Rumah Pintar: Inovasi Pendidikan dalam Mewujudkan Indonesia Pintar

0 114

PENDIDIKAN adalah suatu sistem yang bertujuan meningkatan kualitas hidup manusia. Sejarah hidup umat manusia selalu menunjukkan bahwa tidak ada peradaban yang dibangun tanpa pendidikan. Pendidikan dengan demikian akan menjadi alat peningkatan kualitas hidup masyarakat; dari masyarakat yang terbelakang (primitif) menjadi masyarakat moderen.

Pendidikan sejatinya dilakukan secara sadar –oleh orang dewasa kepada mereka yang dianggap belum dewasa—agar mereka yang belum disebut dewasa itu, siap memberikan peranannya di masa yang akan datang. Dengan demikian, upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa, secara filosofis memiliki hubungan pertalian yang signifikan dengan rekayasa suatu bangsa itu sendiri untuk kemajuannya.

Urgennya pendidikan dalam menapaki kehidupan, membutuhkan pengelolaan yang serius dan upaya yang optimal dari berbagai kalangan. Hal ini demi terwujudnya cita- cita bangsa menuju bangsa yang cerdas (Indonesia Pintar) sebagai modal bagi kemajuan negara. Perlunya optimalisasi dalam merancang pendidikan ke depan didasarkan pada tantangan global yang cukup berat.

Tantangan Besar Pendidikan Indonesia

Malik Fadjar (2005:64) menyebutkan, sekurang-kurangnya terdapat tiga tantangan besar yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia. Pertama, mempertahankan hasil-hasil yang telah dicapai selama ini. Kedua, mengantisipasi era globalisasi. Ketiga, melakukan perubahan dan penyesuaian sistem pendidikan Nasional yang mendukung proses pendidikan yang lebih demokratis. Memperhatikan keragaman, kebutuhan/ keadaan daerah dan peserta didik, serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

Tantangan sebagaimana disebutkan Malik Fadjar, semakin dirasakan dengan munculnya masalah yang mendesak untuk segera dipecahkan dan dicarikan solusinya. Masalah dimaksud adalah  masih rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan, rendahnya pemerataan pendidikan dan masih rendahnya manajemen pendidikan.

Disadari atau tidak, kenyataannya bahwa SDM kita kualitasnya masih rendah dan dalam beberapa hal sering kalah bersaing jika dibandingkan dengan Negara lain  yang sudah lebih dahulu maju sekalipun pada tingkat regional (kawasan Asia). Sekalipun demikian tentunya kita masih punya satu sikap yakni optimis untuk dapat mengangkat SDM tersebut. Salah satu pilar yang tidak mungkin terabaikan adalah melalui pendidikan non formal.

Rendahnya SDM kita tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah. Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh banyak hal, misalnya ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan yang melilit kehidupan keluarga, atau bisa saja disebabkan oleh angka putus sekolah (drof out), hal yang sama juga disebabkan oleh faktor ekonomi.

Oleh sebab itu, perlu menjadi perhatian pemerintah melalui semangat otonomi daerah adalah menggerakan program pendidikan non formal tersebut, karena UU Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara lugas dan tegas menyebutkan bahwa pendidikan non formal akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka mewujudkan pendidikan berbasis masyarakat, dan pemerintah ikut bertanggungjawab terhadap kelangsungan pendidikan non formal sebagai upaya untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun. Penuntasan wajib belajar 9 tahun ini merupakan upaya strategis dalam membangun bangsa ke depan yang lebih bermartabat.

Faktor Lainnya adalah Ekonomi

Dalam situasi menghadapi problem kemiskinan masyarakat Indonesia yang selama ini tak kunjung terentaskan. Dan belum terealisasikannya secara  maksimal anggaran pemerintah 20 persen untuk alokasi dana pendidikan. Hal ini membuat anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu semakin sulit untuk mendapatkan hak akan pendidikan yang layak. Tidak terkecuali kondisi tersebut juga dialami oleh anak-anak warga miskin yang berada di beberapa wilayah pingiran kota.

Karena penghasilan orang tuanya sangat kecil maka kondisi anak-anaknya banyak yang mengalami kerentanan putus sekolah bahkan banyak juga yang sudah drop out. Kondisi seperti di atas bila dibiarkan terus menerus  akan kehilangan satu generasi pada masa yang akan datang. Anak sebagai generasi penerus keluarga, masyarakat dan bangsa dan sumberdaya pengerak pembangunan utama pada masa yang akan datang haruslah memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, agar anak-anak bisa tumbuh dan berkembang secara wajar.

Pentingnya memperhatikan peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan, berbagai pihak baik pemerintah maupun elemen masyarakat telah melakukan langkah-langkah konkrit. Aksi mereka terfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan. Dari sini muncul berbagai jenis dan jenjang pendidikan dengan ragam corak dan nomenklatur yang dibuatnya. Kita mengenal: Sekolah plus (Unggulan, Terpadu), Fulday School, Boarding School yang merupakan pendidikan formal. Di luar sekolah formal, muncul konsep Homeschooling, Rumah Belajar, Sekolah Alam (School of Universe), Sekolah Batutis (Sekolah Baca Tulis), Kandank Jurank yang digagas Dikdoank, Warung Ilmu, Taman Pintar dan sebagainya.

Model-model pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal tersebut berorientasi pada layanan optimal terhadap masyarakat yang membutuhkan sarana pendidikan yang berkualitas. Menyertai model-model pendidikan sebagaimana disebut di atas, pemerintah melakukan terobosan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yakni melalui program Indonesia Pintar. Program ini, harapannya dapat terbentuk manusia Indonesia yang memiliki intelektual, mental, emosional dan spiritual yang cerdas, guna membangun bangsa. Implementasi Indonesia Pintar diwujudkan melalui program Mobil Pintar, Motor Pintar, Rumah Pintar dan Perahu Pintar.

Rumah Pintar Sebagai Inovasi Pendidikan

Salah satu program yang menarik untuk dibincangkan lebih jauh dalam kerangka inovasi pendidikan menuju Indonesia Pintar adalah Rumah Pintar. Alasannya karena Program Rumah Pintar yang merupakan implementasi dari Program Indonesia Pintar ini, secara konsep dalam ukuran pendidikan nonformal nampak sudah ideal disamping memang program Rumah Pintar ini lagi booming dirintis dan mendapat dukungan dari pemerintah. Hingga saat ini, program dimaksud sudah berjumlah 252 buah Rumah Pintar tersebar di pelosok tanah air.

Namun pada tataran praktis perlu dilakukan inovasi pengembangannya karena tidak secara serta merta dapat dipraktekkan di berbagai tempat. Mengingat, konsep rumah pintar yang sudah ada perlu ditopang dengan anggaran dana yang besar. Karenanya cukup sulit untuk didirikan oleh masyarakat, terkecuali jika ada dukungan dari pemerintah ataupun kalangan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan dan memiliki modal yang besar. ** Wawan Ahmad Ridwan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.