Inspirasi Tanpa Batas

Rumusan Integrasi Ilmu

Integrasi ilmu adalah keniscayaan sejarah kemanusiaa. Tanpa ada usaha untuk memperemukan ilmu dan agama, maka, ancaman kepunahan bagi perkembangan agama menjadi demikian nyata. Tulisan ini mengupas tentang integrasi ilmu dalam kajian filsafat dan agama. Selamat membaca

2 49

Konten Sponsor

Integrasi ilmu dan agama sudah lama didengungkan. Konsep ini bukan saja milik Islam, tetapi milik semua agama. Di antara Agamawan,  banyak yang beranggapan bahwa agama mereka merasa terancam. Terancam perannya oleh perkembangan ilmu itu sendiri. Karena itu, integrasi antara ilmu dan agama adalah suatu keharusan yang sulit diabaikan.

Rumusan integrasi ilmu, menurut saya, mesti bergerak dari dimensi ontologis tentang apa itu ilmu, bagaimana ilmu yang secara ontologis itu dimapankan harus dikonstruk dalam konsep epistemologis sampai pada tingkat untuk apa sebenarnya ilmu harus digali dalam kepentingan umat manusia (aksiologis).

Bagi penulis, integrasi ilmu hampir mirip dengan rumusan Galileo Galilei yang mencitrakan dirinya sebagai seorang iluminatif. Ia adalah cendekiawan yang menginginkan bertemunya kepentingan empirik- rasional (yang menjadi sumber ilmu pengetahuan moderen) dengan apa yang disebut sebagai agama. Suatu konsep yang kadung dianggap dogmatis dan berjarak dengan kepentingan kemajuan.

Galilei menyatakan bahwa capaian yang diperoleh Ilmu pengetahuan, tidak akan mengecilkan keberadaan Tuhan. Ilmu, justru akan dan harus memperkuat eksistensi Tuhan. Seorang iluminasi justru harus mampu mendengar suara Tuhan bukan hanya dari dalam gereja, Sinagog, Pura dan Masjid. Seorang Ilmuan, termasuk yang Muslim, menurut saya harus mampu mendengar syahdunya suara Tuhan dalam musik alam semesta. Alam semesta karena itu, harus dan akan dipandang sebagai awal dari pencarian manusia menuju Tuhan.

Hal ini persis seperti apa yang dirasakan Galileogalilei sebagaimana direkam Dan Brown (2000), yang merasakan hadirnya suara Tuhan, ketika teleskop yang digunakannya mampu memperlihatkan planet- planet berputar diangkasa yang luar biasa. Ia mengatakan bahwa, tidak mungkin alam semesta bergerak secara teratur, jika tidak ada pengatur utama. Tidak mungkin alam bergerak secara ritmis, jika tidak didirigeni oleh pencipta dan pengelola kesemestaan. Pengelola kesemestaan ini, dalam bahasa masyarakat Muslim sering disebut dengan istilah Allah.

Relasi Ilmu dan Agama

Dalam nalar dan pengertian di atas, penulis ingin menyatakan bahwa ilmu bukan musuh agama. Atau sebaliknya, agama bukan musuh ilmu pengetahuan. Keduanya adalah rekanan yang sama- sama terus berusaha untuk menciptakan simetri dan keseimbangan. Ada surga dan neraka. Ada siang dan malam. Ada pagi dan petang. Ada hujan dan kemarau. Ilmu dan agama tidak seperti hujan dan kemarau atau siang dan malam.

Tetapi, ia selalu bersama- sama bergembira dalam simetri Tuhan. Pertandingan di antara keduanya tidak akan pernah berakhir antara terang dan gelap. Tidak mungkin hanya dimenangkan agama mengalahkan ilmu. Atau sebaliknya. Dimenangkan ilmu mengalahkan agama. Tetapi, harus bergerak dalam wujud yang sama-sama menang dalam kerangka menuju Tuhan.

Karena itu, dalam anggapan penulis, harus ada upaya untuk mensinergikan pikiran kaum agamawan dengan kaum positivis. Nilai etik yang dianggap subjektif oleh kaum positivis tetap harus dianggap memiliki nilai idealnya untuk dikaji. Ilmu dalam pengertian ini, objeknya tidak hanya empiris dan yang rasional. Ilmu bagaimanapun harus mampu mencakup sesuatu yang meta empiris dan supra rasional.

