Relasi Manusia Dengan Manusia

0 805

Relasi Manusia ( Hubungan dasar antar manusia ) – Dalam persepktif teologis, dapat dipahami bahwa; (1) alam semesta yang di dalamnya juga manusia, memiliki aspek metafisis dan moral yang tergantung pada Tuhan; (2) Tuhan yang Maha Agung, Perkasa, dan Bijaksana pada dasarnya adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang;  (3) Dari kedua aspek tersebut (1 dan 2), mensyaratkan sebuah hubungan yang tepat antara manusia dan Tuhan (hubungan antara yang diper-Tuhan dengan hamba pengabdi-Nya). Konsekuensi dari hubungan Tuhan dengan manusia, menuntut manusia bersikap etis dalam berhubungan dengan sesamanya. Pembahasan tentang sentralitas Tuhan dalam keseluruhan eksistensi, bukan sekadar menunjukkan eksistensi Tuhan, melainkan untuk melihat manusia dengan berbagai tingkah lakunya dalam merespon citra Ilahi dalam kehidupan riil.[1]

Hubungan Dasar Antar Manusia

Hubungan dasar antar manusia secara primordial didasarkan pada kesamaan penciptaan (al-khalq). Kesejajaran dan kesetaraan selalu berpihak pada setiap manusia yang terealisasikan dalam bentuk  kemitraan. Ke-Esaan pencipta (khâliq), kesatupaduan yang diciptakan (makhlûq), mengharuskan terciptanya kesatupaduan kehidupan di bawah sinaran kesucian Ilahi. Apa yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan, tidak dibenarkan keluar dari ketigapaduan tersebut.[2] Dalam kehidupan manusia, ketigapaduan tersebut melembaga dan membentuk struktur sesuai dengan kondisi objektif  kehidupan manusia. Struktur tersebut mulai dari unsur yang terkecil (individu), menengah (keluarga), hingga yang luas (sosial/masyarakat).

Masyarakat adalah kumpulan dari berbagai individu dengan berbagai jenis dan stratifikasinya  yang hidup secara bersama yang terikat oleh satuan, adat, ritus serta aturan-aturan tertentu. Dalam bahasa Inggris, masyarakat disebut society. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin societas yang berarti mengambil bagian, berbagi dan menyatukan. Menurut istilah, masyarakat adalah  suatu kumpulan orang-orang, atau suatu asosiasi sukarela individu-individu yang mempunyai tujuan yang sama.[3] Ada beberapa istilah yang digunakan al-Qur’an untuk menunjuk komunitas manusia, mulai lapisan yang terkecil, yaitu individu/person seperti nafs, keluarga/family seperti ahl dan qurbâ/qarâbah,  marga/clan seperti ‘â‘ilah, dan ‘asyîrah, suku/tribe seperti syu‘ûb, qabâil, rahth, dan asbâth, bangsa/nation/community seperti qaûm,  ahl,   hingga  masyarakat atau kelompok yang lebih luas cakupannya seperti ummah (society).[4]  Dari penyebutan tersebut, secara ontologis manusia dalam realitasnya adalah makhluk yang tidak dapat berdiri pada kediriannya. Berbagai bentuk komunitas yang ada dalam kehidupan manusia merupakan bukti bahwa dalam komunitas tersebut telah terjadi relasi sesamanya.

[1] Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Quran, (Bandung: Pustaka, 1996), h. 4.

[2] Isma‘il Raji Al-Faruqî, Tauhid, Terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Pusaka, 1995), h. 66.

[3]Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2002), h.576.

[4]M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’ân, (Jakarta: Paraamadina, 2002), h. 483.

Komentar
Memuat...