Runtuhnya Kerajaan Pakuan Padjajaran

Runtuhnya Kerajaan Pakuan Padjajaran
0 2.035

Beberapa tahun setelah Nyi Subanglarang melahirkan anak ketiga dari Muhammad Abdullah atau Siliwangi itu meninggal dunia. Eyang Prabu Siliwangi mulai melupakan ikrarnya di depan Ka’bah. Ia malah diinformasikan kembali mengikuti ajaran agama nenek moyangnya mereka yakni Sunda Wiwitan. Inilah petaka baru dan sekaligus tonggak baru dalam kehidupan kerajaan Pdjajaran.

Perjalanan Walangsungsang Memeluk Islam

Ketika Eyang Prabu Siliwangi kembali ke ajaran lamanya, anak tertuanya yang dipersiapkan sebagai putera mahkota kerajaan, yakni Walangsungsang, justru ingin memeluk Islam. Ia seperti terhipnotis ingin memeluk ajaran agama ini, apapun cara dan ceritanya. Tidak tahan memendam keinginannya memeluk Islam, karena dianggap membawa prinsip kesamaan hak dan kedudukan ini begitu sulit dan rumit dilupakan. Akhirnya, iapun menyampaikan niatnya kepada Eyang Prabu Silwangi bahwa dirinya ingin memeluk ajaran agama Islam. Namun ternyata, ia bukan hanya dimarahi, tetapi, bahkan “dilaknat”.

Karena keinginannya yang kuat, ia malah nekat. Suatu malam, di tengah segenap kesenyapan dan kesunyian, Walangsungsang akhirnya pergi meninggalkan Istana. Ia mempelajari ajaran agama Islam kepada Syeikh Nurjati di Cirebon, seorang petapa sakti yang tinggal di Amparan Jati.

Sebelum bertemu dengan Syeikh Nurjati, ia terlebih dahulu bertemu dengan seorang pendeta Budha bernama Resi Danuwarsih–mitra Prabu Siliwangi—. Karena pendeta ini tahu kalau Walangsungsang  keturunan Prabu Siliwangi, maka ia membawanya ke Gunung Dhiyang dan memintanya untuk kembali ke ajaran agama leluhurnya.

Tetapi, ia tetap pada pendiriannya akan memeluk ajaran agama Islam. Ia tidak dapat dicegah. Danuwarsih, malah, menikahkan gadisnya bernama Endang Geulis kepadanya. Melalui pernikahan ini, lahirlah seorang puteri bernama Nyai Mas Pakungwati, yang di kemudian hari menjadi permaisuri Kangjeng Sunan Gunung Djati.

Rarasantang juga Memeluk Islam

Di sisi lain, Rarasantang yang menjadi adik dari Walangsungsang, hidupnya merasa kesepian tinggal sendirian di kerajaan. Ia ditinggal pergi tanpa pamit oleh kakak yang sangat dicintainya. Jerit hati yang tidak tahan itu, menyebabkan ia pada akhirnya pergi juga meninggalkan Istana untuk mencari kakaknya dan berniat memeluk ajaran agama Islam juga.

Kepergian dua puteranya tanpa pamit kepada Eyang Prabu Siliwangi ini, membuat Prabu Siliwangi marah. Ia mengutus Patihnya bernama Arga untuk mencari putra puterinya. Ia dilarang pulang sebelum membawa anaknya. Namun karena ia tidak dapat menemukan putra-puterinya itu, akhirnya, Patih Arga tidak pulang. Ia malah mengabdi di Tajimalela.

Nyi Rarasantang tidak ditemukan sang Patih, karena menurut Hikayat Sunda disebutkan bahwa ia sudah mempelajari ilmu nyilem kepada Nyai Ajar Sakati saat sampai di Tangkuban Perahu. Baju sakti ini bisa membuat Rarasantang berjalan cepat dan tidak mampu diketahui orang lain.

Nyai Sekati memberitahu Rarasantang untuk datang ke  Gunung Cilawung guna bertemu dengan seorang pertapa sakti. Di Gunung inilah Rarasantang berganti nama menjadi Nyai Eling. Dari sini ia melanjutkan perjalanan ke Gunung Merapi. Di Merapi inilah ia bertemu kakaknya –Walangsungsang yang diganti nama menjadi Samadullah—yang sedang memperdalam ilmu tertentu dalam konteks kedigjayaan. Di sini juga, Samadullah menikah dengan puteri Resi Danuwarsi, dan kemudian melanjutkan perjalanan bersama adiknya itu, ke gunung Kumbang untuk bertemua dengan seorang petapa sakti beranama Nagagini.