Namun, dalam anggapan penulis, tampaknya diperlukan epistemologi pengetahuan yang sedikit banyak berbeda dengan epistemologi yang hanya mengandalkan dimensi-dimensi rasional-sensual dan empiris. Sumber pengetahuan juga sama. Harus diakui ada yang bersipat empiris dan rasional. Dua soal ini dibutuhkan untuk memenuhi hajat manusia dalam karakter fisik dan biologi diri sebagai manusia itu sendiri.

Manusia dalam artifisial sebagai makhluk biologis yang memiliki keinginan, perasaan dan sikap. Di luar itu semua, ada sumber lain, di luar dua sumber tadi. Sumber lain itu, bisa wahyu, bisa juga intuisi yang melahirkan ilham dan irhas. Ilmu, harus dapat difahami sebagai alat menuju maghfirah Tuhan.

Menuju sesuatu yang suci dan yang permanent sekaligus imanent, menuju kepada wujud yang adikuat dan tentu untuk menempatkan diri pada tempat yang sakral di sisi Tuhan. Artinya, secara aksiologis, ilmu dianggap tidak bermanfaat andaikan ilmu itu tidak mampu membawa manusia menuju Tuhan.

Rumusan Dilematik Integrasi Ilmu

Karena itu, jika rumusan integrasi ilmu harus benar-benar terjadi, maka, manusia sebenarnya tidak berada dalam otoritas tunggal untuk melahirkan ilmu. Sumber ilmu adalah Tuhan. Tetesan keilmuan Tuhan yang diberikan Tuhan kepada manusia, sejatinya hanya dibutuhkan untuk membaca qudrah, iradah dan masyi’ah Tuhan. Jadi, sebetapapun tingginya nilai keilmuan seseorang, ia tetap tidak akan menempati posisi sebagai puncak kemanusiaan, jika ilmu yang diraihnya tidak mampu membawa dirinya menuju Tuhan. Jika rumusan integrasi ilmu seperti itu adanya. Maka, kita harus mampu membuat relasi dengan apa yang disebut dengan ilmu dan apa yang disebut nilai ketuhanan.

Ilmu dan Pembentukan Rasa Keimanan

Dan relasi pertama menurut saya, ilmu apapun itu bentuknya, harus mampu membentuk rasa keimanan yang implementasinya diwujudkan ke dalam bentuk ibadah yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut dengan takwa.

Jika rumusan tawhid berarti dasar atau fondasi ketasliman, maka ibadah atau ketakwaan adalah jalan menuju tercapainya konsep keimanan. Di kalangan ahli teologi Islam, iman dalam diri seseorang, akan terlihat apabila ia mampu menunjukkan amal perbuatannya yang kita sebut ibadah atau ketakwaan.

Relasi kedua dari keimanan kepada Allah adalah ilmu pengetahuan. Ilmu adalah kerangka teoretis tentang sejumlah pengetahuan manusia. Ilmu, diperoleh manusia melalui fakultas inderawi dan dapat dibenarkan oleh logika rasional. Ilmu pengetahuan dapat mendorong manusia untuk memiliki jumlah kemampuan melakukan proses generalisasi yang berimplikasi pada penguasaan teknikalisme (yang kita sebut teknologi).

Jika iman berarti fondasi, ibadah atau ketakwaan berarti jalan, maka ilmu pengetahuan adalah alat yang dapat digunakan orang untuk menyepurnakan keimanan dan ketakwaan. Dengan kata lain, ilmu bukanlah tujuan, apalagi untuk dijadikan Tuhan. Ia adalah cara, alat dan metode untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara mengetahui hukum-hukum yang terdapat di dalam alam, yang dianugerahkan Tuhan hanya untuk manusia. Secara simplistik, rumusan integrasi keilmuan, berdasarkan hasil renungan saya dapat terlihat dalam diagram berikut:

Pola integrasi sebagaimana saya simplikasi tadi, sejatinya berupaya untuk mengkompromikan antara Iman, takwa dan Ilmu Pengetahuan. Nalar ini, jika kita mengutif M. Dawam Rahardjo (1994), Nurcholish Madjid (1996), Azyumardi Azra (2001), Jalaludin Rahmat (1991) dan M. Naquib Al Attas (2001), semakna dengan kata ulul albab seperti sering al Qur’an informasikan. Dalam bahasa sehari- hari orang Indonesia, kata dimaksud dapat pula disandingkan dengan istilah cendekiawan.

