Relasi Fungsional | Manusia Dengan Alam

0 159

Pandangan Ekologis

Dalam pandangan ekologis,  relasi struktural  memposisikan manusia setara dengan alam atau makhluk lain dalam kemakhlukan. Akan tetapi, hal tersebut pada hakikatnya bukanlah pembatas antara manusia dan alam. Relasi tersebut hanya merupakan rambu-rambu hubungan antara manusia dan alam untuk menjalin hubungan dalam memanfaatkan alam. Rambu-rambu tersebut untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan alam yang difungsikan oleh manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Dalam pandangan al-Qur’an,  hubungan antara Tuhan dan alam adalah hubungan pencipta-makhluk (khâliq-makhlûq). Oleh karena itu,  alam dan apa yang ada di dalamnya bersifat teosentris. Segala yang ada di alam berpusat pada kekuasaan dan  pengendalian Tuhan, baik secara langsung maupun melalui hukum alam yang telah dit etapkan Tuhan. Sementara hubungan manusia dengan alam secara struktur mempunyai hubungan yang setara yaitu sebagai makhluk.

Tuhan memberikan kewenangan kepada manusia sebagai khalîfah, disebabkan oleh potensi  dan prestasinya. Kewenangan tersebut untuk mengatur dan memanfaatkan lingkungan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Bumi dan isinya diciptakan oleh Allah untuk kehidupan   makhluk-Nya.

    وَالأََرْضَ وَضَعَهَا لِلأَنَامِ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الأََكْمَامِ

Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya). di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. (al-Rahmân/55: 10-11)

Kata al-anâm  dalam  ayat di atas, tidak dikenal akar katanya. Ada yang berpendapat bahwa kata tersebut berakar dari kata naûm  (tidur), dan ada yang berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata al-wanîm (suara). Jika kedua makna tersebut dipadukan, maka al-anâm adalah makhluk yang berpotensi tidur dan bersuara. Oleh karena itu, kata tersebut maknanya tidak terbatas pada manusia, tetapi semua makhluk yang mempunyai ciri potensi tersebut. Oleh karena itu, manusia tidak dapat berlaku sewenang-wenang dengan lingkungannya.

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa relasi antara manusia dan alam adalah relasi fungsi bukan hegemoni. Penyerahan bumi kepada manusia bukan berarti penguasaan dan pengkhususan untuk manusia. Pemanfaatan alam oleh manusia juga bukan berarti menghalangi makhluk lain untuk turut memanfaatkannya. Alam diciptakan oleh Allah agar digunakan, dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia, bukan untuk dikuasai yang menyebabkan manusia berlaku sewenang-wenang terhadap lingkungan, seperti mengeksploitasi, merusak, dan lain-lain yang menyebabkan alam kehilangan keseimbangannya.

Saluran Rahmat Bagi Alam

Seyyed Hossein Nasr ketika membahas hubungan antara manusia dan alam, ia mengilustrasikan bahwa manusia adalah saluran rahmat bagi alam, melalui partisipasinya yang aktif di dunia spiritual. Manusia akan memberikan cahaya ke alam, ia sebagai mulut kehidupan dan nafas alam. Dari kedekatan hubungan tersebut, keadaan batin manusia akan tecermin dalam tatanan alam. Ketika orang suci telah tiada, alam akan kehilangan cahaya yang menerangi dan udara yang menghidupi. Ketika keadaan batin manusia berpaling kepada kegelapan dan kekacauan, alam juga berpaling dari keharmonian dan keindahan menjadi ketidakseimbangan dan kekacauan.

Kesetaraan posisi kemakhlukan antara manusia dan alam, menjadikan manusia tidak layak bertindak hegemonik, meskipun dalam dirinya terdapat kebebasan, karena kebebasan manusia pada hakikatnya tidak mutlak. Oleh karena itu, penaklukan dan penyerahan alam kepada manusia, sering diisyaratkan sebagai keterikatan alam dengan hukumnya (taskhîr).  Secara bahasa, kata taskhîr berarti pengendalian sesuatu secara paksa untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Derivasi kata tersebu di dalam al-Qur’an diulang 42 kali, 22 kali, seluruhnya berbentuk kata kerja. Dengan demikian, manusia akan mudah menundukkan dan menguasai alam. Sebagai contoh firman Allah dalam surat Ibrâhîm/14: 32-33.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأََرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا  لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الأََنْهَارَ  وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ.

