Home » Sosial » Realitas Kaum Proletar Indonesia

Share This Post

Sosial

Realitas Kaum Proletar Indonesia

Realitas Kaum Proletar Indonesia. Di era 1980-an di mana gelombang globalisasi menerjang seantero dunia, intensitas dan cakupannya menyentuh hapir seluruh sendi kehidupan. Tidak hanya bidang ekonomi, bisnis, budaya, politik, ideoogi, tetapi juga telah menjamah ke tataran sistem, proses, pelaku bisnis.Dalam bidang perdagangan dan industri, tataran ekonomi global lebih bertumpu pada modal dan pemilik modal, yang mengusung tiga agenda; yaitu tata kekuasaan global yang bertumpu pada praktik bisnis raksaa lintas negara; pelaku utamanya adalah perusahaan-perusahaan trans-nasional; dan proses kultural ideologis yang dibawanya adalah konsumerisme. Praktek pertadangan bisnis trans-nasional ini didorong dan didukung oleh regulasi dan kesepakatan internasional yang kerap disebut sebagai aturan baru dalam kerangka pasar bebas. Kesepakatan tersebut mewujud dalam bentuk GTT (General Agreement on Tarrifs and trade), WTO (World Trade Organisation), GATS (General Agreement on Trade in Services), TRIPs (Trade Related Intelellectual Property Right), TRIMs (Trade Releted Invesment Measures) dan AoA (Agreement on Agriculture).

Rekomendasi untuk anda !!   Hikmah dibalik Sahur On The Road IAI BBC

Pemerintah Indonesia di bawah rezim Orde Baru menjadi pionir bagi kokohnya sistem ekonomi kapitalistik di Indonesia. Kebijakan pokok ekonomi Indonesia di bawah Orde Baru antara lain liberalisasi yaitu dengan membebaskan investor asing beroperasi di Indonesia. Kedua, ekonomi yang bertumpu pada hutang luar negeri serta, ketiga, industrialisasi besar-besaran yang ditujukan sepenuhnya untuk mencapi angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Pemikiran yang melandasi strategi pembangunan ini merumuskan dengan penuh percaya diri bahwa di dalam masyarakat akan terjadi suatu proses yang harmonis yang akan menyebarkan manfaat pertumbuhan ekonomi ke seluruh strata masyarakat melalui apa yang disebut mekanisme “tetesan ke bawah”. Pada kenyataannya, penyebaran pertumbuhan ekonomi hanya berjalan vertikal dan tidak menetes ke bawah. Sebaliknya, pembangunan ekonomi pertumbuhan yang merupakan wujud pembangunan yang tereduksi menyisakan krisis ekonomi yang panjang saat ini.

Dalam hal ketenagakerjaan misalnya, Indonesia, hingga saat ini pemerintah tampaknya belum bisa mengatasi amburadulnya persoalan yang dimunculkannya, terlebih pada persoalan upah. Sejak dahulu, masalah ini selalu menjadi sorotan banyak pihak dan tidak pernah selesai. Ini disebabkan adanya ketidakseimbangan antara suplay dan demand tenaga kerja. Teorinya memang benar bahwa slope upah bergerak positif sesuai dengan perkembangan permintaan, namun dalam kenyataannya, pergerakannya tidak secepat yang diharapkan sehingga terjadi kesenjangan (baca: pengangguran). Oleh karena adanya ketidakseimbangan antara suplay dan demand itulah maka harga atau upah tenaga kerja di Indonesia sangat murah. Upah buruh (UMP) hanya cukup untuk memenuhi Kebutuhan Hidup Minimal (KHM), bukan pada Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

Rekomendasi untuk anda !!   Zakat Menonjol Sebagai Kewajiban Agama

Jumlah masyarakat miskin di tanah air saat ini mencapai 36,1 persen dari total penduduk Indonesia, sekitar 220 juta jiwa, termasuk di dalamnya penduduk fakir miskin sebanyak 14,8 juta jiwa. Penanganan masyarakat miskin sepenuhnya merupakan tanggung jawab pemerintah. Namun, untuk saat ini pemerintah belum bisa berbuat lebih akibat kekuatan ekonomi negara dikuasai oleh konglomerat-konglomerat yang tidak pro rakyat. Atau karena negara yang pro pada pasar. 

Share This Post

1 Comment

  1. Masyarakat Indonesia yang saat ini telah memasuki MEA yang mengharuskan kesiapan masyarakat Indonesia untuk bersaing dengan negara- negara lain. Namun kenyatanny masih banyak masyarakat yang belum siapa menjadi anggota MEA dengan masih banyaknya pengangguran dan masih kecilnya jumlah upah buruh. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang mayoritas beragama islam. Jika kebijakan pemerintah mengenai masalah ekonomi ini menerapkan seperti khalifah umar mungkin akan sedikit demi sedikit bisa membaik.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>