Relasi Tuhan dan Manusia | Analisis Interpretatif Teologis

0 1.425

Relasi Tuhan dan Manusia | Analisis Interpretatif Teologis: Relasi antara manusia dan Tuhan yang membentuk kutub yang bertolak belakang, tidak bersifat unilateral, melainkan bersifat ganda dan bilateral dalam pengertian relasi yang timbal balik. Untuk menjelaskan relasi tersebut, Izutsu memetakan menjadi empat kategori yaitu sebagai berikut:

Relasi Ontologis

Tuhan sebagai sumber eksistensi manusia yang utama sekaligus sebagai sumber inspirsi nilai yang tinggi, sedangkan manusia sebagai representasi dunia wujud yang eksistensinya berasal dari Tuhan. Dalam istilah teologi, relasi ini adalah relasi pencipta-dicipta (khâliq-makhlûk) antara manusia dan Tuhan.

Alam semesta adalah wujud dan eksistensi Tuhan dalam kehidupan. Alam tersebut meliputi langit, bumi, dan manusia. Alam semesta sebagai eksistensi Tuhan bersifat tak terbatas. Yang terbatas adalah ciptaan-ciptaan yang ada di dalamnya. Sebagai ciptaan Tuhan, isi alam semesta terikat dengan hukum penciptaan yang fundamental, yaitu proses yang menyaratkan adanya pencipta, waktu, tujuan, ukuran, serta mekanisme hukum yang bekerja secara otomatis yang mengatur kehidupannya.

Dalam perspektif al-Qur’an, alam semesta (al-âlamîn) sering dijadikan sandaran (idlâfah) kata Tuhan (rabb). Hubungan relasional dari bentuk tersebut adakalanya bersifat objektif dan ada kalanya bersifat subjektif. Bersifat objektif dalam pengertian bahwa secara konseptual, Tuhan adalah pemilik, pemelihara seluruh alam tanpa harus adanya pengakuan dari makhluk. Keingkaran makhluk terhadap pencipta tidak berpengaruh pada keberadaan dan eksistensi Tuhan sebagai pemilik dan penciptanya. Bersifat subjektif dalam pengertian eksistensi Tuhan sebagai pemilik dan pendidik alam, ditanggapi oleh makhluk secara subjektif, relatif, dan beragam.

Relasi Komunikatif

Tuhan dan manusia berada dalam satu korelasi yang dekat sekali antara satu sama lain. Dalam hal ini, Tuhan sering mengambil inisiatif aktif untuk berkomunikasi dengan manusia  seperti pernyataan Tuhan dalam ayat al-Baqarah: 186). Komunikasi bentuk ini dapat berjalan, jika manusia mempunyai kesadaran terhadap relasi tersebut. Kata ‘ibâd/عباد (hamba-hamba) di dalam ayat tersebut, bentuk jamak dari kata ‘abd/عبد. Kata ini digunakan oleh al-Qur’an untuk menunjuk hamba-hamba Allah yang taat kepada-Nya atau kalaupun mereka berdosa, mereka sadar akan dosanya.

Surat al-Baqaarah/2: 186 di atas, diawali dengan ungkapan “bertanya” yang lazimnya dikuti dengan ungkapan “jawablah”. Kondisi ini ditiadakan dalam ayat tersebut, untuk mengisyaratkan bahwa betapa dekatnya komunikasi tersebut berlangsung. Setiap orang walaupun berdosa dapat berkomunikasi secara langsung dengan Tuhan, tanpa harus dengan perantara. Anak kalimat “seorang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa akan ada orang yang bermohon atau berkomunikasi dengan Tuhan, tetapi tidak dihiraukan. Karena komunikan tidak menyadari sepenuhnya komunikasinya.

Komunikasi tersebut dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi tersebut bisa berlangsung dari dua arah, dari Tuhan kepada manusia, dan dari manusia kepada Tuhan. Bentuk komunikasi verbal yang berasal dari Tuhan kepada manusia, berbentuk wahyu dalam pengertian yang sempit dan teknis. Sementara komunikasi verbal dari manusia kepada Tuhan dalam bentuk doa (shalât) (Al-Ankabût/29:45). Adapun bentuk komunikasi nonverbal yang berasal dari Tuhan kepada manusia adalah tindakan Ilâhiyyah menurunkan (tanzîl) ayat-ayat-Nya (âyât), sementara respon manusia terhadap tindakan Tuhan dalam bentuk ibadah dan praktik-praktik penyembahan (Q.S. Âlu ‘Imrân/3: 191).

Komentar
Memuat...