Nagagini kemudian memberi nama baru kepada Walangsungsang dengan sebutan Karmadullah. Nama lain untuk Walangsungsang adalah Raden Kuncung. Nama ini diberikan kepadanya ketika ia mampu menaklukkan Sanghyang Bang. Dengan nama ini pula, Walangsungsang melanjutkan perjalanan ke Gunung Djati dan menghadap kepada seorang syeikh Muslim bernama Syeikh Datuk Kaffi. Ia adalah seorang keturunan Nabi melalui Fatimah dan Zaenal Abidin. Di sinilah ia mengucapkan dua kalimah syahadat.

Pesantren Panjunan

Setelah menjadi seorang Muslim, Syeikh Datul Kaffi kemudian menyuruh Walangsungsang menuju Kebon Pesisir berikut istri dan adiknya. Di sinilah ia mendirikan pesantren bernama Panjunan. Di sinilah ia diberi gelar dengan sebutan Ki Cakrabumi. Setelah berhasil mengembangkan Pesantren Panjunan, ia diperintahkan untuk menunaikan ibadah haji bersama dengan istri dan adiknya. Saat melaksanakan ibadah haji itulah, Adik Walangsungsang dinikahkan dengan Raja Mesir.

Pernikahan ini telah membuat Rarasantang tidak bisa pulang ke tanah air. Hanya Walangsungsang yang pulang. Menarik untuk disebut bahwa ketika Rarasantang hamil tua, suaminya yang tidak lain sebagai Raja Mesir, justru meninggal dunia ketika berkunjung ke Roma. Dari hasil pernikahan ini pula Rarasantang memiliki anak kembar yakni Syeikh Syarief Hidayatullah dan Syarief Arifin.

Ketika takhta kerajaan Mesir diturunkan kepada Syeikh Syarief Hidayatullah, ia menolak dan memberikan kepada adiknyam yakni Syarief Aripin. Syarief Hidayatullah memiliki dakwa Islam ke Nusantara untuk meneruskan perjuangan Islam. Sampaila ia ke Muara Jati dan bertemu Uwaknya –Walangsungsang yang telah berganti nama menjadi Pangeran Cakrabuana–. Di sinilah ia kemudian dinikahkan dengan puteri Uwanya itu yang diberinama Nyi Mas Pakungwati.

Kerajaan Islam Baru di Cirebon

Setelah beberapa waktu lamanya, Syarief Hidayatullah kemudiang diangkat menjadi Waliyullah dengan sebutan Gunung Djati dan diberi gelar sebagai Inkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Puba panetep Panatagama Awliya Allah Kutubi al zaman, khalifat al Rasulullah. Setelah itu, ia kemudian menggantikan Pangeran Cakrabuana dan mendirikan nama baru dengan sebutan Kesultanan Cirebon. Dialah yang kemudian mendirikan Dewan Wali Sembilan atau Wali Sanga yang dituntut menyebarkan Islam di Pulau Jawa khususnya dan di Nusantara umumnya.

Gerakan dakwah inilah yang kemudian membuat penduduk Jawa pada umumnya memeluk Islam, tidak terkecuali masyarakat yang mendiami kerajaan Padjajaran. Akibat keterdesakan ini, banyak para pejabat tinggi kerajaan Padjajaran kemudian mengungsi untuk tetap mempertahankan ajaran agamanya ke daerah Banten dan sebagian daerah Garut yang disebut sebagai masyarakat Badui.

Lenyapnya Kerajaan

Namun demikian, ada juga kelompok pejabat yang tetap bertahan di kerajaan Padjajaran. Inilah yang membuat Eyang Prabu Siliwangi bersedih hati. Prabu siliwangi kemudian merasa malu tidak mengikuti ajaran Islam yang telah diikuti anak-anaknya dan istri yang dicintainya itu. Namun dia merasa malu jika harus mengikuti ajaran agama yang dikembangkan anak dan cucunya.

Di waktu yang sama, cucunya yang lahir dari Nyi Rarasantang yang menikah dengan Raja Mesir, yakni Syeikh Syarief Hidayatullah, secara bathin diketahui datang ke Pakuan Padjajaran untuk mengajak dirinya memeluk Islam. Dalam hati dan pikirannya, tidak mungkin dia memeluk Islam.

Akhirnya, dengan sebilah Ecis Sakti, ia berjalan ke alun-alun padjajaran dan membaca mantra aji sikir dan menancapkan Ecis itu ke tanah. Seketika itu pula, kerajaan Padjajaran lenyap dan sirna seolah ditelan bumi. Ecis itu sendiri berubah menjadi rumput ligundi hitam. Ia bersama rakyatnya kemudian dipercaya menjadi penghuni alam ghaib dan dianggap berubah menjadi harimau dengan pemimpin utamanya tentu Eyang Prabu Siliwangi. Selamat Jalan Eyang …. By. Prof. Dr. H. cecep Sumarna –berbagai sumber sejarah Sunda

Komentar
Memuat...