Inspirasi Tanpa Batas

Richard Cantillon, Sosok Penemu Istilah “Entrepreneur”

0 650

Istilah “entrepreneur” mungkin bisa kita dengar ratusan kali dalam sehari. Kata ini dapat ditemukan di berbagai teks sekarang. Penggunaannya juga makin meluas, tidak hanya dalam konteks bisnis komersial, tetapi hingga ke ranah sosial, birokrasi, dan sebagainya. Dapat dikatakan itulah masa keemasan entrepreneur karena makin merebaknya gagasan entrepreneurship dalam kehidupan umat manusia yang tak mengenal sekat batas geografis. Entrepreneurship telah diadopsi oleh seluruh dunia.

Meski sudah familiar dengan kata “entrepreneur”, berapa banyak dari kita yang telah mengetahui sosok yang memunculkannya pertama kali? Seperti dikutip dari laman Wikipedia.org, “entrepreneur” adalah buah pemikiran seorang pakar ekonomi berdarah campuran Prancis dan Irlandia. Richard Cantillon, demikian nama ahli ekonom tersebut, merupakan orang pertama yang tercatat pada sejarah yang memperkenalkan kata “entrepreneur” dalam khasanah bahasa Prancis. Kata tersebut kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris secara utuh dengan pengucapan yang masih sama juga.

Di dalam paparannya tentang istilah baru ini “entrepreneur”, Richard Cantillon menjelaskan bahwa maknanya ialah “orang yang membayar sebuah produk dengan harga tertentu untuk kemudian ia jual kembali dengan harga yang tidak tentu. Dengan cara membuat berbagai keputusan mengenai kegiatan mendapatkan dan menggunakan sumber daya yang dimilikinya. Dan ketika saat yang sama mengakui adanya resiko dalam menjalankan usahanya sendiri”. Istilah tersebut pertama kali muncul pada kosakata bahasa Prancis. Setelah dimasukkan dalam kamus bahasa Prancis “Dictionnaire Universel de Commerce” dari Jacques des Bruslons yang diterbitkan pada tahun 1723.

Umumnya Jean Baptiste Say adalah tokoh yang lebih banyak dikenal telah menyebarluaskan istilah tersebut. Tetapi kemudian diketahui bahwa Cantillon-lah yang pertama kali melakukannya dengan memasukkan terminologi baru tersebut. Ke dalam karya tulisnya yang dipublikasikan secara umum dengan judul “Essai”. Di dalam makalah tersebut, ia membagi masyarakat menjadi 2 kelas utama: mereka yang memiliki penghasilan tetap dan mereka yang berpenghasilan tak tetap. Disampaikan oleh Cantillon melalui Rothbard (1995: 351) bahwa Cantillon membagi masyarakat menjadi 4 kelas utama: politikus, pemilik properti, entrepreneur dan si pengumpul upah.

Di sini, Cantilion mendefinisikan “entrepreneur” sebagai “seseorang yang mendapatkan penghasilan tak tetap yang membayar biaya produksi yang sudah diketahui. Tetapi mendapatkan pemasukan yang tak tetap karena sifat permintaan produk mereka yang masih kurang jelas.

Richard Cantillon memang membangun konsep dasar entrepreneur saat orang lain belum bisa memilkirkannya namun ia belum sempat mengembangkannya sebagai sebuah teori yang mandiri. Bahkan sebelum abad ke-20, konsep dan terminologi ini tak banyak dibicarakan.

Perjalanan Karir Richard Cantillon

Satu keyakinan yang dikemukakan Cantillon saat itu ialah bahwa entrepreneur memiliki kemampuan untuk membawa keseimbangan dalam ekosistem pasar dengan memprediksi preferensi dari konsumen.

Ketertarikan pria yang lahir sekitar dekade 1680-an di Irlandia ini terhadap ilmu ekonomi bermula saat ia tinggal di Spanyol dari 1711 hingga 1714. Di negeri matador tersebut, ia bekerja sebagai pengelola keuangan untuk para tahanan Inggris semasa perang sukses di Spanyol.

Ia menjalin koneksi bisnis dan politik. Ia kemudian bekerja untuk sebuah bank. Melalui bantuan James Brydges, Cantillon bersama seorang sepupu sukses sebagai bankir yang memiliki spesialisasi dalam trasfer uang antara Paris dan London. Ia makin sukses dari spekulasinya membeli saham Mississippi Company dengan harga yang lebih tinggi.

Menjelang akhir hidupnya yang singkat (54 tahun), Richard Cantillon menangguk untung berkat terjadinya “Mississippi Bubble” yang membuat para debiturnya kolaps secara finansial karena naiknya suku bunga pinjaman. Meski demikian, kehidupannya tidak tenang karena harus menghadapi berbagai tuntutan hukum. Debiturnya yang kerap berujung munculnya ancaman pembunuhan serta tindak kriminal.

Cantillon meninggal tanpa adanya penjelasan yang meyakinkan. Sebagian berasumsi ia meninggal dalam sebuah peristiwa kebakaran yang sebabnya tak diketahui secara pasti. Sebagian lainnya berspekulasi ia telah dibunuh.

Sementara, salah satu penulis biografinya Antoine Murphy berpendapat Cantillon sengaja merekayasa peristiwa kematian itu agar dapat melarikan diri dari ancaman debitur yang membuatnya terusik. Murphy berargumen, Cantillon tidak meninggal dalam kebakaran itu dan secara diam-diam berpindah ke Suriname. Dan tinggal di sana dengan menggunakan identitas Chevalier de Louvigny. (dhirga)

Komentar
Memuat...