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.

Kata sakh-khara (سَخَّرَ) dalam ayat di atas, digunakan oleh al-Qur’an dalam arti penundukan sesuatu agar mudah digunakan oleh pihak lain untuk meraih manfaat. Sesuatu yang ditundukkan oleh Allah tidak lagi memiliki pilihan. Dengan demikian, manusia yang mengetahui sifat-sifat alam akan dapat menguasainya, karena yang dikuasai tidak akan membangkang.

Status Manusia Terhadap Alam

Ketika al-Qur’an mengungkapkan penundukkan (سَخَّرَ) alam kepada manusia,  penundukan tersebut selalu diawali dengan huruf lâm (ل), baik berbentuk lakum  maupun lahu. Huruf  lâm tersebut berfungsi sebagai penisbahan (semi kepemilikan) kepada manusia. Di dalam bahasa Arab, huruf lâm  (ل) adalah salah satu dari huruf jarr. Huruf tersebut (ل) mempunyai 15 arti dan penunjukan yaitu menunjuk pada kepemilikan atau kekuasaan, pengkhususan hak, setara kepemilikan, penjelas, perinci, penegas, penguat, keberlangsungan untuk selamanya, pertolongan, keheranan, sebagai suatu akibat, meninggi, waktu, kebersamaan dan di dalam. Dengan demikian, status manusia terhadap alam dan lingkungannya hanyalah sebagai pengguna dan pemanfaat, bukan pemilik dan penguasa yang sesungguhnya. Firman Allah dalam surat al-Jâtsiyah/45: 12-13.

اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأََرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ.

Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.

Penundukan langit, bumi, dan apa yang ada di alam pada ayat di atas, dapat dipahami bahwa semua bagian yang ada di alam berjalan atas dasar sistem yang pasti. Dari sistem yang konsisten tersebut, manusia mendapatkan ilham dari fenomena alam sehingga ia dapat memanfaatkan untuk kemaslahatan dan kenyamanan kehidupannya. Ketundukan lautan kepada manusia, bukan menjadi milik mutlak baginya, melainkan sebagai sarana bahwa di dalam lautan manusia dapat mencari dan mengembangkan kehidupannya.

Secara Filosofis

Allah menundukkan alam kepada manusia secara filosofis dikehendaki dua hal. Pertama, agar manusia tidak tunduk kepada alam karena kelemahannya. Kedua, agar manusia tidak menyerahkan ketundukannya kepada selain Allah, Zat yang menundukkan alam tersebut. Sungguh tidak terhormat manusia tunduk kepada sesuatu yang telah ditundukkan. Dalam waktu yang bersamaan, manusia ingkar terhadap Yang menundukkan sesuatu yang ditunduki. Sikap ini di dalam agama disebut dengan musyrik yang dikecam keras oleh Allah.

Ketika manusia menyerahkan ketundukannya kepada selain Dzat yang menundukkan, penundukan tersebut dipalingkan oleh Tuhan bukan untuk manusia, tetapi murni hanya sebagai reaksi atas kekuasaan Tuhan terhadap alam sebagai makhluk-Nya. Dalam kondisi ini, yang terjadi di alam bukan lagi memberi manfaat, melainkan sebagai hal yang dianggap merugikan bagi manusia. Firman Allah dalam surat al-Hâq-qah/69: 4-8.

كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌ بِالْقَارِعَةِ. فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ. وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ. سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ. فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ.

Kaum Tsamud dan ‘Aad telah mendustakan hari kiamat. Adapun kaum Tsamud maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa, Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.

Al-Qur’an membedakan redaksi “penundukan” yang memberi manfaat bagi manusia dan “penundukan” yang hanya sebagai fenomena alam sebagai tanda kekuasaan Tuhan. Terhadap penundukan yang memberikan manfaat bagi manusia, kata taskhîr diidiomatikkan dengan huruf lâm ((ل. Akan tetapi, jika penundukan tersebut hanya sebagai fenomena sebagai penunjukan kekuasaan Tuhan, kata taskhîr diidiomatikkan dengan huruf ‘alâ (عَلَى). Bentuk ini hanya disebut satu kali pada ayat di atas. (Q.S.  al-Hâqqah/69: 7).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.