Ruang dan Waktu, Penentu Hidup

0 11

Suatu waktu, saya dan anak tertua berjalan-jalan dan menyaksikan bagaimana lalu lalang kendaraan melewati kami semua. Saya bertanya kepada anak yang paling besar itu. Anak itu biasa dipanggil Boy. Pertanyaannya adalah sebagai berikut: Boy … kira-kira menurut kamu berapa kecepatan mobil yang melintasi kita tadi? Ia menjawab kurang lebih 60 KM per jam. Coba lihat mobil ini yang sedang berhenti. Apa yang membedakan antara mobil yang berhenti ini dengan mobil yang melintasi tadi, dalam imaginasi anda. Anak itu pasti diam. Tidak mengerti maksud dari pertanyaan yang saya ajukan.

Laju Kendaraan Melambat karena Ruang dan Waktu

Akhirnya saya menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan. Saya katakan, secara utuh kita bisa menyaksikan mobil yang berhenti ini. Kita dapat menyaksikan A sampai dengan Z mobil ini. Lalu, terhadap mobil yang melintasi tadi, kita hanya mampu mengetahui sebagian kecil saja, tetapi karena mobil yang berjalan itulah,  imaginasi kita justru melesat. Dan, secara tidak sadar, imaginasi kita justru akan semakin melesat lagi, ketika kita menyaksikan lalu lalang kendaraan di Jalur tol yang kecepatannya berada di antara 120-150 km perjam atau bahkan lebih. Bayangkan kalau anda menyaksikan lalu lalang kendaraan yang kecepatan-nya mencapai angka 1000 KM perjam. Pasti imaginasi kita akan jauh lebih kreatif lagi.

Pertanyaannya, kata saya waktu itu, mengapa mobil ini berhenti atau mengapa mobil di jalan umum kecepatannya lebih rendah dibandingkan dengan mobil yang melaju di Tol meski dengan merek dan standar mobil yang sama.   Anak saya kembali diam. Akhirnya, kembali saya yang menjawab. Mobil yang berhenti ini, ia membatasi dan dibatasi dirinya oleh ruang dan waktu yang melekat dengan dirinya. Begitupun dengan mobil yang bergerak di jalan umum. Ia dibatasi ruang lingkupnya oleh ruang dan waktu. Sehingga ia membatasi seluruh gerak dinamiknya pada ruang dan waktu itu.

Bebaskan Hidup dari Ruang dan Waktu

Itulah hidup. Hidupku dan hidupmu serta seluruh manusia di jagad raya. Jika hidup kamu selalu dibatasi ruang dan waktu, maka, kamu tidak mungkin menjadi misteri. Tidak mungkin menjadi trend setter dalam hidup. Kamu hanya akan menjadi follower sekalipun kamu memiliki IQ yang sangat tinggi. Jadi kalau kamu ingin hidup jauh di atas kecepatan rata-rata manusia pada umumnya, belajarlah untuk menghindari batas-batas tebal yang selalu dibentangkan oleh ruang dan waktu.

Anak saya kemudian bertanya. Lalu kalau begitu, adakah dimensi fisik kita yang tidak dapat dibatasi ruang dan waktu. Bukankah manusia adalah berbentuk fisik yang pasti secara otomatis dibatasi ruang dan waktu. Saya katakan ya … tetapi Tuhan telah memberi potensi besar yang membuat dinding ruang dan waktu menjadi tipis dalam diri kita. Potensi itu disebut dengan akal dan hati. Bukalah pikiranmu. Terbangkan ke angkasa …. Bukalah hatimu untuk semua hal, agar mata hati kamu tidak ditutupi jiwa-jiwa yang sempit. Jika itu mampu anda lakukan, maka, berarti anda bukan hanya sedang menjalankan kendaraan di Jalur Tol, tetapi, anda sedang menerbangkannya di angkasa tanpa penghalang sedikitpun. Dan itulah takdir anda …. Saya tidak tahu anakku mengerti atau tidak? Tetapi saya yakin suatu waktu, ia akan memahaminya, seperti dulu aku belajar memahaminya dari orang tuaku. By. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.