Jalaluddin Rumi Semua Manusia Pasti Gelisah dalam Shufi Cinta Part-4

Jalaluddin Rumi Semua Manusia Pasti Gelisah dalam Shufi Cinta Part-4
0 211

SEMUA Manusia Pasti Gelisah: Tanpa disengaja, saya membuka suatu web dengan nama Jagokata.com. Di antara sekian banyak tulisan yang berbau sastra dan memiliki kedalamanan makna nuraniyah (shofis) yang ditampilkan web ini, adalah kata-kata mutiara Syeikh Jalaluddin Rumi. Di web ini, tentu mungkin banyak kalimat mutiara lain yang ditampilkan selain Jalaluddin Rumi.

Bagi saya sendiri, Jalaluddin Rumi adalah Penyair Shufi Falsafi, ahli hukum, sarjana Islam dan teolog dunia Islam. Sastrawan asal Persia ini, kini tampil bukan hanya dikenang sebagai susastra dunia, yang tanpa batas, tetapi, selalu dikaji dalam nokhtah ilmu seperti fiqih, filsafat dan tasawuf. Saya membaca tulisan mutiara di web ini pada tanggal 13 Desember 2016, pukul 22.31. Di antara kalimat pendek Rumi yang saya baca dari web dimaksud adalah:

“Meski aku selalu diam dalam tenang seperti ikan di air, tetapi, sesungguhnya aku seperti sebuah ombak besar dalam sebuah lautan yang penuh gelombang”. Dalam kalimat lain, ia menyatakan bahwa: “Betapa bahagia saat kita duduk di istana, kau dan aku, dua sosok dan dua tubuh namun hanya satu jiwa, kau dan aku. (Jalaluddin Rumi)

Memahami Kedalaman Makna Sastra Jalaluddin Rumi

Kalimat Jalaluddin Rumi di atas, jika dianalisa lebih jauh, tentu tidak sependek kalimat yang tertuang didalamnya. Dalam kasus-kasur tertentu, kalimat ini tampaknya memiliki makna penting. Yang hendak disampaikan Jalaluddin Rumi, bahwa pada hakikatnya, manusia selalu berada dalam posisi yang selalu resah dan gelisah. Dan itu berlaku bagi siapapun. Yang membedakan satu manusia dengan manusia lain, dengan nalar tulisan Rumi tadi, hanya terletak pada ukuran dan derajat atau tingkat kesusahan yang dihadapi serta solusi yang ditampilkannya.

Rumi tampaknya ingin mengatakan bahwa, bagaimana dirinya yang didapuk sebagai shufi besar dan dikenal sangat kalem ini, bisa menulis sebuah prase yang secara eksistensial menyatakan dirinya sebagai wujud yang juga gelisah. Apalagi manusia biasa. Sosok pujaan karena banyak menulis kalimat-kalimat indah ini, secara apik selalu menghentak manusia  yang menyukai sastra termasuk ketika dia menulis kalimat dimaksud.

Apa mungkin ada orang yang percaya kalau Jalaluddin Rumi itu gelisah. Masalahnya sesungguhnya ia sedang gelisah kepada siapa, sosok yang menjadi penerus konsep shufi cinta Rabiatul Adawiyah ini? Silahkan baca lebih jauh karya sastra Rumi dalam edisi lanjutan di lyceum.id. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...