Redefinisi Teologi | Relasi Tuhan dan Manusia

1 477

Redefinisi Teologi | Relasi Tuhan dan Manusia: Realitas menunjukkan bahwa manusia baik individu maupun kelompok tidak pernah merancang, mencipta, dan melahirkan dirinya dari tiada menjadi ada. Manusia ada dengan keadaan yang telah ditentukan oleh kekuatan di luar kekuasaan dirinya. Mereka dalam keadaan lemah dalam menghadapi kehidupan berikutnya. Dengan bekal akal budi, realitas yang melingkupi manusia akhirnya menjadi bagian yang direnungkan manusia dalam kehidupanya. Perenungan tersebut melibatkan seluruh potensi pikir manusia secara serius. Dalam kondisi ini, manusia membutuhkan sandaran psikologis untuk mengatasi kegamangan yang dihadapi dalam hidupnya. Akhirnya, manusia menyandarkan psikologisnya pada kekuatan yang Maha Agung yang dipertuhankan. Oleh karena itu, tentang eksistensi manusia dan kehidupannya, mengharuskan membahas tentang realitas Tuhan untuk melihat relasi antara keduanya. Pembahasan tentang kedudukan, posisi, hubungan antara manusia dan Tuhan, itulah yang lazim disebut teologi.

Redefinisi Teologi

Istilah teologi pada asalnya berasal dari tradisi atau khazanah Gereja Kristiani.  Penggunaan istilah ini tidak dimaksudkan untuk menolak pemakaiannya. Penggunaan istilah dari khazanah atau tradisi lain, tidak harus dipandang sebagai yang negatif. Terlebih jika istilah tersebut dapat membantu, memperkaya khazanah dan tradisi dalam memahami Islam secara komprehensif.

Kata teologi  berasal dari kata theos (Tuhan) dan logos (ilmu atau wacana). Kata teologi berasal dari bahasa Inggris Theology, dan Yunani Theologia yang mempunyai beberapa pengertian di antaranya adalah.  a)Ilmu tentang hubungan dunia Ilahi dengan dunia fisik. b)Ilmu tentang hakikat dan kehendak Sang Ada. c)Doktrin atau keyakinan tentang Tuhan.  d) Kumpulan ajaran yang disusun secara koheren yang menyangkut hekekat Allah, hubungan Allah dengan manusia serta hubungan-Nya dengan alam semesta. e)Usaha yang sistematis untuk meyakinkan, menafsirkan dan membenarkan secara konsisten keyakinan tentang Tuhan. Dari uraian tersebut, teologi dapat disederhanakan menjadi tiga hal yaitu. Pertama, teologi selalu berkaitan dengan Tuhan atau transendensi, baik dilihat dari segi mitologis, filosofis maupun dogmatis. Kedua, meskipun teologi memiliki banyak nuansa, tetapi doktrin tetap menjadi elemen signifikan dalam pemaknaannya. Ketiga, teologi pada hakikatnya adalah aktivitas atau respon yang muncul dari kepercayaan (îîmân) atau muncul dari penafsiran atas kepercayaan.

Teologi dalam Khazanah Islam

Dalam khazanah Islam, istilah teologi lazim dikenal dengan berbagai istilah di antaranya adalah; a) ‘ilm ushûl al-dîn, karena membahas tentang ajaran dasar agama Islam. Ajaran dasar Islam lazim disebut ‘aqâ’id atau sistem keyakinan. b) ‘ilm al-tauhîd yang membahas tentang keyakinan bahwa Allah itu Esa, dan c) ‘ilm al-kalâm yang membahas tentang firman Allah yang mengkristal dalam kitab suci al-Qur’an. Dalam hal ini al-Qur’an sebagai kalâm Allah pernah menjadi objek perdebatan di kalangan teolog Islam, apakah al-Qur’an itu qadîm (abadi) atau hadîts (baru).

