Rendahnya Peran Pendidikan Tinggi dalam Melahirkan Produk Ilmiah

0 13

RENDAHNYA Peran Pendidikan Tinggi. Peranan perguruan tinggi (PT) salah satunya adalah sebagai penghasil ilmuan, baik ilmuan di bidang politik, ekonomi, teknologi, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Dalam hal ini peran PT sebagaimana Tilaar (1999: 93) mengungkapkan bahwa  PT adalah menjadi mata air perubahan sosial. Maksudnya, salah satu peran PT harus mampu meningkatkan mutu pendidikan mahasiswa sehingga mereka mampu menjadi pendidik yang memiliki kompetensi yang unggul sebagai unjung tombak inovasi peningkatan mutu pendidikan nasional yang sedang mengalami krisis mutu (kualitas) di berbagai jenjang pendidikan. Fenomena yang terjadi mutu pendidikan di Indonesia sebagaimana Departemen Pendidikan Nasional (2006: 61) mengungkapkan bahwa:

Rangking Pendidikan Tinggi Indonesia

Indonesia sesudah 61 tahun merdeka ironisnya mutu pendidikan belum juga menggembirakan. Mutu pendidikan di Indonesia sudah ketinggalan kurang lebih 30 tahun dibandingkan negara lain. Merostnya mutu pendidikan Indonesia sangat berpengaruh tehadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai modal pembangunan bangsa di masa datang. Indek Pengembangan Manusia Indonesia (HDI) masih berada di peringkat ke-112 di antara 175 negara. Posisi HDI Indonesia bahkan berada di bawah Vietnam.

Ilustrasi ini menunjukkan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, selain itu menurut seorang pakar pendidikan Indonesia Surakhmad (2007) mngemukakan bahwa menurunya mutu pendidikan di Indonesia tidak saja terjadi pada pendidikan dasar (SD) melainkan juga terjadi pada Perguruan Tinggi, baik itu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Hasil survai Rahim (2010: 184-185) tahun 1977 menjelaskan bahwa perguruan tinggi di Indonesia baik negeri maupun swasta, tidak ada yang masuk ranking perguruan tinggi berkualitas di wilayah Asia. Dari 50 perguruan tinggi yang disurvai hanya empat perguruan tinggi yang berkualitas berasal dari Indonesia, itupun tidak termasuk dalam kelompok 15 besar; ITB berada dalam peringkat ke-19, UI peringkat ke-32, UGM peringkat ke-37, Universitas Erlangga ke-38, dan Undip peringkat ke-42, termasuk IAIN masih jauh dari berkualitas, dan karenanya masih belum siap menjadi otonom.

Pendidikan Tinggi Agama dalam Lokus Masalah

Furqan memaparkan bahwa Perguruan Tinggi Islam (PTAI) menunjukkan belum bekualitas, pertama, banyak lulusan PTAI yang belum memenuhi harapan masyarakat. Mereka merasa tidak mampu, “gagap” ketika berhadapan dengan realitas di luar kampus, karena memang kompetensi tidak memadai; kedua kurikulum yang tidak menarik dan tidak menentu arahnya. Hal ini bisa terjadi kurikulum yang ada secara mentah-mentah dari IAIN atau PTAI yang lainnya. Ketika KBM tidak mendukung tercapainya kompetensi yang diharapkan; ketiga kompetensi dosen yang masih rendah; keempat lingkungan belajar yang kurang kondusif yang ditandai kurang tumbuh “suasana akademis”; kelima fasilitas belajar kurang memadai yaitu adanya labolatorium, buku-buku, perpustakaan, komputer, internet; dan keenam penerimaan mahasiswa (input) baru mahasiswa tidak slektif (Swara Dipertais: No. 6 Th. II, 6 April 2008).

Pada bagian selanjutnya Furqan (2008) menelusuri kelemahan PTAI dalam bidang kurikulum kenyataan menunjukkan bahwa kurikulum PTAI meniru perguruan tinggi yang sejenis tanpa mengerti landasan yang ada dibalik kurikulum tersebut. Demikan juga halnya dengan IAIN, STAIN, dan PTAIS. Kurikulum nasional dibuat oleh Departemen Agama di Jakarta dan hanya berupa daptar mata kuliah, dan ini dianggap sakral (untouchables). Padahal sebagai lembaga pendidikan tinggi seharusnya mereka otonom terhadap keilmuan.

Otonomi keilmuan PTAI berdasarkan hasil Konfrensi Islam Internasional di Islamabad mengungkapkan bahwa: Planning of education to be based on the classification into categories: (a)Perenial knowledge” derived from the Qur’an and the Sunnah meaning all shari’ah-oriented knowledge relevant and related to them, and (b) “acquired knowledge” susceptible to quantitative growth and multiplication, limited variations and cross cultural borrowing as long as consistency with shari’ah as the source of values is maintained, (Daulay, 2007: 129).

Dualisme Pendidikan yang Tak Kunjung Tuntas

Selanjutnya Daulay mengungkapkan bahwa IAIN sejak berdirinya telah berupaya untuk merancang kedua jenis ilmu tersebut (perenial knowledge dan acquired knowledge) dalam kurikulumnya secara seimbang. Tuntutan keseimbangan aplikatif kedua jenis ilmu ini di berbagai institusi baik pada pendidikan umum maupun pendidikan keagamaan antara perenial knowledge (ilmu-ilmu agama yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah), dengan acquired knowledge (ilmu-ilmu yang bersumber dari eksakta/ kuantitatif) IAIN/PTAI belum nampak berhasil mampu mengintegrasikan kedua ilmu tersebut dilihat dari aspek moral ataupun kemajuan teknologi. Dari aspek moral misalnya Azra dalam pengantar Arief (2007: viii) menyatakan bahwa:

Pendidikan Islam di Indonesia belum mampu memberikan tanggapan atau jawaban ketika dituntut peranannya untuk mengatasi berbagai persolan moral dan mentalitas bangsa, khususnya umat Islam di Indonesia. Jujur harus dikatakan, bahwa pendidikan Islam hingga saat ini kelihatan sering terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan perkembangan masyarakat sekarang dan masa mendatang.

Sedangkan dari segi aspek teknologi PTAI umumnya belum berhasil mengintegrasikan ilmu-ilmu eksakta atau ilmu-ilmu umum (acquired knowledge) dengan ajaran Islam (Qur’an-Sunnah). Dengan demikian Azra (2006: 17) mengatakan bahwa ilmu-ilmu umum hanya suplemen untuk memahami dan menjelaskan kerangka normatif agama. Ungkapan ini menunjukkan belum berhasil para perencana kurikulum di PTAI memadukan kedua disiplin ilmu itu atau hanya “utopia” saja. ** Dr. H. Anda Juanda, M.Pd

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.