Rezeki Dalam Perspektif al Quran

0 712

Rezeki Dalam Perspektif Al Quran: Di dalam Al Quran, kata rizq dengan berbagai derivasinya diulang 133 kali, 55 kali berbentuk kata benda dan 78 kali berbentuk kata kerja. Dari jumlah tersebut, penunjukan kata rizq dapat diklasifikasikan sesuai dengan konteksnya, di antaranya adalah:

Sebagai Bahan Kebutuhan Konsumsi

Dalam konteks ini, Al Quran menyebut kata rizq  bersamaan dengan penjelasan bahan-bahan yang dapat dikonsumsi oleh manusia untuk menyambung hidupnya. Seperti buah-buahan yang dihidupkan oleh air hujan, makanan, minuman, baik yang disebut langsung dengan kata tha‘âm (طعام),maupun yang tidak langsung, pakaian, dan kadang-kadang dikontekskan dengan air hujan. Hal ini karena air merupakan sumber vital kehidupan bagi makhluk. Seluruh makhluk hidup, menggantungkan kehidupannya pada air. Kata rizq yang berada dalam konteks konteks tersebut, semuanya menunjuk pada materi kehidupan manusia, khususnya sebagai penyedia kebutuhan konsumsi.

Nikmat yang banyak  

Dalam konteks ini, ketika Al Quran menyebut kata rizq, sering  dikaitkan dengan kata hasan, yang diulang sebanyak  lima kali. Empat kali menunjuk pada  keluasaan rezeki yang berkaitan dengan kehidupan dan satu kali menunjuk pada kenikmatan surgawi. Sebagai contoh firman Allah.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً عَبْدًا مَمْلُوكًا لاَ يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا هَلْ يَسْتَوُونَ.

Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama?   (Al-Nahl/16: 75).

Kata rizq jika dikaitkan dengan kata hasan sebagaimana yang tercantum pada ayat di atasmenunjukkan arti “rezeki yang banyak”. Hal ini dikarenakan orang tidak dapat berinfaq tanpa memilki rezeki yang cukup. Dalam konteks lain, kata rizq jika dikaitkan dengan sifat bagus (طَيّب). Kata ini kadang-kadang disinonimkan dengan kata ladzdzah (enak), halâl, hasan. Jika kata tersebut dikaitkan dengan kata ‘aisy (kehidupan), maka kata tersebut bermakna kemakmuran.  Dalam hal ini kata rizq, menunjukkan arti “harta yang bernilai tinggi”. Firman Allah.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ.

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” (Al-A‘râf/7: 32)

Pemberian Allah yang harus dipertanggung jawabkan

Kata rizq, kadang kadang juga menunjuk pada pemberian Allah kepada semua makhluk sebagai jaminan hidupnya. Dalam hal ini, ketika Al Quran menyampaikan bahwa apa yang digunakan oleh manusia adalah pemberian Allah, tersirat makna bahwa pemberian itu harus dipertanggungjawabkan oleh manusia, khususnya peruntukannya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Hûd/11: 6)

Al-Qurthubî menjelaskan bahwa kata “عَلى” pada ayat di atas bermakna “مِن” (berasal). Tetapi ulama‘ lain ada yang berpendapat bahwa kata tersebut menunjukkan karunia, bukan suatu kewajiban, atau setidaknya hanya merupakan harapan yang positif yang harus disertai dengan upaya makhluk yang membutuhkan rezeki. Hal ini disebabkan bahwa dalam pandangan teologi, Allah yang bersifat “Maha”, tidak cocok jika diposisikan sebagai sesuatu yang dituntut oleh kewajiban. Dalam konteks ini, kata rizq menunjuk segala yang dimakan oleh makhluk  sehingga dapat bertahan hidup dan berkembang. Dalam hal ini, kata rizq tidak dapat dipahami sebagai kepemilikan, karena hewan yang menggantungkan hidupnya pada upaya pencarian dan anak kecil yang bertahan hidup pada air susu ibunya tidak dapat dianggap memiliki materi ketahanan hidup tersebut.

