Relasi antara Filsafat dan Agama

Relasi antara Filsafat dan Agama
0 137

Makna agama dan Makna Filsafat. Filsafat dan agama sering dipisahkan, atau bahkan sering dipertentangkan. Padahal antara keduanya, tidak dapat dipisahkan, apalagi dipertentangkan. Keduanya persis ibarat dua rel yang satu sama lain, saling mendukung dan sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Filsafat tanpa agama akan menjadi kering pesan dan cenderung sekularistik. Sedangkan agama tanpa filsafat akan kering pesan kemanusiaan. Padahal agama turun untuk mengatur dimensi kemanusiaan di dunia.

Agama, mengutif pikiran Prof. Cecep Sumarna berkepentingan untuk membangun jiwa kemanusiaan di bumi. Agama tidak mengatur kehidupan manusia di akhirat, meski konsekwensi logisnya, kehidupan di dunia akan berpengaruh pada kehidupan di akhirat. Karena itu, penalaran [filsafat] keagamaan, akan membangikitkan agama dalam nalar kemanusiaan juga.

Makna Filsafat dan Agama

Willian Temple, menyebut filsafat sebagai salah satu cabang pengetahuan. Tujuan berfilsafat adalah untuk memahami sesuatu secara utuh dan mendalam.Ai??C.S Lewis, untuk membedakan antara berfikir biasa dan berfikir filsafat membedakan menjadi enjoyment & contemplation. Ia memberi contoh sebagai berikut: Laki-laki mencintai perempuan.

Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin tenang. Filsafat dapat diumpamakan seperti air telaga yang tenang & jernih dan dapat dilihat dasarnya. Seorang ahli filsafat, jika berhadapan dengan penganut aliran atau paham lain, biasanya bersikap lunak. Filsafat, walaupun bersikap tenang dalam pekerjaannya sering mengeruhkan pikiran pemeluknya. Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian & argumen, walaupunAi?? argumennya sendiri.

Agama berarti mengabdikan diri dan hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu. Agama menuntut pengetahuan untuk beribadah yang utama merupakan hubungan manusia dengan tuhan. Agama dapat dikhiaskan dengan enjoyment atau rasa cinta seseorang. Agama banyak berhubungan dengan hati. Agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya. Agama oleh pemeluk-pemeluknya. Agama dengan semangat & perasaan pengabdian diri, juga mempunyai efek yang memenangkan jiwa pemeluknya.

Agama dan ilmu Pengetahuan merupakan suatu keluarga yang diikat oleh tali persaudaraan. Sekalipun ilmu pengetahuan terbatas hanya membahas alam benda karena tidak sanggup membahas pangkal mula kejadian dan akhir sesudahnya, namun demikian ia dapat dipergunakan sebagai jenjang naik untuk kehikmatan sebagai tujuan pokok dari dekat maupun jauh.

Sebenarnya tidak ada pertentangan yang hakiki antara ilmu dan agama. Sekiranya terdapat pertentangan diantara keduanya kemungkinan besar justru ilmu belum dapat menjangkau permasalahannya. Sekalipun demikiian ilmu dapat memberikan oksigen dalam udara akal yang baik, sehingga hati menjadi mantap pendiriannya. Kemantapan itu sebagai bashiroh, tidak secara bodoh dan tersesat oleh tiruan tanpa pengertian.

Perbedaan antara Filsafat dan Agama

Perbedaan yang terjadi antara keduanya mungkin didasari oleh salah satu dari dua kemungkinan :

Pendirian dari salah satu dari dua pihak bersikap menentang pihak yang lain dalam keseluruhan, tetapi bermaksud untuk membebaskan pihak yang lain dari pendiriannya, atau menentang karena tidak mengerti dari masing-masing pihak karena mengira apa yang tidak masuk dalam daerah jangkauan ilmunya tidak benar dan palsu.

Ada beberapa masalah tertentu yang dikatakan bahwa ilmu dan agama mempunyai dua hukum yang bertentangan. Hal ini hanya terjadi ketika agama itu menjamah unsur yang bersifat kejiwaan dari daerah problematika ilmu dan hal-hal yang eksak bagi ilmu itu.

Selama ini ada anggapan bahwa antara agama yang mempunyai ajaran-ajaran absolut dan dogma yang di wahyukan oleh Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Benar, dan ilmu pengetahuan yang banyak bergantung oleh pemikiran akal manusia yang kebenarannya bersifat relatif, terdapat pertentangan keras. Sejarah memang menunjukkan bahwa di Barat pada abad abad pertengahan terjadi pertentangan keras antara ilmu pengetahuan dan agama; di Timur, hal serupa dijumpai pula pada masa antara abad ketiga belas dan abad kedua puluh.

Menurut Harun Nasution yang dikutip oleh Amsal Bahtiar, penemuan sains di Barat tidak dapat diharmoniskan dengan dogma Kristen. Akhirnya menimbulkan pertentangan keras antara gereja di satu pihak dan kaum filosof dan saintis di pihak lain. Kaum filosof, demikian Harun Nasution, yang membawa pemikiran-pemikiran dan saintis yang menimbulkan penemuan-penemuan yang bertentangan dengan pendapat gereja dikeluarkan dari Gereja. Maka filsafat dan sains yang mereka kembangkan menjadi terlepas dari ikatan agama.

Dengan demikian berkambanglah filsafat dan sains yang sekuler di Eropa Barat sebagaimana halnya dengan filsafat dan sains di Yunani zaman klasik. Filsafat ini mengajarkan bahwa mencari sebanyak mungkin kesenangan adalah prinsip yang di pakai dalam bidang moral. Dalam bidang teologi, timbul teologi Tuhan telah mati, agama tidak ada artinya lagi. Yang menentukan segala-galanya adalah manusia. Nilai yang absolut lenyap digantikan dengan nilai yang relatif.

Agama Membangun Citra Kemanusiaan

Pemakaian sains pun, demikian Harun Nasution tidak dikontrol oleh agama. Soal sains membawa kerusakan atau manfaat bagi para masyarakat, menurut para saintis, bukanlah urusan mereka, tetapi itu adalah masalah kaum agama atau moralis. Padahal kaum agama dan moralis di Barat boleh di katakan tidak ada pengaruhnya lagi.

Etika memang tidak termasuk dalam kawasan ilmu dan tehnologi yang bersifat otonom, tetapi tidak dapat disangkal ia berparan dalam perbincangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Penerapan dari ilmu pengetahuan dan tehnologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadang-kadang kita lihat akan mempunyai pengaruh pada proses perkembangan lebih lanjut ilmu pengetahuan dan tehnologi, dan hal ini ada keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab pada kepentingan umum, kepentingan generasi mendatang, dan bersifat universal.

Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan dan tehnologi adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksisitensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Mumu Mughni –Mahasiswa Pascasarjana UNMA–

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.