Inspirasi Tanpa Batas

Rasanya Aku Belum Sanggup dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir Part-8

0 19

RASANYA Aku Belum Sanggup: Malam setelah mengunjungi makam Fanny, Doddy kembali duduk sendiri di kursi sofa rumahnya. Rokok putih Mild dan secangkir kopi pahit, kembali menemaninya. Ia melamun dan membayangkan malam yang suasananya sama pada beberapa bulan lalu. Saat itu ia duduk duduk bersama Fanny, dengan hujan mengguyur rumah mereka.  Fanny menyeduhkan kopi pahit dan sejumlah kata indah serta senyumnya yang khas. Maklum, Fanny adalah mahasiswanya yang memiliki ketakdziman tertentu kepada dirinya. Saat ini, ia sendiri. Tidak ada yang menyeduhkan kopi.

Dalam suasana malam yang demikian, tidak lama kemudian, datanglah shofiyuddin bersama temannya, bernama Nurjamil menghampirinya. Shofy menenteng bak catur dan berencana akan main catur dimaksud di rumah Doddy. Tujuannya sederhana. Mereka ingin menghibur Doddy agar tidak larut dalam kesendirian. Shofi sadar, kalau ia selalu kalah dalam main catur. Oleh temannya, ia suka diejek, jangankan main catur, dalam soal bercinta-pun dia suka kalah. Shofy dan Nurjamil sendiri, sudah membawa kopi dan juga sudah membawa gorengan bala-bala –makanan khas Kuningan– beserta goreng pisang nangka buatan Nyonya Bukhary.

Shofy sadar, jangankan ditinggal mati oleh orang yang dicintai, sekedar ditinggal pergi oleh orang yang dicintai itu, khususnya ketika orang tua wanita yang terlalu materialistik, kalah oleh laki-laki lain yang hanya memakai mobil carry tahun 1998, aku, kata Shofy, bukan hanya telah meninggalkan shalat dan kegiatan ritual lain, tetapi, sempat terlibat Narkoba dan hampir bunuh diri di jembatan Cirahong, Tasikmalaya. Aku tak membayangkan kata Shofi, bagaimana kalau orang yang dicintai itu benar-benar mati di saat puncak cinta dan asmara berada dalam puncak kehidupan. Itulah yang menyebabkan Shofy berbeda dengan teman lainnya, selalu datang menghampiri Doddy. Meski tidak banyak bercerita, paling tidak, Shofi merasa bahwa ia butuh teman ngobrol.

Akan Ada Pengganti yang Sempurna

Tidak lama kemudian, datang juga kawan lama Doddy, bernama Abdul Shomad. Dengan gaya plamboyan dan memiliki tipikal yang genuin dalam berpikir, menghampiri mereka bertiga di rumah Doddy. Shofy dan Nurjamil, asyk main catur dengan gaya khas tipu-tipu gaya Shofy yang tidak sembuh kalau main catur. Shomad dan Doddy asyk berbicara tentang masa lalu mereka.

Shomad berkata: “Hai kawan, jangan terlampau jauh. Bahaya kamu. Sudahlah yang sudah ya… sudah. Kita mau ngomong apa. Jangankan kita, Nabi Muhammad sendiri, seorang manusia agung dan mulia meninggal juga. Pasrah saja sama Tuhan. Insyaallah Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih sempurna”. Kamu harus tahu, kamu kan pernah menjadi idola remaja. Ingat nggak, ada wanita yang kamu kejar-kejar dulu. Dulu kamu kan tidak berhasil mendapatkan cintanya. Ingat lho sekarang dia sudah menjadi janda. Aku siap jika harus menjadi fasilitator untuk mempertemukan kamu dengannya.

Shomad saudaraku dan temanku yang baik. Terima kasih atas nasihatnya. Namun, saat ini, jangankan aku memikirkan penggantinya, sekedar melupakan wajah dan nama Fanny saja, aku tak sanggup. Terlampau banyak kenangan indah yang kami rajut bersama. Dia adalah sosok yang bukan saja anggun dan mempesona, tetapi, juga demikian memikat jiwaku. Entahlah Mad. Sampai kapan situasi ini aku jalani. Kau harus percaya Mad, aku sudah pasrah dan menerima takdir Tuhan ini. Hanya, kalau berkaitan dengan pengganti Fanny, rasanya aku belum sanggup.

Ya sudah kalau begitu, kata Shomad pelan. Tetapi, sebagai sahabatmu, aku ingin menyampaikan bahwa jika kau terus larut dalam bayangan seperti ini, bukan saja kasian sama kamu, tetapi, kamu juga harus kasian sama Fanny. Biarlah … agar dia kembali dengan tenang ke sisi Tuhan kita semua. Tanpa diduga, Shofy berkata: “Betul A Doddy. Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Tetapi, hal itu harus segera berakhir dan segera berubah. Tanpa itu semua, kita justru bakal berakhir dengan tragis.

Eeeeit … Tumben kamu bisa berpikir benar Shofy, celetuk Nurjamil. Baru kali ini, aku mendengar kamu berpikir benar. Di saat yang sama Jamil memindahkan kuda caturnya dengan mengatakan skak ster kepada Shofy. Shofy kembali kalah. By. Charly Siera — bersambung

Komentar
Memuat...