Ibnu Thufail dan Epistemologi Pengetahuan | Intelektual Muslim Part-14

0 104

PEMIKIRAN Ibnu Thufail tentang cara perolehan ilmu pengetahuan, masuk dalam kajian epistemologi. tampaknya tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dijelaskan para filosof sebelumnya, khususnya yang berkaitan dengan kelompok empirisme dan naturalisme. Ia sendiri, sebenarnya tidak terlalu menghiraukan latar belakang epistemologi pengetahuan sejenis ini, sekalipun sangat berbasis Aristotalian yang kadung dianggap paganistik.

Salah satu ciri bahwa Ibnu Thufail, masuk dalam jajaran pemikir yang beraliran Aristotelian, terlihat dari corak dan cara kerja berpikirnya yang menetapkan pengalaman sebagai sumber sekaligus metode berpikir ilmiah. Dia beranggapan, bahwa ilmu pengetahuan hanya akan diperoleh manusia dengan cara mengenal langsung terhadap lingkungan di mana seseorang ada. Pengalaman sendiri hanya akan diperoleh ketika panca indera yang dimiliki manusia, bekerja dengan baik. Tanpa fungsi yang optimal akan fungsi alat indera dimaksud, maka, ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat diperoleh dengan baik.

Cara Memfungsikan Panca Indera

Menarik untuk disebut, bahwa menurut Ibnu Thufail, organ-organ indera manusia akan berfungsi dengan baik, ketika ia memiliki jiwa kebinatangan. Tempatnya, terdapat dalam hati manusia. Hatilah yang menjadi penggerak utama seluruh dinamika kemanusiaan.Hatilah yang mengaktivasi seluruh dinamika manusia. Karena itu, sebagaimana dapat juga dianalisa dari karya Hay Ibn Yakzan-nya, Ibnu Thufail, ingin menunjukkan hati sebagai pusat segala gerakan.

Melalui hati itulah, berbagai data yang diperoleh indera, yang semula seperti kacau, akan mencapai otak. Dari otak inilah, data dimaksud akan disebarkan ke seluruh organ tubuh manusia lewat system syaraf yang sangat kompleks dan secara sistemik menyatu dengan otak manusia tadi. Inilah yang dalam kajian ilmu disebut dengan induksi. Di letak ini pula, Ibnu Thufail layak disejajarkan dengan Aristoteles yang popular dengan konsep induksionismenya.

Dalam perpektif lain, Ibnu Thufail juga menganggap bahwa, otak manusia dapat saja secara langsung memperoleh pengetahuan, melalui cara dan kinerja berpikir. Hasil dari cara kerja berpikir ini, melalui jalur yang sama seperti dalam teori induksionismenya, kemudian disebarkan ke seluruh panca indra. Inilah rumusan lain dalam apa yang disebut dengan deduksionisme. Ibnu Thufail, tampaknya ingin mencoba merumuskan suatu gagasan bahwa pengetahuan hanya akan diperoleh jika kedua model bersatu dalam satu kesatuan perspektif yang lurus. **


Penulis         : Prof. Dr. H. Cecep Sumarna
Penyunting  : Acep M Lutvi
Diterbitkan  : www.lyceum.id

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.