Secara terminologi, kata teologi juga mengandung pengertian “ilmu tentang hubungan dunia Ilahi (dalam konteks kekekalan dan ideal) dengan dunia fisik”.  Dari pengertian tersebut, konsep teologi tidak lepas dari pembicaraan Tuhan dan alam semesta yang di dalamnya juga membahas hubungan antara manusia dan Tuhan, Tuhan dengann alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Secara makro, konsep ajaran dasar Islam yang fundamental tidak terbatas pada aspek kepercayaan, tetapi juga terkait dengan hal-hal yang praksis dalam kehidupan. Keimanan dan keyakinan manusia tidak hanya menyangkut kepercayaan terhadap Tuhan, tetapi meliputi pandangan dan sikap manusia terhadap sesama manusia dan alam.

Prinsip Teologi Islam

Konsep teologi Islam bersistem tauhîd, yang secara metodologis mempunyai tiga prinsip, yaitu (1) penolakan segala yang tidak berkaitan dengan realitas. (2) Penolakan semua hal yang berkontradiksi secara hakiki, (3) keterbukaan bagi bukti yang baru atau bukti yang akan melindungi dari fanatisme, literalisme, dan konservativisme yang mengakibatkan kemandegan. Prinsip-prinsip tersebut merupakan inti pengetahuan dan sekaligus pengalaman.  “Allah” dijadikan simbol normatif, karena Dia adalah Dzat yang Memerintah. Perbuatan-Nya adalah realitas yang tidak dapat diragukan. Dia adalah tujuan akhir dari segala sesuatu.

Secara ontologis, al-Qur’an memandang dunia bersifat teosentris. Tuhan berada ditengah-tengah realitas yang ada, baik wujud maupun non wujud. Manusia dan alam sekitarnya adalah makhluk Tuhan yang berada pada posisi lebih rendah dalam hierarki wujud. Dalam  posisi ini manusia selalu berada dalam kutub yang berlawanan dengan Tuhan. Ketika manusia dalam posisi kekurangan, di situ Tuhan berada pada posisi Kaya dan Kecukupan. (Baca: Fâthir/35: 15)

Di dalam ayat lain yang senada dengan ayat tersebut, kata ghanî yang dinisbahkan kepada Allah digambarkan dengan “kepemilikan langit dan bumi seisinya yang diperuntukkan manusia” (baca: Q.S. Yûnus/10: 68, al-Hajj/22: 64, Luqmân/31: 26). Ketiga ayat tersebut kata ghanî semuanya dikaitkan dengan kata hamîd (terpuji), karena tidak semua orang, baik yang kaya maupun yang merasa kaya bersikap terpuji dengan kekayaannya. Dari kekayaan tersebut, Allah sering mengecam manusia yang bakhil. Kebakhilan manusia didasarkan pada perasaan kaya manusia, padahal mereka adalah miskin. (baca: Q.S. Muhammad/47: 28, al-An‘âm/6: 133,   al-Hadîd/57: 24 dan al-Mumtahanah/60: 6).

Relasi Tuhan dan Manusia

Dalam perspektif al-Qur’an, relasi ini dapat divisualkan sebuah lingkaran dengan dua titik rujukan utamanya yang selalu bertentangan. Satu di atas (Tuhan), satu di bawah (manusia) yang selalu bergantung pada titik atas.  Visual ini berbeda dengan masa sebelum al-Qur’an turun, manusia pada saat itu menjadi sentral utama dalam kehidupan. Sebagai konsekuensi logis, segala bentuk kekuatan berakhir pada manusia yang bersifat tribalisme. Segala bentuk tindakan dalam sikap manusia, semata-mata hanya  didasarkan pada solidaritas kesukuan. Dalam konteks ini, penghormatan terhadap jalinan kekeluargaan yang didasarkan pada pertalian darah, melebihi segala ikatan yang ada.

