Relasi Manusia Dan Alam Perspektif Teologis

0 100

Manusia sering diidentikkan dengan subjek utama kehidupan. Akibatnya ia bertindak yang melampaui kewenangan dan atau menelantarkan kewajibannya. Untuk hal ini, teologi memberikan terapi melalui pemetaan relasi antara manusia dan alam. Dalam persepektif teologis, relasi manusia dan alam dapat dipetakan menjadi dua yaitu relasi fungsional dan relasi struktural. Relasi struktural menempatkan manusia setara dengan alam di hadapan sang penciptanya yang mengharuskan adanya konsekuensi relasional yang aktif, dan dinamis. Sementara relasi fungsional, memahamkan kepada manusia bahwa kesetaraan struktur bukan menghalangi manusia untuk memfungsikan alam lingkungan sebagai pemenu hajat kehidupan manusia. Hanya saja relasi ini memberikan syarat khusus terhadap kewenangan manusia dalam memanfaatkan alam bahwa hal tersebut harus berada pada koredor fungsi yang saling menguntungkan. Dengan demikian, kebutuhan manusia akan terpenuhi oleh alam lingkungan, dan alam lingkungan akan terjaga keberlangsungannya.

Micro Cosmos

Pandangan al-Qur’an terhadap alam bersifat teosentris. Oleh karena itu, posisi manusia dan alam mempunyai kedudukan yang sama sebagai makhluk Tuhan. Manusia, alam, dan segala yang ada di dalamnya mempunyai kesatuan primordial, yaitu kesatuan kemakhlukan.  Sebagian dari diri manusia juga berasal dari unsur alam, sehingga ia sering disebut sebagai micro cosmos yang mewakili alam besar.

Ada 12 istilah yang digunakan oleh al-Qur’an untuk menyatakan asal-usul substansi kejadian manusia, dari ke 12 tersebut berhubungan dengan alam. Di antara asal usul kejadian manusia yang disebut oleh al-Qur’an adalah;   المَاء   (cairan) (Al-Furqân/25: 54), الأَرضُ   (bumi, tanah) (Hûd/11: 61),  التُراَبُ  (tanah gemuk) (Al-Hajj/22: 5), الطِيْنُ  (tanah lempung) (Al-An‘âm/6: 2),  طِيْنٍ لاَزِبٍ   (tanah lempung yang pekat) (Al-Shâfât/37: 11), صَلْصَالٍ كالفَخَّارِ  (tanah lempung seperti tembikar) (Al-Rahmân/55: 14), صَلْصَالٍ مِنْ حَماَءٍ مَسْنُوْنٍ   (tanah lempung dari lumpur yang dicetak) (Al-Hijr/15: 26), نَفْشٍ واَحِدَةٍ  (diri yang satu),  سُلاَلَةٍ مِنْ طِيْنٍ  (sari pati lempung) (Al-Mukminûn/23: 12), مَنِىٍّ يُمْنَى  (mani yang ditumpahkan) (Al-Qiyâmah/75: 77), نُطْفَة أَمْشَاج  (cairan, mani yang bercampur) (Al-Insân/76: 2), مَاءٍ مَهِيْن   (Al-Sajdah/32: 8). Dari 12 jenis asal kejadian manusia tersebut, semuanya berasal dan berkaitan dengan alam. Secara makro, dapat diasumsikan bahwa esensi maupun eksistensi manusia memiliki hubungan yang romantis dengan alam.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.