Inspirasi Tanpa Batas

Revolusi Mental dan Cara Pembentukan Karakter

Revolusi Mental dan Cara Pembentukan Karakter
0 632

Revolusi mental, sesungguhnya berkaitan dengan kesadaran keberagamaan. Untuk dan karena itu, dalam kajian keagamaan dikenal dua istilah yang terkait dengan soal keberagamaan. Kedua itulah dimaksud adalah kesadaran beragama (religious consciousness) dan pengalaman beragama (religious exprecience). Dua istilah ini selalu mengiringi isu-isu temporer tentang pentingnya merawat nilai keberagamaan di kalangan masyarakat.

Kesadaran beragama terasa dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi atau dapat dikatakan sebagai aspek mental dari aktivitas beragama. Sedangkan pengalaman agama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama. Implementasi sederhananya, adalah perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (Drajat, 1989).

Dengan nalar tadi, dapat disimpulkan bahwa religiusitas adalah internalisasi dan penghayatan seorang individu terhadap nilai-nilai agama. Nilai dimaksud berbentuk ketaatan dan pemahaman untuk kemudian dapat diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari. Tingkat religiusitas seseorang dapat dilihat dari perkataan, sikap dan tingkah laku. Selain itu, religiusitas bermakna adanya kesesuaian hidup yang dijalani dengan ajaran agama yang dianutnya.

Sikap dan Nilai Keberagamaan

Menurut Ngalim Purwanto (1990: 141), SikapAi?? atauAi??attitudeAi??[Inggris] adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang. Suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsangAi?? atau situasi yang terjadi. Sedangkan menurut JP. Chaplin (1995: 43), sikap adalah suatu predisposisi [kecendrungan] yang stabil dan berlangsung terus menerus. Sikap keberagamaanAi??adalah bertingkah laku atau untukAi?? bereaksiAi?? dengan caraAi?? tertentu terhadap pribadi lain, objek atau lembaga atau persoalan tertentu.

Gordon W. Allport (1950: 17-24), telah merumuskan berbagai pengertian tentang sikap, salah satunya adalah hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus-menerus dengan lingkungan (attitudes are learned). Menurut Allport sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lain baik di rumah, sekolah, tempat ibadah ataupun tempat lainnya melalui nasihat, teladan atau percakapan (attitudes are social learning).

Tetapi yang lebih penting dari rumusan yang dikemukakan Allport, sikap adalah wujud dari kesiapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap objek. Bagian bagian yang dominan dari sikap menurut Allport adalah perasaan dan afektif seperti yang tampak dalam menentukan pilihan apakah positif, negatif, atau ragu.

Menurut Gerald Oai??i??Collins, SJ dan Edward Ferrugia SJ (1996: 17) bahwa sikap keberagamaan meliputi system kepercayaan kepada Tuhan dan tanggapan manusia kepada Nya, termasuk kitab-kitab yang suci, pelaksanaan ritual suci dan praktek etis para penganutnya. Dalam Lexicon Universal Enyclopedia(1986: 138) dijelaskan bahwa keberagamaan memiliki beberapa karakteristik yang menjadi dasar kehidupan dan prilaku keagamaan para pemeluknya.

Karakteristik Nilai

Karakteristik itu diantaranya adalah :

  • The Holly.Ai?? Suatu bentuk spiritualitas agama atau pengalaman keagamaan yang diekspresikan dalam bentuk yang suci;
  • Response. Respons the holy may take the form participation to the costums or relegius community, respons terhadap sesuatu yang dianggap suci dengan ikut berpartisipasi pada komunitas yang religius;
  • Beliefs.Ai??Tradisi spiritualitas agama yang membangun sebuah sistem kepercayaan baik yang berkaitan dengan kepercayaan atau doktrin;
  • Ritual. Aspek keberagamaan didalamnya terdapat praktek-praktek ritual, baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok;
  • Ethical code.Ai??Spiritualitas yang berisi tentang etika-etika beragama dalam kehidupan sehari-hari;
  • Sosial aspect.Ai??Spiritualitas yang memiliki aspek-aspek sosial.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat dipahami bahwa sikap merupakan suatu pendirian dari seseorang untuk menerima dan menolak tentang sesuatu hal atau juga sesuatu yang dilakukan seseorang, untukAi?? melakukan atau tidak melakukan sesuatu merupakan hasil proses berfikir.

Struktur sikap yang terdiri dari komponen-komponen yang salingmenunjang antarasatu dengan yang lainnya yaitu, komponen-komponen sikapadatiga: Pertama komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai individu pemilikAi?? sikap;Kedua komponen afeksi merupakan perasaanyang menyangkut aspek emosional; danKetiga komponen konatif merupakan aspekkecendrunganAi?? berprilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang (Saefudin Azwar, 2000: 24)

Sikap atas Nilai

Sikap timbul karena ada stimulus. Terbentukannya suatu sikapituAi?? banyak dipengaruhi oleh rangsangan lingkungan sosial dan kebudayaan misalnya keluarga, norma, golongan agama dan adat istiadat. Dalam hal iniAi?? keluaraga mempunyai peranan yang besar dalam pembentuk sika putra-putranya. Sebab keluargalah sebagai kelompok primer bagianak merupakan pengaruh yang paling dominan. Sikap seseorang bersifat fluktuatif, ia dapat berkembang manakala mendapat pengaruh, baik dari dalam maupun dari luar yang bersifat positif dan mengesankan.

Sikap merupakan predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu yang mencakup komponen kognisi, afeksi, dan konasi. Jadi, sikap merupakan interaksi dari tiga komponen psikologis tersebut secara kompleks. Komponen kognisi akan menjawab tentang apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang obyek.

Komponen afeksi dikaitkan dengan apa yang dirasakan terhadap obyek. Sedangkan komponen konasi berhubungan dengan kesediaan atau kesiapan untuk bertindak terhadap obyek. Tegasnya, sikap adalah hasil dari proses berfikir, merasa, dan pemilihan motif-motif tertentu sebagai reaksi terhadap suatu obyek, baik yang konkret maupun abstrak.

Psikologi memandang bahwa sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif sehingga menimbulkan motif. Motif menentukan tingkah laku nyata, sedangkan reaksi afektif bersifat tertutup. Jadi, motif menjadi faktor penjalin sekaligus menentukan hubungan antara sikap dan tingkah laku. Motiflah yang menjadi tenaga pendorong kearah sikap positif atau negatif yang hal itu kemudian tampak dalam tingkah laku nyata.

Motif dan Pembentukkan Sikap

Motif yang didasari pertimbangan-pertimbangan tertentu biasanya menjadi lebih stabil jika diperkuat dengan komponen afeksi. Dalam hubungan ini tergambar bagaimana jalinan pembentukan sikap keagamaan sehingga dapat menghasilkan bentuk pola tingkah laku keagamaan dengan jiwa keagamaan.

Predisposisi tersebut menurut Marai??i??at (1982: 20-22), adalah sesuatu yang telah dimiliki seseorang semenjak kecil sebagai hasil pembentukan dirinya sendiri. Pada konteks ini, peran orang tua menjadi sangat dominan dalam membentuk kesadaran dan pengalaman agama pada diri seorang anak sejak dini.

Kajian psikologi transpersonal meneguhkan kenyataan bahwa manusia memang memiliki potensi dan daya psikis yang dikenal sebagai jiwa keagamaan. Setiap manusia terlahir dengan memiliki potensi-potensi luhur (the highest potentials) dan fenomena kesadaran (states of consciousness) yang penting dalam kehidupannya. Konsep tersebut kiranya dapat ditautkan dengan ai???fitrahai??? dalam khazanah pengetahuan Islam.

Ajaran agama memuat norma-norma yang dijadikan pedoman oleh pemeluknya dalam bersikap dan bertingkah laku. Norma-norma tersebut mengacu kepada pencapaian nilai-nilai luhur guna pembentukan sikap dan keserasian hubungan sosial dalam upaya memenuhi ketaatan kepada Tuhan. Tetapi dalam kehidupan nyata banyak dijumpai penyimpangan atau perubahan dari konstatasi di atas, baik secara individual maupun kolektif.

Perubahan sikap keagamaan memiliki tingkat kualitas dan intensitas yang beragam dan bergerak antara titik positif hingga negatif. Jadi, sikap keagamaan yang menyimpang dalam kaitan dengan perubahan sikap tidak selalu berkonotasi negatif sehingga gerakan pembaharuan keagamaan yang berusaha merombak tradisi keagamaan yang keliru juga masih dapat dimasukkan dalam kategori ini.

Terjadinya sikap keberagamaan yang menyimpang berkaitan erat dengan perubahan sikap. Sebagaimana telah dijelaskan dimuka, sikap berfungsi menggugah motif untuk bertingkah laku baik dalam bentuk nyata (overt behavior) maupun tertutup(covert behavior). Sikap tersebut merupakan hasil belajar atau pengaruh lingkungan terhadap kompleksitas proses komponen psikologi seseorang, sehingga sikap memungkinkan untuk berubah atau diubah sekalipun tidak mudah.

Teori Psikologi tentang Nilai

Beberapa teori psikologi dapat menyajikan argumentasi kuat untuk mendukung pernyataan di atas, diantaranya: teori stimulus-respon, teori pertimbangan sosial, dan teori konsistensi.

Teori stimulus dan respon beranjak dari lokus pengaruh stimulus yang relevan bagi pembentukan respon tertentu terhadap suatu obyek. Sedangkan teori pertimbangan sosial menegaskan faktor internal dan eksternal sebagai pemicu keputusan-keputusan perubahan sikap. Pada tingkatan internal, sikap seseorang dipengaruhi oleh persepsi sosial, posisi sosial, dan proses belajar sosial. Pada tingkatan eksternal, pengaruh terjadi melalui proses penguatan (reinforcement), komunikasi persuasif, dan harapan yang diinginkan.

Adapun teori konsistensi lebih melihat faktor internal sebagai pemicu perubahan, yang pada dasarnya bertujuan untuk menyeimbangkan antara sikap dan perbuatan. Teori ketiga ini ada yang menyebutnya sebagai balance theory (Fitz Heider), congruity theory (Osgood & Tannenbaum), cognitive dissonance theory (Festinger), dan reactance theory (Brohm) dengan intisari pemikiran yang serupa, yaitu pilihan sikap terbaik biasanya adalah yang paling cocok dan dapat memberikan kestabilan pada diri seseorang. Kestabilan inilah yang melahirkan keharmonisan, keseimbangan dan ketenangan batin pada diri seseorang.

Pada konteks ini patut pula diulas tentang teori fungsi yang menyebutkan bahwa perubahan sikap seseorang dipengaruhi oleh kebutuhannya. Prinsipnya, sikap berfungsi membantu seseorang untuk senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan menurut kebutuhannya. Katz berpendapat bahwa sikap memiliki empat fungsi pokok yatu:

  • Fungsi instrumental, dimana manusia dapat membentuk sikap positif/negatif terhadap obyek yang dihadapinya;
  • Fungsi pertahanan diri, yang berperan melindungi diri dari ancaman luar;
  • Fungsi penerima dan pemberi arti, yang dengannya seseorang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya; dan
  • Fungsi nilai ekspresif, yakni pernyataan sikap seseorang atas suatu obyek, baik secara verbal maupun non-verbal. Melalui teori ini dapat dipahami bahwa perubahan sikap terjadi tidak dengan serta-merta, melainkan melalui suatu proses penyeimbangan diri dengan lingkungannya atau penyesuaian diri dengan kebutuhannya.

