Relasi Kontekstual Dzikir dengan Ilmu| Catatan Akhir Manata Konsep Dzikir Part – 9

0 33

Ilmu sebagaimana dijelaskan di bagian-bagian sebelumnya, diperoleh melalui hukum alam. Dalam ajaran Islam, para pengikutnya dituntut membebaskan sikap dan sifat ketergantungannya terhadap alam. Karena Muslim harus bebas pertaliannya dengan alam, maka, alam harus dikuasai. Dalam rumusan tauhid Islam, jika manusia dikuasai alam, ia terperosok pada kemusyrikan.Alam dalam literasi Muslim yang saya percayai, harus dikuasai. Untuk menguasa alam, maka, kita dituntut menguasai hukum alam. Mereka yang menguasai hukum alam itulah yang dapat melahirkan ilmu pengetahuan.

Dengan nalar tadi, maka, penguasaan hukum alam, karena ia akan menjadi cikal lahirnya ilmu pengetahuan, menjadi wajib hukumnya dalam ajaran Islam. Inilah yang jika menggunakan istilah Nurcholish Madjid (1997) dan Jaih Mubarak (2000) disebut dengan rumus tasykhir. Artinya, rumusan Lailaha Ilia Allah justru akan menjadi cikal bakal lahirnya ilmu. Jadi lailaha ilia Allah bukan rumus paten tentang karakter mistik, tetapi karakter progresif manusia Muslim yang senang bukan saja ia menjadi bebas, tetapi sekaligus able dalam menguasai ilmu pengetahuan sebagai wujud diri dari makhluk merdeka.

Memaknai Dzikir dalam Kalimat Ilmu

Ungkapan dzikir lainnya adalah alhamdulillah. Apa kaitan alhamdulillah dengan ilmu pengetahuan? Bagi penulis, kalimat ini mengajarkan rumus ikhlas atas setiap perilaku yang ditempuh setiap Muslim. Rumusan ikhlas ini, bukan berarti pasrah tanpa makna, tetapi meminjam istilah Erbe Sentanu (2007: 10-15) adalah ikhlas dalam progresivitasnya yang berdampak pada apa yang disebut dengan the ultimate success technology. Rumusan ini akan diulas dalam tulisan serial lain

Ikhlas dalam perspektif penulis adalah silent operation yang mengaktifkan pikiran seorang Muslim dengan sumber perasaan. Ia dapat menjadi tenaga kuat (powerful) yang berdampak pada lahirnya sejumlah quantum [mengapa nama kawasan perumahan kami quanta] dengan konsep dasar syukur atas segala potensi yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Syukur salah satu lafadz verbalnya adalah alhamdulillah. Makna ini akan dianggap bermakna ketika kalimat dimaksud mampu diimplementasikan dalam praksis hidup. Segala hadiah Tuhan; berupa fakultas inderawi, rasio dan hati, harus dimanfaatkan sepenuhnya bagi hajat mahusia. Jadi tidak termasuk ke dalam kategori berdzikir dengan mengucap kata hamdalah, jika seluruh fakultas inderawinya tidak digunakan secara optimal. Jenis manusia apa lagi, yang dapat memenuhi persyaratan sebaga: manusia, jika aspek-aspek dimaksud mampu diimplementasikan.

Simpulan Akhir

Jika rumusan pendidikan. mengandaikan basis pengetahuan. seperti tergambar di atas, maka ilmu pengetahuan akan menjadi sarana praktis bagi lahirnya kesadaran manusia bahwa yang real (a-haq) adalah bagian terdalam manusia. Selain itu, manusia juga akan dilatih untuk mengaktifkan potensi fakultas intelek demi hajat hidup manusia. Dunia pendidikar. yang salah satunya melakukan transformasi ilmu, akan menjadikan manusia untuk tidak menjadi “budak” sains yang hanya mendasarkan kebenaran pada data-data empirik yang ditarik dari data-data lahiriyah saja, tetapi ia akan mengaitkan kemampuan indera-indera dimaksud ke dalam batiniah peserta didik.

Ujung akhir dari seluruh proses ini adalah, ilmu akan mendorong terbukanya mata hati (‘ain al qalb) yang dapat melihat dunia tidak kasat mata yang tidak terlihat oleh mata lahiriah manusia. Fungsi pendidikan yang demikian, mengutip Anna Pudjiani (2005), selain berfungsi untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotorik peserta didik dalam memahami alam, juga dapat menjadi pembentuk peribadi yang sempurna. Hanya Allah yang tahu segela kebenaran. Semoga ada manfaatnya. By. Prof. cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.