Al Quran mengajarkan manusia agar rezeki yang diberikan Allah kepadanya, dipertahankan nilai dan fungsinya. Oleh karenanya, Al Quran  melarang manusia ingkar (kufr) terhadap keberadaan, dan fungsi rizki tersebut. Manusia dilarang berbuat destruktif dengan menggunakan fasilitas yang merupakan pemberian Allah (rizqi) yang disebabkan iri hati dan sentimen terhadap orang yang mendapat rezeki. Hal ini karena semua pemberian tersebut berasal dari Allah sebagai penguasa kehidupan makhluk. Segala yang diberikan Tuhan kepada makhluk, dikehendaki agar makhluk menyadari posisi kemakhlukannya dengan mengabdikan diri Tuhan melalui pemberian-Nya. Dalam memberikan pemberian kepada makhluk, Allah telah memberikan kadar pemberian-Nya sesuai dengan kesanggupan, kebutuhan, dan kepatutan. Ada makhluk yang mendapat jenis peberian tertentu, dan ada yang mendapat pemberian jenis lain.

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا.

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.(Al-Isrâ’/17: 30)

Kata wa yaqdir  (ويقدر) pada ayat di atas, berasal dari kata qadara yang berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran. Jika dikatakan bahwa Allah telah menakdirkan demikian, berarti Allah telah memberi kadar, ukuran, batas tertentu dalam diri, sifat atau kemampuan maksimal makhluk-Nya. Demikian juga dalam hal rezeki, Allah telah memberikan ketentuan bagi makhluk-Nya. Ketentuan tersebut ditetapkan untuk menjaga keseimbangan, baik kondisi internal (psikologis) manusia maupun kondisi eksternalnya (sosiologis).

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ.

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. (Al-Syûrâ/42: 27)

Kehidupan makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu. Meskipun Allah menuntun dan menunjukkan mereka ke arah yang seharusnya dituju, namun mereka tidak pernah lepas dari batas dan hukum yang menetapkan keterbatasannya. Dalam hal ini, tidak ada pertentangan antara usaha yang diupayakan oleh manusia dan ketetapan Allah untuk menjaga keseimbangan makhluk-Nya.

Perbedaan kadar rezeki yang ada pada manusia, bukan untuk menciptakan perbedaan yang berakhir pada kekacauan. Perbedaan tersebut harus bermuara pada upaya pemerataan keadilan (keadilan distributif) yang harus dilakukan manusia sebagai bagian dari pengabdian dan rasa terimakasih terhadap pemberian Tuhan.

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ.

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari ni`mat Allah? (Al-Nahl/16: 71)

Al Quran tidak mengakui sistem sosialis yang memandang keadilan sebagai sesuatu yang harus sama, baik kuantitas maupun kualitas. Al Quran hanya menghendaki keadilan distributif, artinya manusia memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan dan memanfaatkan kekayaan sesuai dengan kadar, kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Dalam hal ini, yang harus dilakukan oleh orang yang lapang rezekinya adalah membagikan kepada yang kekurangan melalui infâq. Adapun orang yang sempit rezekinya, ia harus berupaya memanfaatkan rezeki tersebut seoptimal mungkin untuk mencukupi kebutuhannya.

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا ءَاتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا ءَاتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا.