Keterangan tentang makna ulil albab, dapat dilihat misalnya dari keterangan al Qur’an surat Al Baqarah [2]: 269, Au Imran [3]: 190-191, Yusuf [12]: 111, Shad [38]: 43 dan Az Zumar [391: 21. Berdasarkan ayat-ayat dimaksud, ciri dari orang yang disebut dengan ulul al bab adalah: mind (mempunyai pemikiran), heart (mempunyai wawasan jauh ke depan), insaight (mempunyai wawasan jauh ke depan), wisdom (mempunyai kebijaksanaan) dan understanding (mempunyai pemikiran dan pengetahuan).

Ulul Albab Bentuk Nyata Integrasi Ilmu

Atas asumsi-asumsi tadi, maka cendekiawan adalah mereka yang memiliki “otak berlapis-lapis” dan sekaligus mempunyal kepekaan yang tinggi terhadap problematika hidup di lingkungan sekitarnya. Ayat-ayat tadi, juga telah mempertegas bahwa Al Qur’an tidak pernah menempatkan kaum cendekiawan sebagai resi pertapa yang harus berjarak dengan berbagai kegiatan termasuk dalam lapangan politik dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Inilah hakikat keimanan. Ia cerdas secara intelektual, sekaligus cerdas secara sosial dan spiritual. Inilah yang secara teoretik-konseptual, hendak saya bangun dari seluruh citra dan keadaan di lingkungan mahasiswa, paling tidak yang saya ajar.

Ciri ulul albab yang demikian, mengharuskan kaum ini agar setiap perilakunya memiliki sifat dan karakter human transformer (manusia yang memiliki kemampuan untuk mengubah sesuatu), khususnya dalam pandangan-pandangan duniawi dalam arti fisik, dan nilai-nilai ideal dalam seluruh sikap praktisnya dalam kehidupan. Ciri ini mesti diperkuat dengan ciri lain, yakni human concern (manusia yang fokus) ikut serta menyelesaikan problem-problem kemanusiaan dengan cara memberikan respon yang cepat dan tepat pada segala dinamika yang berkembang di kalangan masyarakat.

Dengan ciri ini, maka seseorang dapat disebut sebagai cendekiawan, sebagai ilmuan, sebagai fakar, justru apabila dia mampu mengkombinasikan dimensi fisik sensual (ilmu pengetahuan) dengan dimensi ruhiyah (iman) yang jalannya adalah ketakwaan. Ilmu harus mampu mendorong manusia menuju Tuhan, dan ia tidak diperbolehkan untuk menjadi Tuhan.

Ilmu pengetahuan yang demikian, tampaknya yang sulit kita peroleh pada hari ini, pun mungkin oleh kebanyakan orang Muslim yang secara akademik telah belajar cukup banyak dalam berbagai lintas disiplin dan keilmuan. Problem yang dihasilkan atas moderenisme ilmu pengetahuan yang demikian, akan terlihat dari hancurnya manusia dalam jaringan alam dan rusaknya sistem kemanusiaan itu sendiri.

Transendentalisasi Alam dalam Rumusan Iluminasi

Alam tidak lagi difahami sebagai sesuatu yang memiliki aspek sakral dan transenden, tidak lagi difahami sebagai simbol terendah Tuhan, tetapi alam malah telah ditempatkan sebagai pelacur yang hanya fisis sensual, dan manusia demikian dibebaskan untuk melakukan eksploitasi atasnya. Konsep tentang alam yang demikian, secara diametral berbeda dengan konsep agama termasuk Islam yang menganggap bahwa kosmos adalah simbol terendah dari realitas yang lebih tinggi, yakni Tuhan. Dalam kaidah agama, struktur kosmis mengandung pesan spiritual yang bersipat sakral.

Oleh karena itu, penguasaan terhadap alam dengan berbagai rumus di atas, di satu sisi dapat dipandang memiliki akar ketuhanan. Dalam perspektif agama, alam adalah wahyu yang sumber asalnya sama dengan agama itu sendiri, yakni Tuhan. Agama dan alam merupakan manifestasi dari intelek universal, yakni Tuhan. Logos dan kosmos sendiri merupakan bagian integral dari seluruh alam makna, tempat manusia hidup dan mati. Tempat di mana manusia harus mengabdikan dirinya secara total, tentu untuk kemaslahatan dirinya.

Bagi manusia moderen, konsep alam yang demikian, tidak lagi digunakan. Alam kadang dianggap sebagai benda mekanik yang mati tanpa makna. Padahal, setiap fenomena alam pasti memiliki makna yang dalam istilah al- Qur’ar disebut dengan ayat (ciri) adanya Tuhan. Jika fenomena ini dikaitkan dengan kajian inti Ada filsafat, misalnya mengutif tulisan Stephen Palmquis (2002), alam sebenarnya memiliki pertalian dengan dimensi metafisik [sebagai realitas puncak] yang pengkajiannya dilakukan melalui dimensi ontologis [yang mengkaji tentang makna Ada].