Keberagamaan dan Relasional Manusia dengan Tuhan

Setelah menganalisis pengertian sikap beserta komponen-komponennya, maka keberagamaan tentu menjadi suatu istilah yang tidak bisa dinegasikan pembahasannya, sebab kata ini merupakan kata sifat dari kata sikap yang mendahuluinya. Menurut Jalaluddin (2001: 1999) sikap keberagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorong untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadapAi?? agama, sikap keberagamaan tersebut boleh adanya konsisten antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur efektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur konatif.

Keberagamaan ialah kesadaran relasi manusia dengan Tuhan, relasi manusia dengan sesama, relasi manusia dengan alam dan relasi manusia dengan dirinya sendiri (hablumminallah wa hablumminannas). Ketidak mampuan pendidikan dalam menumbuhkan kesadaran diri akan bisa mendorong tumbuhnya sifat negatif manusia dalam hubungan sosial yang luas, seperti perilaku kekerasan atau tindakan brutal lainnya

Abdul Munir Mulkhan (2002: 25), mengatakan sikap keberagamaan adalah kemampuan memilih yang baik dalam situasi yang serba terbuka. Setiap kali manusia akan melakukan sesuatu, maka ia akan mengacu pada salah satu nilai yang diyakini untuk menentukan pilihan dari berbagai alternatifAi?? yang ada. Keberagamaan juga dimaknai sebagai upaya transformasi nilai menjadi realitas empiris dalam proses cukup panjang yang berawal dari tumbuhnya kesadaran iman sampai terjadinya konversi.

Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa sikapkeberagamaan adalah suatu keadaan atau kondisi diri seseorang dimana setiap melakukan aktivitasnya selalu berhubungan dengan keyakinan agamanya. Dalam hal ini pula dirinya sebagai hamba yang mempercayai Tuhannya berusaha agar dapat merealisasikan atau mempraktekan setiap ajaran agamanya atas dasar imanAi?? yang ada dalam batinnya.

Cara Membentuk Sikap

Pembentukan sikap keberagamaan seseorang dapat dilakukan dengan melalui tiga pendekatan yaitu: Pertama, melaluipendekatan rasional. Pendekatan rasional adalah usaha memberikan peranan pada rasio (akal) peserta didik dalam memahami danAi?? membedakan berbagai bahan ajar dalam standarAi?? materi serta kaitannnyaAi?? dengan prilaku yang buruk dalam kehidupan duniawi. (Ramayulis, 2004: 152)

Kedua, Pendekatan emosional. Pendekatan emosional adalah upaya untuk mengugah perasaan emosi peserta didik dalam menghayati prilaku yang sesuai dengan ajaranAi?? Islam dan budaya bangsa (serta dapat merasakan mana yang baik dan buruk).Ai??Ketiga, Pendekatan keteladanan. Pendekatan keteladanan adalah menjadikan figur guru agama dan non agama dan seluruh warga sekolah sebagai cerminan manusia yang mempunyai sikap keberaagamaan. Keteladanan dalam pendidikan sangat urgen dan lebih efektif, dalam usaha pembentukan sikap kebergamaan, peserta didik lebih mudah memahami atau mengerti bila adaAi?? seeorang yang dapat ditirunya.

Keteladanan menjadi media yang sangat strategis bagi optimalnya pembentukan jiwa keberagamaanAi?? seseorang. Keteladanan pendidik terhadap peserta didik merupakan kunci keberhasilan dalam mempersiapakan dan membentuk moral spiritual dan sosial anak.

Tentang keteladanan, Zakiah Darajat (1982: 126) mengemukakan: Hendaknya setiap pendidik menyadari bahwa pembinaan pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan pembiasandan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karena pembiasaan dan latihanAi?? tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak yang lambat laun sikap itu akanbertambah jelas dan kuat, karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya. Dr. H. Yayat Hidayat, MA

Komentar
Memuat...