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (Al-Talâq/65: 7)

Sebagai bukti ke-Esaan Tuhan

Kata rizq  yang menunjukkan pemberian Tuhan,  tidak hanya sekadar berupa materi. Akan tetapi mencakup seluruh kebutuhan hidup makhluk. Dengan tercukupi kebutuhan hidupnya, diharapkan manusia sadar tentang kekuasaan dan keterlibatan Tuhan dalam kehidupannya. Kesadaran tersebut diarahkan pada dua hal; pertama, agar manusia berpikir dan mengamati alam dan isinya. Alam ternyata bukan sekadar penciptaan, melainkan di dalam penciptaan itu terdapat jaminan hidupnya. Kedua, setelah manusia mengetahui bahwa di dalam timbunan alam tersimpan kehidupan. Oleh karena itu, ia harus sadar bahwa ketundukan alam kepadanya tidak dengan serta merta, tetapi ada Dzat yang menundukkan yaitu Allah. Dalam hal ini posisi kata rizq sama dengan kata syukr.

Oleh karena itu, Allah menegur manusia yang menyembah selain Dia, karena sesembahan tersebut tidak mampu memberikan sesuatu dalam kehidupannya.

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ شَيْئًا وَلاَ يَسْتَطِيعُونَ.

Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun). (Al-Nahl/16: 73)

Jika demikian, maka sembahlah Allah dan mintalah rezeki dari sisi-Nya. Jika engkau telah mendapat apa yang engkau upayakan, bersyukurlah. Dia tempat kembali seluruh makhluk-Nya baik yang berkecukupan maupun yang kekurangan.

إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لاَ يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ.

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan. (Al-‘Ankabût/29: 17)

Analogi di atas yang disodorkan oleh Al Quran kepada manusia dalam berpikir tentang keberadaan Tuhan (Allah)-nya. Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan yang menanggung hajat hidup makhluk-Nya, baik yang mampu maupun yang tidak mampu.

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لاَ تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-‘Ankabût/29: 60)

Kenikmatan ukhrawi

Dalam konteks ini, kata rizq  sering disifati dengan kata karîm (كَرِيْم) yang disebut enam kali.  Secara bahasa, kata karam bermakna murah hati, dermawan, mulia (جُوْدٌ)  dan toleran (صَفْح). Hal ini bisa berkaitan dengan substansi sesuatu maupun berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jika kata ini dikaitkan dengan sifat Allah, maka menunjuk sifat  kebaikan (ihsân) dan kemurahan nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia secara zhahir. Tetapi jika kata tersebut dinisbatkan kepada sifat manusia, maka menunjuk pada sifat, perilaku dan tindakan terpuji yang dilakukan oleh manusia. Kata tersebut sering dikaitkan dengan keperkasaan dan keberanian. Hal ini karena hanya orang yang memilki keperkasaan dan keberanian yang mampu memberikan perlindungan sehingga ia terkesan murah hati, dan manusia tidak akan disebut mulia (karîm) kecuali telah nampak sifat dan tindakan yang mulia pada diri seseorang. Ulama‘ ada yang berpendapat bahwa suatu kebaikan atau kemuliaan disebut dengan karam jika didasarkan pada pengorbanan yang besar. Sebagian mufassir ada yang berpendapat bahwa kata rizq yang dikaitkan dengan kata karîm  dipahami dengan arti surga. Sebagai contoh firman Allah.

أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ.

Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki yang mulia. (Al-Anfâl/8: 7)

Dari berbagai konteks, secara keseluruhan makna kata rizq  menjelaskan suasana kenikmatan kehidupan manusia, baik di alam inderawi saat ini, maupun di alam ukhrawi nanti.  Dari isyarat ayat yang ada, kata rizq sering menunjuk pemberian Allah kepada makhluk sebagai eksistensi ketuhanan-Nya. Oleh karenanya, ketika Al Quran menyebut rizqi, tidak dikehendaki untuk menyebutkan abstraksi makna, tetapi untuk mengingatkan manusia sebagai pengguna pemberian Allah agar senantiasa menggunakan pemberian tersebut untuk dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh sang pemberinya. Rizqi yang merupakan pemberian Tuhan kepada makhluk, harus dimanfaatkan seoptimal mungkin sebagai jaminan Tuhan untuk pemenuhan kebutuhan hidup seluruh makhluk, bukan sebagai bahan rebutan antar makhluk.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.