Ruh dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

Ruh dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam
0 1.355

Ruh dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Tulisan ini akan menjelaskan dimensi jiwa atau ruh manusia dalam perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Ruh dalam teori filsafat pendidikan Islam, dapat berupa benda fisik [jasad], tetapi sekaligus memiliki dimensi lain yang bersipat metafisis. Inilah perbedaan yang paling mendasar dalam teori filsafat pendidikan Islam.

Pendekatan Filsafat Pendidikan Islam,  akan meletakkan Al Quran sebagai acuan utama. Al Qur’an harus mampu direlasikan dengan berbagai aspek kehidupan, termasuk tentu dengan pendidikan Islam. Tulisan ini dapat pula difahami sebagai studi konpemlatif tentang bagaimana sesungguhnya posisi manusia yang secara filosofis memiliki dua sisi yang berbeda. Perbedaan dimaksud terletak pada dimensi jasadiyah dan dimensi ruhiyah. Dalam bahasa lain sering juga disebut dimensi prophan [duniawi] dan mutlak [ukhrawy].

Karena manusia memiliki dua dimensi yang berbeda secara diametral itu, maka secara teoritik, manusia selalu memiliki bentuk ganda yang juga diametral. Misalnya, manusia selalu bertarung di antara kebaikan dan potensi lain yakni kemungkinan berbuat jahat. Melalui penela’ahan dan studi kontemlatif terhadap dua soal ini, seharusnya dapat diketahui bagaimana sesungguhnya dasar argumentasi lahirnya pendidikan dalam Islam.

Melalui sudut pandang ini, diharapkan dapat pula diketahui titik temu dan sekaligus titik beda konsep pendidikan Islam dengan pendidikan lainnya. Pertanyaan dasar tentang, apakah tujuan pendidikan Islam memiliki tujuan yang jauh lebih mendasar dibandingkan dengan tujuan pendidikan lainnya, diharapkan dapat terjawab juga melalui Tulisan ini.

Urgensi Kajian Ruh

Pentingnya mengkaji soal ruh dan kaitannya dengan rumusan pendidikan Islam, tampaknya didasarkan atas beberapa pertimbangan. Rumusan pertimbangan ini tentu sangat subektif. Latar belakang pemikiran penulis dimaksud adalah;

Pertama. Ada kesan bahwa pendidikan Islam tidak mampu menjawab pertanyaan subtansional yang menyangkut hajat hidup manusia. Hal ini terjadi karena pendidikan Islam kehilangan paradigma epistimologisnya;

Kedua. Pendidikan Islam dianggap pemeluk muslim tidak lebih normatif dibandingkan dengan pendidikan lainnya. Kehadirannya dianggap tidak berjalan diatas nash (al Qur’an dan al Qur’an Nabi), sehingga ia tidak berbeda dengan pendidikan lainnya. bahkan ada kesan kalau lembaga pendidikan Islam lebih banyak melakukan pembajakan terhadap konsep pendidikan kontemporer;

Ketiga. Dalam konteks keindonesiaan, pendidikan Islam yang demikian harus diterima secara given oleh pemeluk Muslim karena lembaga pendidikannya diarasa tidak lagi (tentu subjektif) memberi janji masa depan baik dalam pemahaman keagamaan maupun keterampilan anak didik. kehadiran lembaga-lembaga pendidikan Islam, meski pejoratif hanya dipahami sebagai “cagar budaya” yang hanya mampu mempertahnkan nilai-nilai tertentu dalam lingkungan masyarakat. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...