Take a fresh look at your lifestyle.

Resiko Mempunyai Suami Workaholic dan Mantan Aktivis

0 61

Menikah ataupun tidak menikah keduanya memiliki resiko. Setiap pilihan hidup berbanding lurus dengan resiko. Tanpa pilihan sekalipun, seseorang tetap akan mendapatkan resiko dalam hidup itu. Begitu pula dalam memilih pasangan hidup, seseorang tidak boleh hanya cukup menilai dari satu sisi saja terhadap pasangannya kelak. Pemahaman karakter, latar belakang keyakinan, riwayat keturunan keluarga, latar belakang pendidikan, kecukupan ekonomi dan potensi diri merupakan beberapa kriteria yang dapat menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan. Saling mengetahui kepribadian adalah pertimbangan utama dalam memulai rumah tangga.

Dalam konteks keluarga, pasangan suami istri harus memiliki komitmen bersama dalam merencanakan masa depan yang lebih baik. Masa depan yang dirancang itu berkaitan dengan pengembangan karir suami istri, peningkatan kemapanan ekonomi keluarga, keberlangsungan keturunan ke depan dan kepastian kesejahteraan dalam bingkai harmonisasi hakiki. Sehingga, komitmen bersama antara suami istri dalam konteks kesepahaman mesti dilakukan dengan baik.

Tulisan ini mengisahkan tentang seorang suami yang rajin bekerja dan mantan aktivis pula. Penulis menyandingkan dua karakter ini karena sebagian besar kasus memiliki kesamaan karakter antara keduanya. Seseorang yang pekerja keras terbiasa dengan melekan, lembur dan tidak mengenal waktu ketika pekerjaan belum selesai. Begitu pula karakter suami matan aktivis cenderung memiliki banyak agenda keluar; sibuk mengikuti kegiatan organisasi, berkumpul dengan kawan-kawan seorganisasi dan sibuk dengan kegiatan yang sering tidak berbanding lurus dengan insentif finansial yang jelas. Karakter-karakter suami ini perlu disikapi oleh sang istri dengan bijak dan tidak mudah diklaim sebagai suami tidak setia begitu saja. Perlu duduk bersama dan memetakan kegiatan pasca pernikahan dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang berkesuaian antara suami dan istri.

Strategi Pemertahanan Keluarga Harmonis

Suami yang padat dengan segala kesibukan di luar rumah memang menimbulkan kegusaran sang istri. Terlebih jika sang istri sebagai ibu rumah tangga, belum mempunyai momongan. Dalam kondisi ini, sang istri akan mengalami kebosanan dan kesepian jika sang suami terlalu banyak meninggalkan rumah.

Seorang istri harus berani mendiskusikan secara detil tentang kebutuhan non materi dari suami. Secara umum, dalam pandangan psikologi, pria cenderung menyukai hal-hal global dan praktis sementara wanita bersifat detail dan perasa. Sehingga, perbedaan karakter ini harus dikomunikasikan dengan baik agar tidak ada kesalahan yang mengakibatkan percekcokan terus menerus dalam rumah tangga. Sang pekerja keras memang baik bagi seorang suami karena kepastian kesejahteraan dapat terukur dengan mudah. Begitu pula sang aktivis memang bagus dari segi networking dalam upaya penguatan diri untuk bersosialisai. Namun, kedua karakter ini sebagian besar istri kurang menyukai. Sang istri merasa seakan dinomorduakan dari urusan-urusan lain. Sementara istri sangat butuh untuk dimanja.

Pola Komunikasi

Pola komunikasi yang hangat dan intim harus dibangun untuk mengurangi frekwensi suami dalam melakukan kegiatan di luar rumah. Seorang istri juga harus mampu mengukur antara kebutuhan rumah tangga dan daya jangkau suami untuk mampu menutupi kebutuhan itu. Semakin bertambah kebutuhan hidup akan berbanding lurus dengan pola kerja suami dan peningkatan frekwensi kerja suami di luar rumah.

Salah satu solusi yang dapat dilakukan oleh suami istri adalah dengan menciptakan usaha bersama yang bisa diatur sendiri oleh suami istri. Sehingga, waktu berkeluarga lebih leluasa ditentukan bersama, tidak dipengaruhi oleh kebijakan luar. Akan tetapi, kasus berikutnya akan mengemuka jika sang suami tidak memiliki usaha sendiri. Artinya, suami sebagai karyawan atau pekerja di tempat orang lain dengan tuntutan kepatuhan terhadap regulasi lembaga atau perusahaan. Dilema yang muncul adalah keinginan istri yang ada bersama suami lebih lama sementara suami tertuntut untuk mematuhi regulasi perusahaan.

Solusi sederhana yang dapat diambil oleh suami istri adalah menyiasati tempat tinggal yang dekat dekat tempat pekerjaan suami agar perjalanan ke tempat kerja tidak banyak menyita waktu, istri menciptakan kegiatan tambahan untuk mengisi waktu luang dengan kreativitas yang menghasilkan finansial disamping mengurus momongan pula di rumah dan dapat pula dilakukan melalui kesepakatan target bahwa suami menjadi karyawan sampai pada posisi apa dan di puncak usia berapa. Setidaknya hal ini dapat menjadi alternatif solusi dalam pemecahan masalah suami workhaholic.

Suami Mantan Aktivis

Bila sang istri tidak memiliki latar belakang organisai, tentu kenyataan ini sering menjengkelkan. Ngobrol larut malam bersama teman, berkunjung dalam acara-acara organisasi dan sering muncul perasaan yang tidak-tidak pada si istri jika beberapa teman wanita yang seorganisasi menghubunginya, meskipun dalam konteks organisasi. Setidaknya solusi yang dapat diambil oleh suami istri adalah memahami ritme kegiatan organisasi, mengukur prioritas kegiatan yang dapat memberikan penguatan pada pengembangan karir dan peningkatan finansial keluarga. Sehingga, kegiatan-kegiatan berbasis sosial tetap dapat bernilai keuntungan sosial dan finansial sekaligus. Ini salah satu solusi yang dapat diambil oleh pasangan suami istri. Sehingga, dengan demikian, sang istri dapat diajak untuk masuk ke dalam kegiatan organisasi dalam konteks membuka jaringan sosial dan usaha. Semuanya tidak ada yang sia-sia untuk melaksanakan program-program rumah tangga menuju keharmonisan hakiki.

Menghargai suami sebagaimana potensi yang dimilikinya akan lebih kuat sebagai pemantik keharmonisan abadi. Sementara menghargai suami berdasarkan apa yang ia miliki hari ini di luar potensinya akan menuai kekecewaan di kemudian hari. Hanya suami yang berpotensi yang dapat menjamin kepastian masa depan keluarga. Maka segenap potensi yang ada dalam diri suami itu butuh dikuatkan, diarahkan, dibimbing dan dimanjakan oleh sang istri yang dapat memahami karakter suaminya.***Nanan Abdul Manan


foto-nanan-abdul-mannanTentang Penulis

Nanan Abdul Manan, lahir di Kuningan tanggal 11 Februari 1982. Penulis adalah Dosen STKIP Muhammadiyah Kuningan. Untuk mengetahui lebih lengkap Lihat Biografi Lengkapnya 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar