Relasi Manusia Dengan Manusia

2 342

Relasi Manusia ( Hubungan dasar antar manusia ) – Dalam persepktif teologis, dapat dipahami bahwa; (1) alam semesta yang di dalamnya juga manusia, memiliki aspek metafisis dan moral yang tergantung pada Tuhan; (2) Tuhan yang Maha Agung, Perkasa, dan Bijaksana pada dasarnya adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang;  (3) Dari kedua aspek tersebut (1 dan 2), mensyaratkan sebuah hubungan yang tepat antara manusia dan Tuhan (hubungan antara yang diper-Tuhan dengan hamba pengabdi-Nya). Konsekuensi dari hubungan Tuhan dengan manusia, menuntut manusia bersikap etis dalam berhubungan dengan sesamanya. Pembahasan tentang sentralitas Tuhan dalam keseluruhan eksistensi, bukan sekadar menunjukkan eksistensi Tuhan, melainkan untuk melihat manusia dengan berbagai tingkah lakunya dalam merespon citra Ilahi dalam kehidupan riil.[1]

Hubungan Dasar Antar Manusia

Hubungan dasar antar manusia secara primordial didasarkan pada kesamaan penciptaan (al-khalq). Kesejajaran dan kesetaraan selalu berpihak pada setiap manusia yang terealisasikan dalam bentuk  kemitraan. Ke-Esaan pencipta (khâliq), kesatupaduan yang diciptakan (makhlûq), mengharuskan terciptanya kesatupaduan kehidupan di bawah sinaran kesucian Ilahi. Apa yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan, tidak dibenarkan keluar dari ketigapaduan tersebut.[2] Dalam kehidupan manusia, ketigapaduan tersebut melembaga dan membentuk struktur sesuai dengan kondisi objektif  kehidupan manusia. Struktur tersebut mulai dari unsur yang terkecil (individu), menengah (keluarga), hingga yang luas (sosial/masyarakat).

Masyarakat adalah kumpulan dari berbagai individu dengan berbagai jenis dan stratifikasinya  yang hidup secara bersama yang terikat oleh satuan, adat, ritus serta aturan-aturan tertentu. Dalam bahasa Inggris, masyarakat disebut society. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin societas yang berarti mengambil bagian, berbagi dan menyatukan. Menurut istilah, masyarakat adalah  suatu kumpulan orang-orang, atau suatu asosiasi sukarela individu-individu yang mempunyai tujuan yang sama.[3] Ada beberapa istilah yang digunakan al-Qur’an untuk menunjuk komunitas manusia, mulai lapisan yang terkecil, yaitu individu/person seperti nafs, keluarga/family seperti ahl dan qurbâ/qarâbah,  marga/clan seperti ‘â‘ilah, dan ‘asyîrah, suku/tribe seperti syu‘ûb, qabâil, rahth, dan asbâth, bangsa/nation/community seperti qaûm,  ahl,   hingga  masyarakat atau kelompok yang lebih luas cakupannya seperti ummah (society).[4]  Dari penyebutan tersebut, secara ontologis manusia dalam realitasnya adalah makhluk yang tidak dapat berdiri pada kediriannya. Berbagai bentuk komunitas yang ada dalam kehidupan manusia merupakan bukti bahwa dalam komunitas tersebut telah terjadi relasi sesamanya.

[1] Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Quran, (Bandung: Pustaka, 1996), h. 4.

[2] Isma‘il Raji Al-Faruqî, Tauhid, Terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Pusaka, 1995), h. 66.

[3]Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2002), h.576.

[4]M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’ân, (Jakarta: Paraamadina, 2002), h. 483.

  1. Aslamah Miftahul Jannah (T.IPS A/1) berkata

    Relasi yaitu hubungan, dan manusia yaitu makhluk yang diciptakan pencipta dengan disertai akal. Jadi relasi manusia yaitu hubungan dasar manusia.
    Dalam kehidupan manusia, ada yang melembaga dan membentuk struktur sesuai dengan kondisi objektif kehidupan manusia. Struktur tersebut mulai dari unsur yang terkecil (individual), menengah (keluarga), hingga yang luas (sosial/masyarakat).
    Secara ontologis manusia dalan realitasnya adalah manusia yang tidak dapat berdiri pada kediriannya. Berbagai bentuk komunitas yang ada dalam kehidupan manusia merupakan bentuk bahwa dalam komunitas tersebut telah terjadi relasi sesamanya.

  2. Diaz Ayu Sudwiarrum berkata

    Diaz Ayu Sudwiarrum
    1415104029
    Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial A/3
    IAIN Syekh Nurjati Cirebon

    Tabiat manusia adalah makhluk sosial, karena tak ada seorang pun yang mampu hidup sendiri, tanpa bergaul dengan saudaranya. Dengan bermuamalah antar manusialah akan sempurna pemanfaatan dan kegunaan. Disana banyak sekali kebutuhan seorang individu yang tak akan mampu dipenuhinya sendiri. Lebih jauh lagi Islam menentukan bahwa hamba selamanya bergantung kepada pertolongan Allah SWT, dia mengakui hal ini atau pun tidak mengakuinya. Dan Islam mengaitkan pertolongan ini dengan saling tolong menolong hamba antar mereka. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Dan Allah selalu menolong seseorang selama orang tersebut selalu menolong saudaranya”. (HR. Muslim).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.