Reformasi Syariah: Menelisik Argumen Mahmud Thaha

0 37

adang jumhurReformasi syariah merupakan wacana yang kontroversial. Selain ada sejumlah pemikir yang mengusung dan mendukungnya, banyak juga yang membantah dan melarang untuk menyebarkannya. Wacana yang dipersoalkan, mungkinkan syariah direformasi? Bagaimana caranya? Sejauhmana produk syariah yang dihasilkannya memiliki keabsahan dan otoritas yang diakui secara normatif dalam perspektif hukum Islam. Demikian antara lain, sejumlah pertanyaan yang terkait dengan wacana reformasi syariah.

Tulisan ini, tidak untuk menjawab atau memberi penjelasan mengenai sejumlah pertanyaan itu, tetapi untuk menelisik argumen seorang tokoh pemikir Islam dari Sudan, pengusung gagasan reformasi syariah. Dia adalah Mahmud Muhammed Thaha. Tulisan ini, akan mengkonfirmasi pemikiran tokoh itu, berkaitan dengan argumentasinya tentang konsep naskh dan hubungannya dengan reformasi syariah menuju syariah yang lebih humanis. Pertanyaannya, bagaimana kerangka konseptual argumen Mahmud Thaha dalam membangun gagasannya? Apakah argumen tersebut memiliki basis teoritis yang kuat dalam tradisi keilmuan fiqh (ushul al-fiqh), dan seberapa relevan dan signifikan argumen itu untuk  membangun reformasi syariah?

Sekilas tentang Mahmud Thaha

Sebelum menyimak gagasannya, ada baiknya secara sekilas mengenali tokoh ini. Nama lengkapnya Mahmûd Muhammad Thâhâ. Ia lahir tahun 1909 atau 1911 M di Rufa’ah, Sudan Tengah. Ibunya meninggal tahun 1915, dan tidak lama kemudian, pada tahun 1920 ayahnya menyusul. Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di tanah kelahirannya, Rufa’ah. Pada tahun 1932 Mahmud Thaha terdaftar sebagai mahasiswa di Gordon Memorial College (sekarang Universitas Khartoum), pada Faklutas Teknik, dan pada tahun 1936 berhasil menyelesaikan studi di universitas tersebut. Setelah itu, menjadi pegawai jawatan kereta api Sudan. Di masa pertumbuhannya, Thaha menunjukkan kecenderungan untuk menyendiri beribadah (khalwat) dan mengamalkan ajaran tasawuf. (baca: Mahmoud Mohammed Taha )

Konsep Naskh

Thaha memandang perlu adanya reformasi syariah, karena formulasi syariah yang ada dinilai tidak lagi memadai untuk mengakomodasi tuntutan kehidupan modern. Formulasi syariah yang ada dianggapnya tidak lagi relevan dalam memenuhi prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM), yang menjadi tuntutan universal bangsa-bangsa di dunia saat ini. Itulah menurutnya, mengapa syariah perlu direformasi.

Kerangka konseptual gagasan Thaha dalam melakukan reformasi syariah berbasis pada konsep naskh, walaupun seperti yang akan nampak kemudian, konseptualisasinya berbeda dari nasakh yang selama ini difahami orang. Konsep naskh merupakan unsur signifikan dari gagasan Thaha. Pemahaman dan penerimaan terhadap reformasi Syariah  yang digagas Thaha ditentukan oleh pemahaman dan kesiapannya menerima konsep  naskh. Ketika konsep naskh ditolak, karena tidak memiliki argumen yang kuat misalnya, maka terlebih lagi konsep naskh yang diajukan Thaha, dan otomatis reformasi syariah yang dihasilkannya akan tertolak pula. Itulah sebabnya, mengapa begitu penting memahami konsep naskh dan ketegasan sikap dalam menerima atau menolak konsep ini sebagai metodologi pembaharuan hukum Islam.

Dari interpretasi kontekstual terhadap teks-teks yang dijadikan landasan bagi konsep naskh, tampaknya tidak ada yang menunjukkan indikasi kuat akan adanya penghapusan (naskh ?) dalam Alquran.” Bila meang tidak ada indikasi yang kuat tentang naskh dalam al-Quran, maka bagaimana mungkin dapat mengakui konsep naskh Thaha? Pada beberapa alinea ke depan, akan dikemukakan beberapa ayat al-Quran yang memberi indikasi adanya konsep naskh dalam al-Quran, walaupun interpretasi ulama terhadapnya secara konseptual bervariasi. (Lebih lengkap download dibawah ini : Jurnal Reformasi Syariah: Menelisik Argumen Mahmud Thaha)

Naskh dalam Perspektif Thaha

Pada dasarnya, pandangan Thaha tentang naskh sama dengan apa yang telah dikenalkan oleh para ulama, yakni sebagai teknik untuk mengkompromikan ayat-ayat yang secara substansial dianggap bertentangan satu sama lain, dengan cara menghapuskan atau menangguhkan fugsionalisasi salah satunya.

Perbedaan pendangan Thaha dengan ulama pada umumnya terletak pada proses dan dampak yang diakibatkannya. Proses naskh yang dilakukan oleh ulama adalah penghapusan atau penangguhan ayat yang lebih dahulu turun oleh ayat yang turun belakangan, dan ayat yang dikategori mansukh tidak dipakai lagi (ghair muhkam).

Sedangkan menurut Thaha, proses naskh tersebut bersifat tentatif sesuai dengan kebutuhan. Maksudnya, ayat mana yang dibutuhkan pada masa tertentu, maka ayat itulah yang diberlakukan (muhkam); sedangkan ayat yang tidak diperlukan, -karena dianggap tidak relevan dengan perkembangan kontemporer-, tidak diberlakukan (ghair muhkam), dihapuskan, atau ditangguhkan (mansukh).

Sehingga, naskh menurut Thaha dapat saja berarti penghapusan atau hanya berarti penangguhan suatu ayat yang datang belakangan oleh ayat yang turun lebih dahulu; atau sebaliknya, ayat yang turun belakangan menghapus atau mengantikan ayat yang datang belakangan, bila memang kondisi-kondisi aktual menghendakinya. Dalam pada itu, ayat yang sudah dinyatakan mansukh ini apabila diperlukan dapat digunakan lagi di kesempatan lain. Artinya, pemansukhan itu tidak berlaku abadi atau selamanya, tetapi bersifat sementara, sejauh diperlukan. (Lebih lengkap download dibawah ini : Jurnal Reformasi Syariah: Menelisik Argumen Mahmud Thaha)

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa argumen Thaha tentang reformasi syariah, dibangun di atas konsep naskh. Konsep naskh yang menjadi basis metodologis gagasan Thaha itu sebenarnya telah dikenal lama dalam khazanah intelektual Islam. Kitab-kitab klasik maupun modern dalam bidang ulum al-Quran maupun ushul al-fiqh membahas masalah ini. Orsinalitas gagasan Thaha bukan pada pengenalan konsep naskh itu sendiri, melainkan pada redefinisi dan reaktualisasinya, yang memungkinkan konsep itu menjadi dinamis dan signifikan bagi pembaharuan hukum Islam ke arah yang lebih humanis.  Bila demikian adanya, maka perlukah gagasan Thaha ini dikembangkan? Jawabannya, tentu saja, terserah Anda. ** Oleh: Prof. Dr. H. Adang Djumhur Salikin

Lebih lengkap download dibawah ini :

Jurnal Reformasi Syariah : Menelisik Argumen Mahmud Thaha

Download Makalah Reformasi Syariah

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.