Tindakan yang diatasnamakan suku, diposisikan sebagai perjanjian suci yang harus ditunaikan setiap individu yang menjadi kelompok suku, baik dalam posisi benar maupun salah. Fanatik kesukuan (‘ashabiyyah) dalam masyarakat tribalisme, kadang-kadang lebih kuat dari pada keyakinan terhadap penyembahan berhala yang dilakukan. Menurut Ibn Khaldun, perbedaan hal ikhwal manusia  disebabkan oleh perbedaan cara memperoleh penghidupan. Terbentuknya komunitas, tidak lain hanyalah untuk saling membantu dalam memperoleh dan memenuhi kebutuhan hajat hidup yang sederhana sebelum memperoleh nilai hidup yang lebih tinggi. Solidaritas sosial yang tinggi biasanya didasarkan pada pertalian darah atau pertalian lain yang dapat mempersatukan persepsi kerukunan. Seperti nasib, kepercayaan geografis dan lain-lain (Al-Qashash:4). Prinsip solidaritas kemanusiaan, akhirnya diganti dengan prinsip monotheis. Kebenaran yang diturunkan oleh Tuhan melalui wahyu menjadi sentral figurnya. Persamaan derajat kemanusiaan sebagai makhluk Tuhan disupremasikan. Prestasi yang disandang oleh manusia didasarkan pada nilai luhur yang dilakukan (Al-Hujurât: 13).

Untuk menyosialisasikan prinsip ini, di samping dilakukan dalam kehidupan riil, al-Qur’an juga memperingatkan melalui sisi eskatalogis, yaitu kekerabatan yang dibanggakan belum tentu menjadi jaminan keselamatan di akhirat. Relasi antara manusia dan Tuhan yang membentuk kutub yang bertolak belakang, tidak bersifat unilateral, melainkan bersifat ganda dan bilateral dalam pengertian relasi yang timbal balik.

Bahan Bacaan:

‘Abd al-Rahmân ibn Khaldûn, Muqaddimah ibn  Khaldûn, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993

Alasdair MacIntyre, “ontology” dalam Paul Edwards (ed.), The Encyclopedia of Philosophy ,New York: Macmillan Publishing co., Inc. Press, 1972

Al-Râgib al-Asfahânî, Mu‘jam Mufradât Alfâzh al-Qur’an, Beirut: Dâr al-Fikr, tt

Djohan Effendi, “Konsep Teologi” dalam Budhy Munawar Rachman (ed.), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Jakarta: Paramadina, 1995

Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Qur’an, Bandung: Pustaka, 1996

Frank Whaling, “Pendekatan Teologis” dalam  Peter Connolly (ed.), Aneka Pendekatan Studi Agama, Terj. Imam Khoiri, Yogyakarta: LKiS, 1999

Frank Whaling, “Pendekatan Teologis” dalam  Peter Connolly (ed.), Aneka Pendekatan Studi Agama, Terj. Imam Khoiri, Yogyakarta: LKiS, 1999

Harun Nasution, Teologi Islam,  Jakarta: UI Press, 1986

Isma‘il Raji Al-Faruqi, Tauhid, Terj. Rahmani Astuti, Bandung: Pusaka, 1995

Jamâl al-Dîn Muhammad Ibn Mukarram Ibn Mandzûr, Lisân al-‘Arab, Beirut: Dâr al-Fikr, tt

Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996

Dawam Rahardjo, Ensiklopedi al-Qur’an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, Jakarta: Paramadina, 2002

Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Ciputa: Lentera Hati, 2004

Madjid Fakhry, A History of Islamic Philoshopy, New York: Columbia University, 1970

Muhammad Rasyîd Ridlâ, Tafsîr al-Qur’ân al-Hakîm,  Beirut: Dâr al-Ma‘rifah, tt

Mujiono Abdillah, Agama Ramah Lingkungan, Jakarta: Paramadina, 2001

Musa Asy‘arie, Filsafat Islam,  Yogyakarta: LESFI, 1999

Nurcholish Madjid, dalam Budhy Munawar Rachman (ed.), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Jakarta: Paramadina, 1995

Syahrûr, Al-Kitâb wa al-Qur’ân: Qira’ah  Mu‘ashirah, Damaskus: Al-Ahâfî, 1990

Toshihiko Izutsu, Etika Beragama dalam Al-Qur’an, Terj. Mansuruddin Djoely, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995

———-, Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik dalam Al-Qur’an, terj. Agus Fahri Husin dkk, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997

Oleh: Dr. Ahmad Munir, M.Ag

Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo

  1. meila refania berkata

    assalamualaikum wr.wb
    ontologi pertama kali diperkenalkan oleh rudolf untuk menamai teori tentang hakikat yang bersifat metafisis apa yang dimaksud metafisis ?
    wassalamualaikum wr.wb

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.