Home » Tokoh » Biography » Ridwan Kamil dalam Kebimbangan Politik

Share This Post

Biography

Ridwan Kamil dalam Kebimbangan Politik

Ridwan Kamil dalam Kebimbangan Politik

Agak sulit, jika masyarakat Jawa Barat khususnya, atau bahkan masyarakat Indonesia pada umumnya, yang tidak mengenal sosok Ridwan Kamil. Ia dianggap pemimpin muda Indonesia yang mampu membawa perubahan terhadap Kota Bandung. Terpilih sebagai Walikota Bandung lewat pemilihan Umum Daerah pada tahun 2013. Namanya langsung melejit sebagai tokoh atau pemimpin daerah yang bukan hanya dikenal santun, tetapi, juga dikenal sangat intelek. Karena itu, wajar jika kemudian banyak partai yang meliriknya untuk dijadikan kandidat dalam helatan pilkada Provinsi tahun depan.

Sarjana Teknik lulusan ITB dalam bidang teknik arsitektur ini, lahir di Bandung tahun 1971. Umurnya lebih tua dari saya sekitar 24 hari. Ia lahir tanggal 4 oktober. 1971. Sosok ini lahir dari ayah bernama Dr. Atje Misbach, S.H (alm.) dan dikenal sebagai keluarga HMI militan. Ia maju menjadi Walikota Bandung melalui Partai PKS dan Gerindra. Dua partai yang dalam Pemilu tahun depan, diprediksi bakal memperoleh suara cukup signifikan. Tetapi entah mengapa, Emil tampaknya tidak lagi akan diusung oleh dua partai ini.

Sosok yang dikenal rajin membaca buku komik ketika masih anak-anak ini, populer dengan sebutan Kang Emil. Ia juga dikenal memiliki kepandaian dalam melihat photo-photo berbagai belahan kota di dunia. Ia juga dikenal memiliki jiwa kewirausahaan yang cukup tinggi. Dikisahkan ia pernah jualan es mambo buatannya sendiri saat dia masih sekolah dasar. Ini pula mungkin yang menyebabkan fungsi-fungsi motorik otaknya bekerja dengan baik. Ia dikenal cerdas dan sudah menggeluti organisasi seperti Paskibra, OSIS dan klub sepak bola sejak masih duduk di bangku SLTP dan SLTA,

Alumni SMP Negeri 2 dan SMA Negeri 3 Bandung ini, meneruskan studi di Institut Teknologi Bandung [ITB]. Ia mengambil jurusan Teknik Arsitektur, masuk tahun 1990 dan lulus tahun 1995. Watak entrepreneurnya, masih juga melekat dalam pribadinya pun ketika ia mengikuti kuliah di ITB. Di ITB ia membuat ilustrasi cat air atau maket untuk dosen.

Rekomendasi untuk anda !!   Tenang, Jangan Takut dan Jangan Khawatir Hanya Allah yang Memberi Perlindungan

Demi Cita-cita Emil Hanya Makan dengan Harga 99 Sen

Gelar sarjana arsitektur yang digenggamnya, membuat dia memilih karier di Amerika Serikat. Namun menurut beberapa catatan, karena terjadi krisis di Indonesia, selama empat bulan bekerja di sana, ia tidak memperoleh gaji. Bekerja tanpa gajihpun tidak langsung membuat dia pulang apalagi berputus asa untuk tinggal di Amerika Serikat. Malah dalam banyak kasus, ia tampaknya harus bersyukur. Mengapa? Sebab dengan krisis ini pula, ia malah berhasil studi S2 dengan program Beasiswa tentu saja, di University of California, Berkeley.

Saat dia menempuh studi S2 di USA itu, bekerja separuh waktu di Departemen Perancanaan Kota Berkeley. Pekerjaan separuh waktu ini, dilakukan agar dapat meneruskan hidupnya dan bertahan untuk tinggal di sana. Banyak informasi menyebutkan bahwa ia hanya makan sekali dalam sehari. Itupun hanya menggunakan menu murah seharga 99 sen. Kondisi ekonomi keluarganya yang paceklik, telah membuat diri dan istrinya, Atalia Praratya, harus mengaku miskin kepada pemerintahan Kota setempat, saat istrinya harus melahirkan. Tujuan tunggal! Yakni bagaimana persalinan untuk anak pertamanya yang dilahirkan di Amerika Serikat itu, dapat dilakukan dengan cara yang gratis.

Emil pulang ke Indonesia Tahun 2002. Dua tahun kemudian [2004], ia mendirikan Urbane. Sebuah Firma yang bergerak dalam bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain. Di perusahaan ini, setelah dia menjadi Wali Kota, ia kemudian menjadi Prinsipal PT. Urbane Indonesia, Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung, serta Senior Urban Design Consultant SOM, EDAW (Hong Kong & San Francisco), dan SAA (Singapura). Melalui perusahaan ini pula, ia dan firmanya tentu saja, banyak memperoleh pengharagaan baik dalam skala nasional maupun dalam skala internasional.

Emil dan Pertaruhan Politik Regional

Kita tidak tahu, apa yang menjadi sebab utama, mengapa dalam helatan Pilkada Provinsi Jawa Barat beberapa bulan ke depan, ia tampaknya tidak akan menggunakan Partai pengusungnya seperti dalam Pilkada Kota Bandung. Ia malah diusung partai Besutan Surya Paloh, yakni Nasdem. Bagi mereka yang alumni HMI, pilihan itu, mungkin dilakukan karena keluarga Emil sangat dekat dengan KAHMI dan Nasdem Jawa Barat. Kita tahu bahwa saat ini, Nasdem dipimpin tokoh nasional KAHMI yakni Sa’an Mustafa. Lebih dari itu, banyak yang tidak tahu.

Rekomendasi untuk anda !!   Agustus 1997 Soeharto Membaca Teks Proklamasi Terakhir

Tetapi, banyak kemudian yang menduga bahwa diterimanya pinangan Nasdem baginya untuk Pilkada Jawa Barat, lebih karena dia ingin aman dari terkaman belitan persoalan hukum. Sebetapapun dia dikenal santun dan hebat, banyak di antara mereka yang bukan alumni HMI menganggap bahwa Emil bukanlah Malaikat. Dan karena pentolan hukum Indonesia berbasis pada partai Nasdem, maka, lamaran itu diterimanya demi pengamanan tadi.

Banyak juga analis, khususnya berasal dari Gerindra dan PKS, yang menganggap bahwa pilihan gabungnya Emil ke Nasdem, bukan ke Gerindra atau ke PKS, lebih karena anggapannya yang keliru. Ia menganggap bahwa partai ini akan berhasil mengusung AHOK menjadi Gubernur di Jakarta. Fakta menunjukkan bahwa, dukungan itu terjadi saat beberapa jam PILKADA Jakarta akan dihelat. Dalam perspektif ini, Emil dipandang salah melakukan ijtihad politik karena menganggap Ahok bakal menang. Fakta ternyata dia kalah.

Apapun itu alasannya, yang pasti memang, belakangan nama Emil, justru menurun popularitasnya. Karena tukikan turunnya popularitas dia,  akhirnya menurut kabar angin, ia menyatakan diri tidak lagi diusung Nasdem. Ia dikabarkan akan memilih maju menjadi Gubernur Jawa Barat melalui jalur independen dan perseorangan. Apa hasilnya! Kita tidak tahu. Tunggu  saja, sampai Pilkada benar-benar berjalan. Prof. Cecep Sumarna

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>