Inspirasi Tanpa Batas

Revolusi Ibadah Puasa Melampiaskan dan Mengendalikan

0 36

Konten Sponsor

Revolusi Puasa Melampiaskan dan Mengendalikan – Berbeda dengan shalat dan zakat yang penulis muat pada artikel sebelumnya Mengapa Manusia Harus Shalat ?”, ibadah puasa bersifat lebih revolusioner, radikal dan frontal. Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag (bahasa Banten) dari dunia. Di diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu.

Disaat orang shalat, dunia dibelakanginya, dan disaat orang berzakat, dunia disisinya, tetapi sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada dihadapannya, tetapi tak boleh dikenyamnya.

Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap tidak pada isi pokok dunia yang berposisi ya dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakan tangan untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangai. Itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari merupakan tujuan dan kebutuhan.

Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Dalam hal ini keduanya memiliki perbandingan, ekonomi-industri-konsumsi mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama megajak manusia untuk menahan dan mengendalikan.

Ibadah Haji Sebuah Sikap Manusia Mensepelakan Dunia

Sementara ibadah haji merupakan puncak pesta pora dan demonstrasi dari suatu sikap di mana dunia disepelekan dan ditinggalkan. Contohnya dalam rukun haji yaitu tawaf.

Ibadah tawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jurus perjalanan personal dan sosial yang tidak menjanjikan kesejatian dan keabadian. Perlu diketahui bahwa gerak melingkar tawaf adalah aktualisasi dasar teori innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar, perjalanan siklikal, perjalanan yang menuju dan kembalinya sejarah.

Ihram adalah pelecehan habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniawian. Status sosial, gengsi budaya, pangkat, kekuasaan, kekayaan atau apapun yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis ihram mestinya pelaku mengerti bahwa nanti jika ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan dunia, tak lagi dinomor satukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.

Analisis Penulis Tentang Puasa dan Haji

Dari pembahasan pertama mengenai puasa, mungkin pembaca sudah bisa memahami makna puasa tersebut. Bahwa berpuasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi bersikap tidak terhadap yang biasanya iya, terutama dalam menyikapi sifat keduniawian.

Pembahasan kedua mengenai ibadah haji, lebih spesifiknya mengenai pakaian ihram. Penulis dapat menyimpulkan bahwa semua orang sama. Tidak ada persaingan kekuasaan, tidak ada siapa yang paling kaya, atau tinggi kedudukannya. Untuk itu lebih singkatnya bahwa manusia itu sama rata dan sama rasa di mata Allah, yang membedakan hanyalah amalan-amalan yang dilakukan masing-masing.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar