Rusia Menguasai Penuh Kekuatan Senjata Militer

Rusia Menguasai Penuh Kekuatan Senjata Militer
0 2.798

Presiden Vladimir Putin, menyatakan bahwa kekuatan militer negaranya, kini menjadi negara dengan teknologi terkuat di dunia. Bahkan lebih kuat dibandingkan dengan agresor potensial. Tentu yang dimaksud aggressor di situ adalah Amerika Serikat dan sekutunya.

Time Edisi 22 Desember 2016 yang kami kutif dari Tempo.co merilis bahwa: Negara Rusia akan kembali Berjaya. Kejayaan itu, sebagaimana disampaikan Putin, ditunjukkan salah satunya dengan kekuatan persenjataan militernya. Inilah pernyataan Putin yang disampaikan saat melakukan rapat evaluasi akhir tahun kabinetnya. Rapat itu, dihadiri Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu.

Suriah dalam Perebutan Kekuasaan Asing

Pernyataan Putin di atas, seolah ditujukan kepada Barat yang masih dipimpin Amerika Serikat. Klaim ini, muncul justru di tengah segenap ketegangan yang meningkat tajam antara Rusia dan Barat. Ketegangan itu, khususnya dalam menangani perang di Suriah. Rusia yang berupaya melakukan aneksasi di Crimea pada 2014, dan keterlibatan negara ini dalam konflik di Timur Ukraina, seolah mengukuhkan bahwa negaranya berada dalam kekuatan militer penuh.

Rusia melakukan operasi militer melalui angkatan udara di Suriah, dalam kepentingan mendukung Bashar al-Assad sebagai Presiden Syah Syuriah. Di sisi lain, Amerika Serikat menunjukkan sikap marah yang besar atas apa yang dilalukan Rusia. Mengapa? Karena Amerika justru berada dalam posisi yang sebaliknya.

Seperti biasa dan umum dilakukan Amerika Serikat saat terjadi konflik dengan Rusia, ia mengajak NATO untuk melakukan perlawanan padanya. Rusia melalui Putin, sadar akan situasi seperti itu. Karena itu, Putin ingin memperkuat di berbagai penjuru negaranya. Menjadi dapat dimengerti mengapa Putin memerintahkan angkatan bersenjatanya untuk mengikuti setiap gerakan militer di sepanjang perbatasan serta perubahan dalam situasi militer dan politik global. Ia menyatakan Rusia harus cepat menyesuaikan rencana untuk menetralisasi ancaman potensial terhadap negaranya.

Militer Rusia sendiri, telah sepenuhnya melindungi perbatasan dengan sistem anti-rudal peringatan dini. Hal lainnya adalah melakukan peningkatan jumlah penerbangan pesawat tak berawak NATO di sepanjang perbatasan Rusia. Dengan demikian, ia berencana mengirim lebih banyak pasukan ke barat Rusia, tenggara, dan wilayah Arktik. Putin meminta seluruh angkatan militer Rusia tetap waspada dan tak boleh lengah walaupun hanya sesaat, mengingat ancaman yang boleh jadi datang dengan cepat.

Melerai Perang Suriah tanpa Amerika dan Inggris

Untuk menunjukkan diri bahwa Rusia telah memiliki segenap kesiapan dalam soal militer, ia enggan mengajak Amerika dan Inggris dalam melerai perang di Suriah. Putin malah hanya mengajak Iran dan Turki. Ketiga negara ini, membangun aliansi baru untuk mengakhiri perang di Suriah.

Seperti diketahui bersama, bahwa sejak Assad –yang cenderung Syi’ah—menjadi Presiden, negara ini tidak pernah berhenti dari perang saudara. Perang ini sudah berlangsung selama enam tahun. Menteri luar negeri dan menteri pertahanan dari ketiga negara kemarin, 20 Desember 2016, bertemu untuk membahas upaya penyelesaian damai di Suriah tanpa melibatkan Amerika Serikat dan Inggris.

 Inilah deklarasi Moskow. Deklarasi gagasan Rusia ini, berisikan kerangka kerja untuk mengakhiri konflik di Suriah. Inggris dan Amerika dianggap Rusia tidak memiliki pengaruh nyata di Suriah. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pihak-pihak yang mengikuti pertemuan dan membuat kesepakatan ini adalah pihak yang memiliki pengaruh nyata di Suriah. Hal ini tidak terjadi pada Inggris dan Amerika Serikat. ** Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...