Realitas Keghaiban Surga dan Neraka

1 124

Surga (الجنّة) dan neraka (النار) pada dasarnya adalah bagian dari perjalanan jauh kehidupan manusia, yang setart awalnya kehidupan di alam dunia, dan garis finisnya di hari perhitungan nanti. Batas akhir kehidupan seringkali digambarkan seperti tempat untuk pembalasan atas perbuatan manusia di dunia, jika perbuatan baik mendapatkan balasan kenikmatan dan pahala kebahagiaan, sedangkan perbuatan jahat akan memperoleh balasan penderitaan dan pedihnya penyiksaan (Baca: Q.S. Al-Ra’d: 35).  “Realitas Keghaiban Surga dan Neraka”

Sebagai tempat, surga dan neraka mempunyai berbagai tingkatan, seperti  dalam kasih perjalanan isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad saw, untuk bertemu dengan Tuhannya, yang melewati dan melihat beberapa tingkatan surga dan neraka yang ada, sesuai dengan tingkat amal perbuatan manusia di dunia. Tingkatan tersebut  mencerminkan adanya tingkat kualitas amal perbuatan manusia antara yang satu dengan lainnya. Sebagai balasan dari amal perbuatan manusia, surga dan neraka-pun juga menyesuaikan dengan berbagai tingkatan amal tersebut.[1]  Demikian juga halnya dengan neraka, yang mempunyai beberapa nama, yang seringkali dikenal dengan pembicaraan sehari-hari, yang dipakai untuk menyebutkan sesuatu yang negatif pada seseorang yaitu neraka “jahannam”.

Kerap ada  pernyataan bahwa di surga dan neraka itu kekal, dan abadi, karena surga dan neraka dibayangkan sebagai tempat terakhir dari perjalanan hidup manusia. Surga dan neraka dipahami sebagai tempat, tentu mengandung banyak kesulitan dan kontradiksi. Apalagi kalau dikaitkan dengan pemahaman bahwa surga dan neraka bukan tempat terakhir perjalanan manusia, dan disana juga ada tingkatan, sehingga dimungkinkan adanya proses untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi lagi.  Memang Tuhan bukan pendendam abadi, dan manusia juga bukan musuh abadi Tuhan, karena kasih sayang dan rahmat-Nya yang besar kepada manusia yang diciptakan-Nya sendiri, sehingga ada kemungkinan siksaan akan berakhir dengan memasuki tahapan ke surga.

Dalam pandangan filusuf, surga dan neraka bisa jadi bukan sebagai tempat, tetapi suasana-suasana psikologis atau kejiwaan. Sehingga surga adalah suasana kejiwaan yang penuh kebahagiaan atas hasil usaha dan prestasi gemilang dari perbuatannya yang baik, sedangkan neraka adalah suasana kejiwaan yang penuh penyesalan yang menguasai dan mencekam dirinya menghadapi perbuatannya yang jahat, yang melawan hati nuraninya sendiri, suasana hati yang menderita akibat perbuatannya sendiri. Dalam konteks ini surga dan neraka adalah balasan-balasan yang sifatnya psikologis, dan sesungguhnya manusia dapat meraihnya sejak kehidupannya di dunia.

Menurut Iqbal, surga dan neraka adalah perwujudan dari keadaan-keadaan dan bukan menunjukkan suatu tempat. Deskripsi yang dilakukan al-Qur’an yang seolah-olah  merupakan dimensi visual sesungguhnya merupakan penyajian tentang kondisi suatu fakt abatin yaitu watak atau karakter. Neraka adalah penyandaran yang pedih mengenai kegagalan seseorang sebagai manusia, sedangkan surga merupakan kenikmatan sebagai hasil kemenangan terhadap kekuatan-kekuatan yang memecah realitas diri manusia. Dalam Islam tidak ada suatu pengutukan abadi. Perkataan “abadi” yang sering dinyatakan oleh al-Qur’an merujuk pada jangka waktu. Dengan  demikian neraka bukan tempat abadi dari Tuhan untuk membalas dendam, melainkan sebuah pengalaman kreatif yang mungkin menyebabkan ego untuk kembali kepada Tuhan.5

Dalam pandangan Islam, penggambaran secara fisik mengenai surga dan neraka, kebun dan sungai yang indah untuk surga dan api yang membakar habis kulit untuk neraka, lebih bermakna simbolik. Karena sesungguhnya bahasa agama lebih diperuntukkan bagi manusia secara umum dalam segala tingkatannya. Sehingga pengungkapan secara kebahasaan selalu diwarnai oleh realitas kultural, seperti susana kebun yang indah dengan sungai yang mengalir, adalah simbol kehidupan ideal bagi masyarakat yang kesehariannya hanya diliputi oleh padang pasir. Akan tetapi keberadaannya pasti dan berlangsung secara ghaib, karena harus kepastian tegaknya hukum moral dan juga agama, yang secara natural menegaskan adanya pengadilan yang benar-benar adil yang dijamin Tuhan sendiri keadilannya.

Oleh : Dr. Ahmad Munir, M. Ag


[1] . Musa Asy’ary, Filsafat, h. 250.

8 .Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought In Islam, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1981), h. 123.

  1. cahyaning istiqomah berkata

    cahyaning istiqomah
    1415104020
    tadris ips A3
    surga dan neraka memang keghaiban yang menarik karena surga dan neraka merupakan lanjutan kehidupan manusia yang kekal dan abadi dengan kesesuaian amal perbuatan dan tingkah laku di dunia allah swt sangat banyak menggambarkan kehidupan abadi disana dalam alquran

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.