Relasi Ontologi dan Metafisika | Kajian Ulang Metafisika Part – 1

Relasi Ontologi dan Metafisika Kajian Ulang Metafisika Part - 1
0 437

Relasi Ontologi dan Metafisika. Kajian filsafat paling Kuna yang diperkenalkan filosof Yunani, adalah ontologi. Inilah wilayah kajian paling awal bagi tumbuhnya seluruh dinamika keilmuan, tentu, apalagi soal filsafat yang selalu bersipat spekulatif. Ilmu ini, selalu menetapkan dirinya dalam suatu keyakinan, bahwa kajian apapun, tidak mungkin sampai pada titik kesempurnaan, jika tidak diawali dengan kajian ontologis.

Secara bahasa, ontologi berasal dari bahasa Yunani, onto [being] dan logia atau logos (teori atau ilmu). Secara bahasa, ontologi berarti teori atau ilmu tentang keberadaan suatu realitas. Definisi semacam ini, memang tampak sederhana. Tetapi, jika direnungkan lebih dalam, maka, ontologi, akan juga menjadi alat yang paling mendasar untuk melakukan transformasi, sekaligus mungkin transvaluasi atas suatu realitas.

Objek kajian ontologi, karena ia mengkaji keberadaan sesuatu di balik realitas yang kongkret, menjadi pandora utama kelahiran ilmu. Karena itu, tidak berlebihan jika ada yang menyebut kalau ontologi adalahAi??salah satu kajian filsafat yang paling Kuna.Ai?? Secara umum, ontologi sering diterjemahkan sebagai studi tentang realitas benda alam semesta

Secara ilmiah, ontologi disebut juga sebagai studi tentang prinsip pertama atau esensi dari berbagai realitas yang ada. Dalam kasus tertentu, kajian atas apa yang disebut dengan ontologi, sering diterjemahkan sebagai pintu bagi terbukanya keilmuan lain secara lebih menyeluruh. Ia menjadi cabang metafisika yang berurusan dengan sifat keberadaan. Dalam terminologi lain, ontologi sering juga diterjemahkan sebagai seperangkat konsep, ide atau gagasan di bidang tertentu yang menunjukkan sifat suatu benda dan relasinya dengan yang lain.

Tokoh Awal Ontologi

Filosof Yunani seperti Thales, Plato dan Aristoteles sering disebut penggagas utama teori ini. Mereka sering disebut sebagai pendiri kajian keilmuan dalam soal Ontologi. Kajiannya memang, jika dilihat perspektif hari ini, terkesan sangat sederhana.Ai??Sebut misalnya Thales dengan gagasannya tentang air sebagai asas kehidupan. Bagi kita tentu bukan soal kesimpulan air sebagai asas kehidupan. Tetapi cara yang ditempuh Thales, telah menunjukkan wataknya bahwa ia menjadi ilmiah dalam melakukan proses penyimpulan.

Proses penyimpulan yang dilakukan Thales terhadap air sebagai asas kehidupan ini, dilakukan Thales setelah dia melalui proses yang hari ini disebut metode ilmiah, yakni metode induksi. Ia menggali tanah, didalamnya ada air. Ia memotong pohon, ternyata juga ada air. Ia memootong binatang, ternyata dipenuhi air [darah] dan tentu juga makhluk hidup lainnnya, sama-sama dipenuhi air.

Ketika air itu kering dari seluruh makhluk hidup, maka, benda itu kemudian menjadi mati. Kesimpulan Thales tentang air sebagai asas kehidupan, mengindikasikan bahwa di era itu, sudah mulai ada manusia-manusia yang serius yang mengkaji soal realitas.

Thales yang demikian, akhirnya sering disebut sebagai bapak dari metode berpikir induktif dalam menyimpulkan sesuatu. Ia menyebut pada suatu kesimpulan, bahwa semua benda, memiliki asas hidup yang sama, yakni air.

Meski apa yang disimpulkan Thales, ternyata berbeda dengan apa yang diuji Plato. Ia menyebut bahwa sesungguhnya realitas, bukan hanya terletak dalam soal yang empiris, tetapi, juga ada yang meta empiris. Yang empiris belum tentu benar-benar ada atau eksis. Terkadang, realitas sesungguhnya justru ada di balik yang fisik. Karena itu, Plato sering dikenal sebagai filosof dualistik. Mengapa? Sebab melalui gagasannya, ia menyimpulkan bahwa realitas itu selalu dua dan sejajar.

Jika anda yakin ada terang dan gelap, malam dan siang, di bawah dan di atas, laki-laki dan perempuan, maka, sesungguhnya realitas pasti ada yang fisik dan juga ada yang un fisik. Di balik yang fisik atau sesudah yang fisik, selalu dan pasti yang menjadi penggerak utama. Penggerak utama itu, disebutnya dengan Ide.

Meski harus dicatatkan bahwa gagasan pendiri Universitas Republik ini, ditolak mentah oleh muridnya yang menjadi pendiri Universitas Lyceum, Aristoteles. Aristoteles menyimpulkan bahwa sesungguhnya realitas, ya bersipat fisik. Tidak ada realitas lain.

Ontologi dan Metafisika

Atas kajian seperti itu, maka, banyak orang kesulitan untuk membedakan antara ontologi dengan metafisika. Mengapa? Sebab baik metafisika maupun ontologi, sama-sama mengkaji sesuatu di balik realitas fisik. Bagi saya, Ontologi tentu saja bukan metafisika! Sama dengan metafisika, bukan juga ontologi. Tetapi, keduanya memiliki relevansi kajian yang sama, yakni, sama-sama mengkaji suatu realitas.

Secara bahasa metafisika, berasal dari bahasa Inggris, metaphysics. Kalimat ini, tampaknya merupakan serapan dari bahasa Latin, yakni meta dan fisika. Karena itu, dalam bahasa asing, kata metafisika dapat ditulis dengan kata metaphysica atau meta ta physica [serapan asli Yunani] yang kemudian dihilangkan kata ta, menjadi metafisika.

Secara bahasa, kata meta [Itali] berarti di belakang. Karena itu, metafisika memiliki terjemahan sederhana, yakni di balik atau sesudah yang fisik. Di masa lalu, fisika atau physikos (Yunani) umumnya selalu menyangkut dunia physis yakni alam. Karena itu, metafisika dapat dimaknai sebagai hakikat alam. Apakah misalnya, alam ini benar-benar ada atau tidak? Atau apakah yang di balik realitas alam ini, benar-benar ada atau tidak? Pertanyaan semacam inilah, yang menyebabkan lahirnya perbedaan atas hakikat sesuatu. Bersambung — Prof. Cecep Sumarna

 

Komentar
Memuat...