Rinduku Berontak Buruk dalam Kumpulan Puisi Anak Rantau

0 713

Rindu, janganlah kau berontak
Dan buta karena yang kau rindukan sudah
Membatasi kata rindu itu sendiri kepadamu
Tenangkanlah dirimu dipojok bathinku yang dalam.

Mungkin yang kau lihat
Hanyalah sebuah kerinduan biasa
lumrah terjadi di antara kedua orang
yang sesungguhnya sudah tidak bisa membagi lagi rindunya.

Jarak dan waktu telah menghapus kerinduannya
Hingga aku akan kata rindu pada yang kurindukan
Melihat kerinduan terucap dan diucap dari yang kau rindukan kepada yang dirindukannya.
Tapi bukan saatnya juga kau membuat hujan bergelinang hanya untuk menyentuh kerinduannya.

Wahai Rindu
Lebih baik, kau buat rindu seharga dengan sesuatu
yang membuat melepaskan kerinduannya kepada yang lain.
seperti membuat berharganya engkau di mata yang kau rindukan.

Masih ingatkah dulu, ketika dia memuji-muji karyamu.
Seakan engkau orang yang paling pantas dari sekian ribu orang yang dekat dan mendekatinya.
Padahal masih banyak orang dan karya yang lebih pantas untuk lebih dipujinya.

Tapi karena engkau adalah sahabatnya.
Maka semua yang lebih pantas seperti mereka sebaliknya di mata dia.
Engkau juga mengetahui sebenarnya dia yang dari awal sudah engkau ibaratkan seperti malaikat.
Yang pasti tidak akan membuat kesalahan apapun untukmu.

Dan tidak akan membiarkan yang engkau takutkan terjadi seperti yang kau bayangkan
Sebaiknya kau buang semua rasa buruk yang tak sepantasnya ketika rindu kau rasakan.
Jika kau tidak ingin memperburuknya.

Analisa Sastra Puisi

Rossa adalah cerpenis dan penyusun Puisi yang juga baru kami temukan. Ia membuat deskripsi menarik tentang kerinduan. Ia seolah telah berhasil melontarkan suatu lumatan kata yang menyesali akan apa yang kita sebut sebagai rindu. Ia menyebut bahwa semua kata dan rasa yang sebenarnya sekarang tengah menggolak dalam hati dan kerinduannya, yang seolah hilang tanpa arah.

Rossa berani berkata: “Apakah saya tidak pantas hingga tak harus dirindukan lagi? Suatu jeritan kata yang seolah menghiba. Tetapi itulah lontaran kata yang dia muntahkan di sudut kamarnya  yang lembab dan tanpa teman.

Rossa tampaknya terus berpikir dan berkhayal: Apakah karena aku terlalu bodoh membuatnya berharap kepada sesuatu yang dia harapkan dariku. Buktinya aku tak mamu menghasilkan sebuah karya dari usahaku. Seperti apa yang baru saja dia raih diperingkat ke dua se-universitas Indonesia dalam bidang kesukaannya yakni Sastra Jepang. Inilah kalimat lain yang dia lontarkan ulang di kamarnya yang tanpa teman.

Masih aku pandangi laptop yang tengah membuka situs Facebook dirinya, dimana komentarnya jelas seperti menggambarkan bahwa dia tengah merasakan rindu yang teramat dalam kepada seseorang. Tetapi seseorang itu, ternyata bukan aku. By. Rossa

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.