Regulasi Kehidupan dalam Catatan Harian | Hidup Wajar 1

Regulasi kehidupan
0 32

REGULASI Kehidupan. Dulu bapak seperti kamu. Kelak kamu akan seperti Bapak. Suatu ungkapan yang terkesan lelucon dan guyonan namun sering diungkapkan bapak kami kalau lagi rehat di balai rumah. Karena itu, sekarang sering terngiang di telinga. Bahkan merasuk ke dalam jantung dan pori-pori kehidupan. Ia sosok yang demikian telaten menginspirasi hidup, tentu khususnya bagi kami.

Bahasa atau ungkapan semacam itu, biasanya meluncur misalnya kalau bapak meminta kami untuk membeli obat. Panas badan sedikit, atau sakit kepala, ia meminta untuk dibelikan obat warung. Saya berkata, pak … kenapa harus selalu membeli obat. Sakit sedikit sih tidurkan saja. Nanti juga sembuh sendiri. Bapak tertawa ringan. Ia berkata pelan. Makin tambah umur, daya tahan tubuh berkurang. Dulu bapak sama seperti kamu. Kuat dan kokoh. Sekarang entah kenapa? Ko gampang sakit dan sulit hilang rasa sakit itu. Supaya hilang rasa sakitnya, ya kamu harus beliin obat buat bapak. Waktu itu, usianya sekitar 55 tahunan.

Teori Hidup di Masa Pubertas

Begitupun pada saat bapak kami, kalau istilah sekarang mengalami pubertas kedua. Ya kira-kira usia dia empat puluh tahunan lebih. Tubuhnya tambun. Wajahnya ganteng. Ia juga dikenal pintar. Jadi dia gampang adaftasi dan gampang disukai orang lain, termasuk lawan jenis. Suatu hari, ia meminta kepada temannya, agar dicarikan calon istri, tentu untuk dipoligami. Tanpa basa-basi, ia berkata kepada temannya di hadapanku. Ia tidak memperlihatkan rasa ternganggu dan rasa canggung ketika melihat saya sebagai anaknya duduk tersipu didepannya.

Sewaktu pulang dari kantor kira-kira jam 12-an siang, bapak cerita. Entah kenapa, bawaan bapak sekarang ini, ingin marah terus sama ibu kamu. Salah satunya menurut bapak, ibu suka cerewet. Kalau bapak ngomong satu kata, ibu bilang dua puluh kata. Terus kalau melihat wanita lain, bapak jadi mudah tertarik. Kamu jangan bilang sama ibu. Kalau bukan karena kamu dan kakak serta adik-adik kamu, bapak pasti sudah menikah lagi.

Saya diam termanggu. Kadang-kadang ada rasa kesal di dada. Kasian juga memikirkan ibu, barangkali bapak benar-benar tertarik sama perempuan yang disebutnya cantik, lalu menikahinya. Saya hanya mengangguk. Bukan berarti takut dimarahi, karena beliau tidak pernah marah. Tetapi ingin mencoba memahami pikiran bapak kami.

Faktor yang menyebabkan bapak masih bertahan bareng sama ibu kamu, hanya karena Bapak telah memiliki anak. Suatu hari, nanti pasti kamu akan merasakan apa yang bapak rasakan. Kamu ikut berdo’a saja, semoga bapak tidak tergoda oleh wanita lain yang menyebabkan bapak harus memiliki istri lagi.

Tetapi kamu harus ingat, saat suasana seperti menimpa teman atau saudara kamu, jangan memilih untuk ikut menyalahkan. Biarlah mereka mengatur roda dan hidup menurut nalarnya. Yang penting jamu harus tetap ajeg dalam keyakinan kamu dan kamu tidak boleh berhenti untuk menapaki hidup dengan benar. Jangan sombong ketika berjalan kaki, karena tanah yang kita injak, adalah sipat Tuhan. Mengapa? Karena ia hadir sebagai ekspresi dari sifat Khalik Allah.

Hidup itu Usaha Menemukan Hikmah

Puluhan tahun setelah cerita-cerita itu lewat, kini sebagian cerita itu terasa maknanya. Makna dan faidahnya justru terasa saat bapak kami telah kembali ke kampung abadinya. Saya percaya ia masuk Syurga. Saat ini, ia sedang berada dalam singgasana para shalihin dan para syuhada di Syurga. Menyaksikan kami semua dalam lumpur kehidupan yang sewaktu-waktu penuh noda dan dosa.

Dalam kehidupan yang paling ril, saya sering bareng dengan teman-teman yang sebelumnya terkesan kere, miskin, kurang berilmu dan rendah wawasan. Apalagi jabatan. Saat-saat kemiskinan begitu mendera, mereka semua seperti sangat bersahaja. Seperti sangat arif dan bijaksana. Tetapi, terkesan menjadi berubah saat berbagai kemudahan hidup menghampirinya.

Mereka jadi mengesankan diri seperti pemilik singgasana. Terkesan seperti pengendali berbagai dimensi yang membuat jangankan umat yang banyak dan kompleks, saya sendiri sebagai temannya menjadi masygul untuk bergaul dengannya. Menjadi kaku dan takut. Menjadi risi dan malu. Kata-katanya bukan hanya membuat telinga menjadi merah dan panas, tetapi, membuat hati dan denyut nadi menjadi cepat berdetak.

Menariknya lagi, kehidupan mereka yang demikian, berjalan dalam waktu yang sangat singkat. Ia hanya seumur jagung, tumbuh, berdaun hijau dan berbuah dalam waktu yang pendek. Akhirnya mati ditelan kegelapan hidup dan layu sebelum musim layu muncul. Kita tentu tidak boleh demikian. Tetapi, mereka yang demikian itu, adalah mereka yang tidak sanggup menemukan hikmah hidup. Padahal setiap lakon dalam hidup penuh hikmah.  ** Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...