung berbagai varian dari tiap-tiap kelompok. Betapapun perbedaan yang ada   dalam kelompok tersebut, masih mempunyai arah yang sama yaitu Allah.

Sungguh luhur dan lentur kata ummah ketika dipakai di era kehidupan yang plural. Kata tersebut  mampu menampung aneka ragam makna dan aneka kebersamaan, meskipun dalam waktu yang sama berada dalam perbedaan dan keaneka-ragaman.

Oleh: Ahmad Munir

  1. Fachri Hayley berkata

    Salam.. Artikel yang sangat bagus sekali… saya mau mendalaminya lebih lanjut, bolehkah melihat referensi dan catatan kakinya tadz?
    Syukran.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.