Rezeki yang Memberi Manfaat

0 190

Manfaat rezeki. Al-Qur’an ketika menyebut sesuatu yang dikenali oleh indera dan akal manusia, tidak dikehendaki untuk menunjukan abstraksi baru yang bertolak belakang dengan hasil abstraksian indera dan akal manusia. Akan tetapi hal itu dikehendaki untuk mengingatkan hubungan teologis, antara Pencipta dan yang dicipta. Segala yang ada adalah hasil kreasi agung sang pencipta. Hanya satu harapan dari Sang pencipta yaitu penciptaan tersebut dapat menunjukkan lepada makhluk akan esensi, eksistensi dan kehadiran Sang Pencipta dalam ciptaan-Nya. Ketika al-Qur’an menyebut materi kehidupan (rizqi), tidak dikehendaki bahwa manusia tidak tahu materi tersebut. Akan tetapi menunjukkan kepada manusia sekaligus untuk mengingatkan esensi dan eksistensi Tuhan atas makhluk-Nya.

Terminologi rizqi, sering dipahami sebagai pemberian yang berasal dari Tuhan. Lebih dari itu, istilah tersebut acap dipahami sebagai materi yang tak diketahui proses perolehannya. Orang yang  mendapat sesuatu yang menyenangkan secara tiba tiba tatkala ia tidak merasa melakukan proses untuk memperoleh dan memperebutkan, dia mengatakan “mendapat rizqi”. Di dalam bahasa Indonesia, kata rizq diartikan dengan rezeki yang menunjuk seluruh pemberian Allah yang dapat memberi manfaat. Air hujan dikatakan sebagai rizq, karena air tersebut dapat menyuburkan tanah yang  dapat   menumbuhkan tanaman sebagai sumber mata rantai kehidupan.

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ ءَايَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا 

Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan) -Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. (Al-Mukmin/40: 13)

Para mufassir ketika menafsirkan sebagian kata rizq  dengan tafsiran “air hujan”. Karena air hujan dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Dengan tumbuhan-tumbuhan, manusia dan binatang dapat mengkonsumsi. Di zaman modern, hujan bukan segala-galanya, justeru “iklim” lebih menentukan kehidupan makhluk. Jika hujan hanya dirasa oleh makhluk di darat, iklim dapat dirasa oleh makhluk di darat dan di laut. Dengan demikian penafsiran kata rizq dengan arti “air hujan” sangatlah kondisional sesuai dengan perkembangan zaman yang ada.

Al-Râghib berpendapat bahwa kata rizq menunjuk segala pemberian, baik yang bersifat duniawî maupun ukhrawî. Rezeki tersebut adakalanya diawali dengan usaha, ada yang sudah ditentukan, dan kadang-kadang menunjuk  sesuatu yang sedang dimakan, adakalnya berupa harta, kedudukan, ilmu, dan lain-lain. Ulama‘ sepakat bahwa makna rezeki  menunjuk pemberian Tuhan yang digunakan oleh manusia dalam kehidupan. Akan tetapi mereka berbeda pendapat, apakah seluruh yang digunakan oleh manusia itu termasuk rezeki?

Adakah Pemberian Tuhan Yang Cela

Kelompok Sunni menganggap bahwa segala yang dimanfaatkan oleh manusia adalah rezeqi, baik yang halal maupun haram. Karena kalau rezeki hanya dikehendaki yang halal saja, akan ada makhluk yang dalam hidupnya tidak pernah memakan rezeki Tuhan dengan dalih ia tidak pernah makan barang yang halal.

Untuk menguatkan pendapat kelompok ini, Fakhruddîn Al-Râzî mengartikan rizq  bagian yang lazim diterima oleh manusia dan diperuntukkan secara khusus kepadanya. Kalau ada yang berpendapat bahwa rizq adalah semua yang dimakan atau yang dimiliki, pendapat ini dianggap lemah. Tuhan menciptakan alam untuk manusia, bukan sekadar untuk dimakan secara individu, melainkan justeru untuk diinfaqkan. Dengan demikian, kalau rezeki hanya yang dimiliki oleh manusia, banyak pemberian Tuhan yang tidak dimiliki, seperti anak, isteri dan lain-lain. Al-Râzî berpendapat bahwa rizq adalah semua yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, baik untuk dirinya maupun orang lain, baik yang halal maupun yang haram.

Sementara kelompok Mu‘tazilah menganggap bahwa yang dikategorikan rezeki adalah yang halal dan baik. Argumen kelompok ini didasarkan pada aspek asal rezeki. Kata tersebut selalu dinisbahkan kepada Allah, oleh karena itu suatu hal yang naif, Allah memberikan sesuatu yang Dia sendiri melarang dan mengecamnya. Adapaun kelompok Syî‘ah, mereka tidak mengklaim bahwa yang dikategorikan rezeki hanya yang halal. Mereka hanya menegaskan bahwa rezeki adalah seluruh yang dilimpahkan Tuhan kepada makhluk-Nya dari yang terbaik. Kelompok ini berpendapat bahwa semua pemberian Tuhan adalah baik dan dapat dimanfaakan oleh makhluk dalam hidupnya.

Argumentasi dari dialog tersebut, semuanya hanya terfokus pada tindakan manusia dalam memakai atau memanfaatkan pemberian ilahi. Dalam hal ini, penulis dapat sepakat bahwa semua pemberian Allah adalah baik, sesuai dengan kondisi dan fungsi masing masing. Sebagai contoh, kotoran binatang itu baik, jika digunakan untuk memupuk tanaman, tetapi tidak baik kalau dicampur makanan untuk konsumsi mansuia. Kebaikan pemberian Tuhan justeru sering disalah gunakan oleh manusia. Dalam hal ini, sejatinya bukan pemberian Tuhan yang tidak baik. Akan tetapi ulah tingkah manusia yang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Sehingga sesuatu yang asalnya baik, menjadi tidak baik.

 

Komentar
Memuat...