Karakter Ilmu

Atas nalar seperti itu, gagasan Nasr yang menyebut disharmoni antara manusia dan alam, diakibatkan karena menjaraknya manusia dengan Tuhan, menjadi nyata. Akibat negatif atas rumusan alam yang demikian, alam telah menunjukkan gejala perlawanan terhadap manusia.

Karakter ilmu sebagaimana saya maksudkan tadi, akan mengokohkan pemahaman agar manusia diletakkan sebagai pusat (teosentris) kesemestaan. Titik tolak (starting point) dan sekaligus titik tujuan (ultimate goal). Hal ini bisa diikhtiarkan dengan melakukan pembinaan atas keseluruhan sifat-sifat hakiki (potensi fitrah) yang dimiliki manusia ke arah pembentukan kepribadian yang sempurna. Kesempurnaan manusia ditunjukan oleh akhlaknya.

Selanjutnya, pribadi yang berakhlak adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai (baik ilahiyal maupun insaniyah). Kemampuan tersebut, jika dilakukan dengan baik dan benar dari keseluruhan proses pengetahuan, sebenarnya dapat dimiliki dan dilakukan oleh setiap pribadi dengan cara melakukan tajkiyah al-nafs (penyucian diri, melalui perenungan [kontemplasi filosofis], riyadhah al-nafs (latihan kepribadian) dan mujahadah (kesungguhan dalam berusaha) atas realitas alam yang dinamis yang bersumber dari wujud yang kokoh (Tuhan). Kegiatan inilah yang sesungguhnya merupakan inti dari kegiatan keilmuan dalam literatur Islam yang mampu saya fahami.

Muatan Materi Integrasi Ilmu

Muatan materi ilmu, dengan demikian harus mencerminkan pemahaman bahwa semua ilmu, termasuk ilmu alam, merupakan produk Allah (QS. Al-Kahfi: 109 dan al-Isra’; 85). Jika ini mampu dilakukan, maka pelajaran apapun yang diberikan akan mampu menunjukkan:

  • Hakikat pembelajaran yang berorientasi kepada sifat “ketuhanan” baik menyangkut Dzat, Sifat maupun perbuatanNya dalam relasinya dengan manusia dan alam semesta;
  • Hakikat pembelajaran mesti berorientasi pada sifat dan dimensi “kemanusiaan” yang berkaitan dengan haliah pribadi manusia; sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk berbudaya, dan makhluk berakal, dan;
  • Hakikat pembelajaran yang berorientasi kepada dimensi ‘kealaman” sebagai cikal bakal lahirnya ilmu sains itu sendiri. Pikiran tadi, setidaknya diperkuat gagasan Murtadha Mutahhari (1997: 14) yang menyebut bahwa dewasa ini, dibutuhkan tiga persoalan dalam pelaksanaan keilmuan di lembaga apapun itu dilakukan. Ketiga soal dimaksud adalah: 1). Ilmu dapat menjadi alat interpretasi spiritual tentang alam semesta; 2). Pemberlakuan kemerdekaan spiritual, dan; 3). Memberlakukan prinsip-prinsip pokok yang memiliki makna universal yang mengarahkan evolusi masyarakat manusia dengan berbasiskan ruhani.

Inilah beberapa catatan yang mampu saya berikan kepada tim kreatif perumusan Integrasi Ilmu di lingkup IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Semoga tulisan ini, meski disadari banyak lemahnya, dapat sedikit menggugah perasaan kita semua agar kita sama-sama memiliki rasa. Rasa yang selalu Tuhan cipta dalam wujud kasih sayangnya di hati kita. Semoga demikian adanya. Amiin ….. Prof. Cecep Sumarna

  1. Siswanto biasa berkata

    Menurut pendapat saya, rumusan integrasi ilmu merupakan suatu metode penyatuan dari berbagai pengetahuan menjadi satu. Tujuan dari rumusan tersebut agar lebih dekat dengan tuhannya. Untuk itu banyak cara untuk menuju hal kesana.

  2. Dea yusrun hasanah berkata

    Rumusan integrasi ilmu itu harus ada karena rumusan integrasi ilmu adalah alat dan metode untuk mendekatkan diri pada tuhan. Karena ilmu dan agama itu tidak bisa dipisahkan seperti sepasang sendal yang saling membutuhkan satu sama lain. Dan pada kenyataannya tidak mungkin agama mengalahkan ilmu dan ilmu mengalahkan agama.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar